Sabtu, 29 Januari 22

Breaking News
  • No items

Catatan Pulang Kampung (Bagian 3)

Catatan Pulang Kampung (Bagian 3)

Oleh: Imam Shamsi Ali, Presiden Nusantara Foundation, New York

 

Hari ketiga di Makassar saya dijadwalkan menjadi pembicara halal bihalal di rektorat UIN (Universitas Islam Negeri) Makassar. Sebuah kehormatan karena undangan itu langsung datang dari rektor UIN sendiri. Sebelumnya saya telah beberapa kali menyampaikan kuliah umum (public lecture) di tempat ini. Acara ini dihadiri oleh para wakil rektor, para dekan dan guru/guru besar, serta petinggi dan mahasiswa pasca sarjana UIN. (Baca: Catatan Pulang Kampung (Bagian 1))

Dalam ceramah saya karena masih dalam suasana halal bihalal itu saya menyampaikan banyak hal. Tapi sebagaimana harapan banyak masyarakat di setiap kesempatan kepulangan saya, juga saya sisipkan cerita perkembangan dakwah dan Islam di Amerika. Biasanya harapan jamaah kepada saya lebih besar untuk mengetahui perkembangan Islam di Amerika ketimbang ceramah-ceramah dengan tema Islam lainnya.

Di antara hal-hal penting yang saya sampaikan adalah sebagai berikut:

Pertama, kembali mengingatkan bahwa saat ini ada kecenderungan sebagian umat untuk cepat menghakimi orang lain, bahkan sesama Muslim, di saat terjadi perbedaan pendapat. Satu di antara contoh kecil adalah ucapan selamat “minal aidin wal faizin” yang justru oleh sebagian sebagai ungkapan bid’ah karena nabi tidak pernah mengungkapkannya. (Baca: Catatan Pulang Kampung (Bagian 2))

Padahal sungguh banyak hal yang terkait dengan ibadah ritual sekalipun yang nabi tidak lakukan secara literal, tapi secara substantif nabi justru melakukan dan menganjurkan umatnya untuk melakukannya. Dan hal itu terkadang diterjemahkan dalam bentuk kultur dan tradisi setempat. Sungkeman kepada orang tua dalam tradisi Jawa sejatinya adalah aktualisasi dari ayat “wakhfidh lahumaa janaahaz dzulli minar rahmah” (rendahkan sayap kerendahan hati ke hadapan keduanya dalam kasih sayang).

Maka ucapan Idul Fitri, selama itu memiliki makna yang positif, doa dan harapan, lalu kenapa harus dibid’ahkan? Minal aidin wal faizin adalah doa dan harapan agar bulan Ramadan lalu itu telah membawa kita kembali ke fitrah dan dengannya membawa kita kepada kemenangan dunia-akhirat.

Kedua, saya kemudian mengingatkan empat hal yang Allah ingatkan di akhir ayat 185 Surah Al-Baqarah: “Dan sempurnakan bilangan, dan besarkan Asma Allah atas petunjukNya kepadamu. Dan mudah-mudahan kamu menjadi orang-orang yang bersyukur.

Ayat ini saya elaborasi dengan pemahaman yang mungkin saja bagi sebagian baru, bahkan asing. Sebab saya sangat yakin, dalam memahami Al-Quran diperlukan inovasi-inovasi intelektual, berdasarkan kepada konteks “zamaan dan makaan” (masa dan tempat) terkait. Oleh karenanya spirit Al-Quran yang sesuai dengan segala waktu dan tempat itu lebih dapat dipertanggung jawabkan.

Pesan pertama ayat 185 itu adalah “walitukmikul iddah” (sempurnakan bilangan). Tentu secara fiqh kita memahami bahwa maksud ayat ini agar kita menyempurnakan bilangan Ramadan dalam puasa. Yaitu 29 hari atau 30 hari tergantung keputusan awal dan akhir dari puasa Ramadan yang kita lakukan.

Saya justru memahami ayat ini lebih dari sekadar pemahaman fiqh. Melainkan pemahaman filosofis sosial, menyangkut realita dari hakikat puasa, bahkan Islam yang kita anut. Saya memahami bahwa kata “sempurnakan bilangan” di sini adalah peringatan untuk kita jangan “setengah-setengah” dalam melakukan ibadah. Setengah-setengah dalam melakukan ibadah itu adalah misalnya berpuasa tapi sekadar menahan makan minum. Puasa setengah-setengah seperti inilah yang diancam kesia-siaan oleh Rasulullah SAW, “Boleh jadi ada orang yang berpuasa tapi yang didapatkan dari puasanya tidak lebih dari lapar dan dahaga semata” (hadits).

