Kamis, 27 Januari 22

Cari Keadilan, Ayah Allya Siska Mengadu ke DPR

Cari Keadilan, Ayah Allya Siska Mengadu ke DPR
* Ayah Allya Siska Nadya, Alfian Helmy Hasjim.

Jakarta, Obsessionnews.com – Alfian Helmy Hasjim tidak henti-hentinya terus berjuang menuntut keadilan atas kematian anaknya, Allya Siska Nadya,  yang menjadi korban malpraktik di klinik Chiropractic First, Pondok Indah, Jakarta Selatan, tahun 2015. Berbagai upaya sudah ia lakukan agar tersangka Dr. Randall Cafferty tertangkap dan dihukum.

Almarhumah Allya Siska Nadya.

Salah satunya Alfian melakukan pertemuan dengan anggota Komisi III DPR Taufiqulhadi di Pasar Festival, Kuningan, Jakarta Selatan, pada Kamis (16/3/2016) siang, ditemani seorang psikolog, Ray Akbar. Pertemuan yang‎ berlangsung sekitar satu jam setengah ini membahas perkembangan kematian Siska.

Alfian bercerita, bahwa kasus kematian anaknya yang sempat ditangani oleh Polda Metro Jaya pada awal tahun 2016 lalu sampai saat ini tidak dilanjutkan tanpa ada alasan yang jelas bagai angin lalu. Padahal pelakunya  masih belum bisa ditangkap dan bebas berkeliaran.

“Jadi pelakunya, si Randall, ini sudah kabur ke Amerika, setelah kasus ini ramai diberitakan oleh media,” ujar Alfian menceritakan kepada Taufik.

‎Alfian menjelaskan, Randall pertama kali dipanggil pada tanggal 26 November 2015, berikutnya panggilan kedua sekitar bulan Desember. Namun kedua surat panggilan itu tidak diindahkan. Yang hadir ke pihak kepolisian hanya pihak pengacara perusahaan tempat Randall membuka praktik. Ia keburu kabur.

Dengan ditetapkannya Randall sebagai tersangka, Alfian sejak awal berharap dan percaya polisi mampu mengungkap dan menuntaskan kasus ini‎. Bahkan untuk mendapat jaminan dari kepolisian untuk bisa melanjutkan kasus ini, pihak keluarga harus merelakan agar jenazah Siska dibongkar untuk diotopsi.

“Dengan berat hati semua orang bilang jangan mau kalau makam anak saya dibongkar. Tapi Pak Khrisna Mukti waktu itu bilang, kalau kasus ini mau dilanjutkan maka jenazah harus dibongkar untuk diotopsi. Maka, kami akhirnya menyanggupi,” terang Alfian menceritakan kenangan itu.

Setelah dibongkar dan dilakukan penyelidikan lebih lanjut, Randall akhirnya ditetapkan sebagai tersangka. Polisi  kemudian menutup klinik-klinik Chiropractic yang berada di Jakarta. Selain persoalan perizinan yang ilegal, dokter-dokternya pun dianggap tidak memiliki surat izin yang jelas.

Alfian tentu merasa ada semangat dan kepercayaan diri dengan melihat kinerja polisi yang begitu cepat bergerak. Namun, lama-kelamaan seiring bertambahnya hari dan bulan, ia melihat kinerja polisi bukan malah tambah meningkat, tapi justru malah menurun dan lama-lama menghilang.

“Sampai saat ini tidak ada kejelasan mengapa kasus ini tidak bisa dilanjutkan‎. Saya sebagai ayah dan keluarga tentu berhak tahu,” terangnya.

Kepada Taufik, Alfian juga menceritakan dirinya sudah berusaha berjuang dengan mendatangi kantor Dubes Amerika. Di sana dia bertemu dengan salah seorang FBI, setelah bercerita panjang lebar, pihak Dubes Amerika berjanji akan menemukan Randall dalam waktu dua bulan. Namun, tetap tidak ada hasil.

“Alasan mereka ‎Indonesia dan Amerika tidak punya perjanjian ekstradisi,” tuturnya.

