Minggu, 7 Juni 20

Cara Turki Atasi Corona Bikin Merinding

Cara Turki Atasi Corona Bikin Merinding

Oleh: Didik Andriawan, pengamat kebijakan publik

Aku sekarang menjalani tahun keempat tinggal di Turki. Namun ketika mendengar kebijakan pemerintah terkait masyarakat Turki, juga sikap orang Turki nya itu sendiri aku masih sering ngowoh (melongo- red) dan merinding.

Tak terkecuali pada bab Corona yang sudah dinyatakan sebagai pandemi ini.

Sejak tulisan ini aku tulis, seminggu sebelumnya terkait kasus Corona di Turki dinyatakan ada 16 orang positif virus. Sebelumnya memang angka kasus masih 0.

Setelah ada kasus positif itu, pemerintah melalui menteri pendidikan langsung mengumumkan bahwa sekolah libur untuk 3 Minggu ke depan.

Semua jenjang pendidikan diliburkan dan memang tak ada kegiatan pelajar baik di kampus, sekolah menengah atau dasar.

Menyusul itu, menteri agama menghimbau agar jamaah di masjid untuk menjaga jarak ( social distancing) antar jamaah. Namun tetnyata tidak efektif sehingga secara resmi semua bentuk keramaian, gedung pernikahan, taman, teater, museum, toko besar, masjid, pemandian, dll semua tutup total hingga ada pengumuman berikutnya.

Lembaga penyedia air atau PDAM sudah mengeluarkan kebijakan bahwa yang telat bayar jangan diputus airnya, karena air adalah hal urgen. Air PDAM di sini bisa langsung minum.

Sanitizer desenfektan diproduksi masal. Banyak tempat masjid angkutan umum mall dll disemprot.

Polisi mandor berpatroli mengingatkan penduduk agar langsung pergi jika tak asa kebutuhan. Duduk di taman diminta berdiri dan pergi.

Jamaah umrah dan yang datang dari luar negeri dikarantina selama 14 hari. Gedung karantina dijaga ketat.

Hari Rabu kemarin semua pekerja di kantorku juga bosnya nonton bareng rilis kebijakan resmi dari pak Erdogan. Rilis itu adalah hasil rapat beserta jajaran menteri dan pihak berwenang.

Perlu kita tahu dulu bahwa disini ketika sudah dibilang A, maka melawannya adalah tindakan melanggar hukum, makanya masyarakat harus melihat rilis presiden itu agar bisa mengambil tindakan cepat terkait dengan kebijakan yang bisa berdampak pada lingkungannya atau industri yang mereka kerjakan.

Rapat presiden Turki bersama para petinggi menteri telah selesai dilakukan. Dan ini adalah hasil dari woro2 itu:

Pemerintah Turkey menyiapkan dana sebesar 16 Milyar dolar atau setara 257.7 Trilyun rupiah untuk mendukung rakyat dalam menghadapi Corona ini.

Pemerintah juga menerapkan kebijakan pendukung ekonomi dan sosial dengan langkah kerja seperti berikut:

1. Penundaan pajak untuk beragam industri seperi Ritel, Pusat Perbelanjaan, Besi-Baja, makanan dan lainnya. Pajak untuk sebagian sektor bahkan turun dari 18 persen ke 1 persen.

2. Pembayaran pinjaman pokok dari perusahaan yang kasnya memburuk akan ditunda. Dan mereka akan dibantu dana jika perlu.

3. Gaji pensiun ditingkatkan dan mereka mendapatkan bonus liburan. Gaji tak perlu diambil di kantor, langsung masuk rekening.

4. Uang 2 milyar lira tambahan diberikan untuk bantuan tunai kepada keluarga yang membutuhkan sesuai dengan kriteria yang ditetapkan.

5. Dilakukan program tindak lanjut berkala yang terdiri dari layanan sosial dan kesehatan rumah untuk lansia kami yang berusia di atas 80 yang tinggal sendirian. Artinya lansia yang sendirian di rumah akan mendapatkan dukungan sosial dan kesehatan, ada yang ngeramut.

Keadaan terbaru disini, setelah pemerintah himbau agar tak keluar rumah, masyarakat Konya terutama terlihat tertib. Jarang ada yang keluar rumah. Padahal kasus Corona belum sampai di sini.

Jumat kemarin kami ke rumah sakit periksa kehamilan dan ternyata yang biasanya berdesakan, rumah sakit jadi melompong.

Hari Sabtu kemarin saya ngobrol dengan bos di kantor tentang situasi terkini. Dan bos bilang, kemungkinan kalau sampai virus ini parah, maka Turki bisa lockdown total. Saat ini pemerintah masih himbauan. Kalau sudah ke status perintah maka keluar rumah jadi tindakan kriminal, begitu kata bos.

