Minggu, 22 Mei 22

Catatan Pulang Kampung (Bagian 2)

Catatan Pulang Kampung (Bagian 2)

Oleh: Imam Shamsi AliPresiden Nusantara Foundation, New York

 

Sekembali dari kampung kelahiran, Kajang Bulukumba, saya bersiap-siap menemani seorang da’iyah, mujahidah Al-Quran, Dr. Ir. Hj. Andi Majdah M. Zain Agus Arifin Nu’mang, MSi. Beliau adaah sosok wanita teladan, isteri pejabat yang berwawasan rabbani, berilmu salehah, da’iyah dan mujahidah. Beliau isteri Wakil Gubernur (Wagub) Sulsel, Bapak Agus Arifin Nu’man, sekaligus ketua puluhan organisasi Islam dan kemasyarakatan, serta rektor Universitas Islam Makassar. (Baca: Catatan Pulang Kampung (Bagian 1))

Dari sekian organisasi yang beliau pimpin, barangkali Forum Kajian Cinta Al-Quran (FKCA) menjadi salah satu yang terpenting dan prioritas dalam perjuangan baliau. FKCA adalah kendaraan beliau dan tim dalam menebarkan cahaya Al-Quran ke seluruh pelosok daerah. Sungguh jihad mulia dari seorang isteri pejabat, yang terbangunn di atas kesadaran bahwa “barokah” bumi hanya akan terbuka jika barokah langit diketuk dengan cahaya KalamNya.

Perjalanan pertama bersama kami adalah menuju daerah kelahiran Bapak Wagub. Perjalanan subuh itu memang mengasyikkan dengan pemandangan persawahan dan pegunungan yang hijau. Juga di sepanjang jalan provinsi itu diperindah oleh tepi laut yang memang indah.

Di pagi hari kami sampai di rumah jabatan Bupati Pinrang. Dengan segala keramahan disambut dengan suguhan kue-kue khas lebaran. Maklum memang masih dalam suasana halal bihalal. Tidak lupa juga saya sebutkan bahwa perjalanan ke Pinrang ini diikuti sekaligus oleh Wagub Sulsel, Bapak Agus Arifin Nu’man, yang juga calon Gubernur Sulsel periode mendatang.

Acara tablig akbar yang dijadwalkan pagi itu akan berlangsung dari jam 10 hingga 12 siang di masjid Agung Pinrang. Oleh karena acara ini diinisiasi oleh Bupati dan akan dihadiri oleh Wagub dapat dipastikan akan menjadi acara besar. Dan benar pengajian ini dihadiri oleh seluruh jajaran Pemda Pinrang, tokoh agama dan masyarakat, akftivis dan tokoh pemuda, bahkan masyarakat setempat.

Dalam tablig akbar dan ceramah halal bihalal ini saya menyampaikan beberapa pesan, yang saya anggap relevan dengan spirit (semangat) pembangunan di Sulsel.

Pertama, sebagaimana saya sering sampaikan di mana-mana bahwa sebagai putra bangsa dan daerah, sejauh langkah berjalan semakin membesarkan kebanggan kepada bangsa dan negara Indonesia. Ini bukan pujian palsu yang diada-adakan. Tapi bagian dari kesyukuran saya untuk menyebutkan karunia besar pada bangsa ini. “Wa amma bini’mati Rabbika fahaddits”.

Tentu banyak hal yang membanggakan saya. Dari kenyataan bahwa Indonesia adalah negara besar, dengan luas geogafis yang dahsyat, dengan dengan penduduk terbesar keempat dunia, kaya sumber daya alam, dan dengan kecantikan alam yang mengagumkan.

Tapi yang terpenting dari semua itu, orang Indonesia atau manusia Nusantara itu adalah orang-orang khas. Kekhasan yang boleh jadi menjadi dambaan orang lain. Bangsa ini adalah bangsa dengan sejarah besar, sejarah kerajaan-kerajaan besar Nusantara. Tapi yang lebih penting dari semua itu adalah bahwa manusia Nusantara itu memiliki karakter tersendiri. Karakter yang santun, ramah, rendah hati, bersahabat, dan gotong royong.