Tidak hanya itu, Alfian juga sudah berkirim surat ke Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla meminta perlindungan hukum atas kematian anaknya. Tapi sejauh ini juga belum ada balasan. Belum selesai di situ, Alfian juga sudah berkirim surat ke Komisi III untuk minta diadakan RDPU guna membahas persoalan kasus ini.

Usai bercerita sembari makan siang dengan menikmati masakan khas Padang, Taufik merasa terharu mendengar kisah kematian Siska. Sebagai sesama orang tua yang punya anak, Taufik bisa merasakan kesedihan yang dialami oleh Alfian dan keluarga. Terlebih jika kasus ini tidak terselesaikan.

“Ini memang‎ bukan persoalan ikhlas atau tidak ikhlas, tapi bicara hukum yang harus tetap ditegakan,” kata Taufik.

Taufik sebenarnya bukan sama sekali tidak tau persoalan ini. Dulu saat ini kasus ini meledak, ia juga sudah meminta dan mendesak kepada polisi untuk menuntaskan kasus ini, agar kedepan tidak ada lagi kejadian mal praktik di Klinik Chiropractic. Bahkan, dalam beberapa kesempatan rapat dengan Kapolri, ia pernah menanyakan.

“Ya saya ingat, waktu itu saya dengan Nasir Djamil pernah dua kali menanyakan ini kepada Kapolri,” terangnya.

Ia lantas menjelaskan, bahwa posisinya sebagai anggota DPR tidak punya kewenangan untuk mengeksekusi, karena kewenangan itu milik pemerintah, milik penegak hukum. Namun, DPR punya kewenangan untuk terus mengawasi dan mengontrol tugas-tugas pemerintah.

“Tentu bapak melihat sebagai anggota DPR yang tidak punya wewenang untuk mengeksekusi. Tapi kami punya wewenang untuk berbicara, dan saya akan menggunakan hak untuk berbicara menanyakan kasus ini,” terangnya.

“Satu kali tidak dijawab, kita tanya lagi, dua kali tidak dijawab, ya terus kita tanya lagi, pokoknya saya akan terus berbicara bertanya lagi‎,” tutur politisi Partai Nasdem ini.

Di atas segalanya, yang jelas Taufik sangat berempati dengan kejadian kasus ini. Sama halnya dengan Alfian, keduanya berharap setelah ada pertemuan ini, Tuhan membuka jalan yang terbaik menuju kebenaran. Sehingga misteri kematian Allya Siska bisa terungkap tuntas. ‎

“Saya mengucapkan terima kasih, pertemuan ini adalah Tuhan yang mengatur, saya tidak pernah menyangka bahwa hari ini bisa bertemu dengan bapak. Kalau tidak ada campur tangan pertemuan ini tidak akan terjadi,” tutup Alfian.

Diketahui, kasus ini bermula saat Siska kerap mengeluh nyeri di bagian punggung kiri sejak 2014. Setiap merasa sakit, ‎perempuan kelahiran 1982 itu memilih terapi fisioterapi. Karena ia hendak pergi ke Prancis untuk ‎menempuh pendidikan magister, Siska memilih Klinik Chiropractic First di Pondak Indah, dengan harapan bisa sembuh. ‎

Siska sempat menjalani dua kali perawatan dalam sehari. Nyatanya, ia justru tambah kesakitan setelah kembali ke rumah. Keluarga lalu membawanya ke Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta  Selatan, untuk mendapatkan perawatan. ‎‎

Akhirnya Siska meninggal pada 6 Agustus 2015 setelah menjalani terapi. Berdasarkan keterangan ibu Siska yang melapor ke Polda Metro Jaya pada 12 Agustus 2015, anaknya meninggal setelah melakukan terapi. Dia bersaksi bahwa kepala Siska diputar hingga mengeluarkan suara ‘krek-krek’.‎

‎Dr Randall Cafferty yang kini menjadi buronan polisi sebetulnya penuh masalah. Ketika membuka praktik di Pondok Indah, ia sesungguhnya sedang dalam masa hukuman. Izin praktiknya di AS dicabut oleh dewan pengawas praktisi chiropractioc di AS. Pasalnya, ia terbukti melakukan malpraktik dan perbuatan kriminal. (Albar)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.