Lebih dari itu bahkan saya memahami ayat ini sebagai pengingat agar umat ini berislam secara sempurnah, tidak setengah-setengah. Bukankah memang kita diingatkan,”Wahai orang-orang yang beriman masuklah kamu ke dalam Islam secara kaafah (sempurna)”. Beragama dan memahami agama setengah-setengah (parsial) inilah yang kerap kali menjadi penyebab tumbuhnya sikap merasa paling tahu alias kesombongan dalam beragama. Akibatnya terjadilah sikap ekstrim atau radikal dalam beragama.

Pesan kedua akhir ayat 185 Al-Baqarah adalah: “Wa litukabbiru Allah (besarkan nama Allah)”. Pesan ini menjadi sangat krusial ketika dunia semakin hanyut dalam pelukan materialisme. Ketika Tuhan tidak lagi memiliki kebesaran dalam jiwa-jiwa manusia. Akibatnya manusia kehilangan pegangan hidupnya. Manusia akan terbawa arus gelombang dunianya. Moralitas tidak lagi menjadi penting, dan manusia cenderung berprilaku sesuka hati.

Di sinilah puasa menjadi pembuka kehadiran kembali “kebesaran Ilahi”. Umat Islam menahan makan dan minum, serta kesenangan dunia lainnya sebagai simbolisasi pengecilan hawa nafsu demi membesarkan “Allah” dalam hidupnya. Oleh karenanya perintah “membesarkan Allah” dengan petunjukaNya menjadi hasil utama dan terutama puasa. Dan itu pula yang diekspresikan oleh Al-Quran dengan: “la’allakum tattaqun (mudah-mudahan kamu bertakwa)”.

Pesan terakhir dari akhir 185 Al-Baqarah adalah: “La ‘allakum tasykurun” (mudah-mudahan kamu bersyukur). Pesan ini begitu sangat relevan karena kunci dari segala pengabdian kita adalah “syukur”. Bahwa kita sholat, puasa, haji, dan seterusnya semuanya dibangun di atas kesadaran syukur itu.

Diriwayatkan bahwa suatu ketika istri Rasulullah SAW Aisyah terkagum-kagum dengan kehebatan ibadah Rasulullah dan kehebatan beliau dalam menahan hawa nafsunya. Maka sang isteri bertanya,”Kenapa engkau harus melakukan semua ini yang Rasulullah? Bukankah engkau telah dijaga dari segala dosa bahkan dijamin masuk syurgaNya? “. Mendengar itu Rasulullah SAW menjawab dengan jawaban yang singkat,”Tidakkah seharusnya saya menjadi hamba yang bersyukur?”

Segala ibadah dan pengabdian yang kita lakukan dalam hidup jika dibangun di atas dasar kesyukuran dengan sendirinya akan menjadi enteng dan manis dalam melakukannya. “Halawatul ibadah” bahkan “halawatul
Iman” akan terasa jika semua itu dilakukan karena syukur. Bukan sekadar deretan atau tumpukan kewajiban yang dianggap membebani.

Ceramah halal bihalal yang saya sampaikan di UIN ini mendapat penerimaan yang baik. Walaupun ada juga yang memahaminya secara simplistik dan literal. Sehingga penafsiran terhadap ayat Al-Quran yang saya sampaikan dianggap keliru. Terlebih lagi ketika saya dengan terbuka menyampaikan bahwa dialog dalam dunia global saat ini menjadi tuntutan zaman, termasuk dengan sebuah segmen masyarakat yang telah divonis sebagai musuh abadi, Yahudi. Salah seorang hadirin mempertanyakan,”Apa kebaikannya membangun komunikasi dan dialog dengan Yahudi?”

Pertanyaan ini sekaligus secara tersembunyi (implisit) menyampaikan bahwa di kalangan sebagian umat ini memang seolah menjadi keputusan jika Yahudi adalah musuh abadi. Padahal Islam datang membawa rahmah bagi seluruh alam. Jangankan manusia. Hewan saja diharapkan dilihat dengan pandangan “rahmah” tadi.

Pertanyaan beliau saya jawab dengan sebuah pertanyaan pula,”Pernahkah anda bertemu orang Yahudi? Jika tidak lalu apa justifikasi yang anda pakai dalam mengambil kesimpulan itu?”

Akupun sadar bahw sikap penghakiman seperti ini ternyata menjadi bagian dari penyakit kronis umat. Jangankan orang lain. Sesama Muslim saja dengan mudah menghakimi siapa yang hebat dalam iman dan siapa yang lemah iman, bahkan siapa yang ahli syurga dan siapa pula yang ahli neraka. Wal’iyadzu billah!

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.