Kedua, bahwa dalam dunia yang diwarnai oleh kekerasan dan permusuhan ini, manusia Nusantara dituntut untuk berada di garda terdepan dalam proses perubahan dunia itu. Dengan karakter bersahabat dan damai, dengan sendirinya putra-putri bangsa ini memiliki amanah besar di atas pundaknya untuk melakukan perombakan dunia dari permusuhan, perpecahan dan peperangan ke dunia yang bersahabat, bersatu dan damai.

Potensi inilah yang menjadikan saya sebagai anak bangsa terus melangkah menuju perubahan itu. Dengan segala kekurangan dan keterbatasan yang saya miliki, saya menjadi kuat dan termotivasi oleh realita di atas. Bahwa saya adalah bagian sekaligus wakil dari bangsa besar dan hebat itu. Dan karenanya kerja-kerja dialog antar agama dan komunitas yang saya lakukan bukan sekadar inisitatif pribadi. Melainkan representasi dari karakter sejati bangsa besar yang terwakili.

Ketiga, mungkin yang paling khusus dari semua kebesaran bangsa ini adalah realita bahwa Indonesia adalah negara dengan penduduk Islam terbesar di dunia. Didukung oleh karakter manusia Nusantara di atas, Muslim Indonesia harus menyadari tugas besarnya untuk mengubah persepsi Islam yang sangat buruk di mata dunia. Islam yang saat ini menjadi agama dengan perkembangan tercepat di dunia memang dipersepsikan sebagai agama yang tidak bersahabat, diktator, terkebelakang, tidak menghormati wanita, minoritas dan HAM. Tentu yang paling nyata dari persepsi itu adalah tuduhan jika Islam adalah agama keras, senang perang, dan agama inspirasi teror.

Sebagai bangsa dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, dan ditopang oleh karakter khas tadi, bangsa ini bertanggung jawab untuk berada di garis kepemimpinan dakwah. Dakwah dengan pemahaman bukan mengislamkan orang lain. Tapi dakwah dengan pemahaman bahwa menyampaikan Islam yang sesungguhnya tidak saja penting bagi umat ini. Tapi sekaligus menjadi penting bagi upaya perdamaian dunia.

Konten ceramah yang hampir sama juga saya sampaikan di beberapa sesi selanjutnya dalam perjalanan itu. Antara lain ceramah halal bihalal ke pengurus Badan Kooedinasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia se-Sulsel dan masjid Agung kabupaten Enrekang.

Dalam perjalanan itu juga saya banyak belajar tentang daerah asal saya. Salah satunya betapa Sulsel itu memiliki potensi besar. Pinrang misalnya ternyata adalah daerah penghasil dan tempat pengelolahan rumput laut terbesar di dunia. Mungkin selama ini tidak terlalu terekspos, tapi bagi saya sebagai putra daerah, sebuah kebanggaan tersendiri.

Perjalanan itu dan beberapa perjalanan ke daerah bersama Bunda Majdah sebelumnya sungguh sangat berkesan, membanggakan dan menginspirasi. Betapa tidak, Bunda Majdah sebagai isteri Wagub itu tiada lelah berkeliling daerah, menembus pelosok-pelosok desa dan kampung membawa cahaya Al-Quran.

Dan ini pula yang lebih meyakinkan saya bahwa pembangunan Sulsel dan negara Indonesia tercinta tidak mungkin dapat terpisahkan dari nilai-nilai langit Rabbani (ketuhanan). Dan di Sulsel secara khusus, perkawinan antara seorang seorang Agus dan Majdah adalah perkawinan langit dan bumi.

Itulah yang tersimpulkan dalam Kalam-Nya, “Kalau saja penghuni negeri itu beriman dan bertakwa maka Kami (Allah) akan bukan berkah-berkah langit dan bumi” (Al-Quran).

Semoga Allah menjaga dan memberkahi keduanya. Amin! (Bersambung)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.