Lah kalau sampa lockdown Tak bisa keluar rumah gimana makannya? Bos bilang, kalau sampai pemerintah ambil kebijakan itu maka akan ada saluran logistik ke rumah2 bagi2 makanan. Tapi itu masih kemungkinan terparah. Karena kalau sudah perintah, tak bisa dilanggar.

Bagaimana masyarakat turkinya? Ini juga bikin ngowoh. Mereka sigap dengan pemerintah. Mandiri dan sadar. Bos misalnya ternyata sudah menyiapkan stok selama beberapa Minggu dan menasehati aq untuk siap stok juga. Meskipun kalaupun lockdown pun pemerintah bakal bantu tapi kita harus waspada.

Dimanapun sepi. Jalan biasanya banyak lalu lalang jadi sepi. Padahal kasus belum ada di tempat ku. Tapi mereka sadar bahwa dengan berkumpulnya orang akan memperparah keadaan.

Mereka keluar rumah sudah banyak yang pakai masker. Padahal kasus positif di Konya tempatku sekarang belum ada.

Aku sampai saat ini masih berfikir, mengapa Turki bisa gercep sekali?

Bagi yang bilang, tindakan itu berlebihan, terlalu takut pada Corona tak takut pada Allah, aku mau bilangi.

Dulu di tahun 2018 ada kasus anak hilang dan terbunuh di Turki. Kasus itu menggema menjadi deadline dimana-mana. Bahkan menjadi berita terheboh tahun itu.

Polisi gabungan, pemerintah setempat mengerahkan banyak personel untuk mengungkap kasus ini.

Bahkan di tahun 2019 kasus pembunuhan anak ini masih menggema.

Aku bayangkan saja, bagaimana kalau kejadian ini terjadi di Indonesia?

Jangankan kasus pembunuhan anak. Kasus pemerkosaan anak secara ramai2 dengan akhir pembunuhan dan dibuang ke sungai saja kasusnya di beranda FB hanya sampai 3 hari.

Bahkan kasus pembunuhan anak adalah berita mingguan, kalau tak ada berita pembunuhan baru terasa aneh.

Itu baru anak. Belum bayi dibuang, bayi mati di tempat sampah, sapiteng, dibuang di depan pintu panti asuhan, dan lain lain.

Belum pembunuhan biasa, ribut sama istri bacok, ribut sama tetangga bacok, prank tapi akhirnya mati.

Singkat kata, di Indonesia nyawa ndak ada artinya. Harganya bisa lebih murah dari sepeda motor dan hewan peliharaan.

Kita tak kaget dan terbiasa dengaan berita kehilangan nyawa dengan cara bodoh tak beradab.

Jadi aku tak kaget kalau sudah dibilangi ada pandemi, ada orang bilang hidup dan mati di tangan Allah dengan berfikir bahwa ketaatan itu diukur dengan kematian dan penyerahan nyawa.

Kalau bisa sampai mati di masjid bakalan jadi syahid padahal ada kesempatan untuk menyelamatkan diri.

Belum lagi yang malah nyantai2 liburan. Bahkan ada pejabat yang tak mau diperiksa apakah positif Corona atau tidak. Aku ini pejabat, mungkin begitu dalam hatinya.

Ketika gempa dan terus shalat di masjid kalau mati disebut syahid, padahal para ulama mengajarkan untuk menyelamatkan diri dan mengulangi shalat daripada mengorbankan diri bukan pada tempatnya.

Berbeda dengan di Turki. Nyawa itu sangat berharga dan mereka tak biasa dengan adanya kematian. Nyawa dihargai dan mahal.

Bukannya takut mati. Orang turki Ndak takut mati. Coba perhatikan pada pemberontakan berdarah tahun 2016 kemarin di Turki? Masyarakat kompak turun ke jalan pasang badan menghadang pemberontak. Meskipun tank2 yang mereka lawan. Mereka tak takut mengorbankan nyawa demi tegaknya hukum dan keadilan.

Setiap laki laki wajib militer. Siap berperang mengorbankan nyawa demi kemerdekaan bangsa.

Efek menghargai nyawa itu apa? Banyak sekali jelas. Antara lain, layanan kesehatan diutamakan, peraturan pangan Sangat keras. Jangan harap bisa sembarangan jualan daging ayam potong di rumah. Harus sertifikasi, sekolah dulu dapat ijazah baru buka toko.

Makanan disini kebanyakan batas layak konsumsinya pendek. Karena bahan pengawet dibatasi. Makanya beli apa2 harus lihat batas expired nya.

Dunia melihat bahwa Turki adalah negara yang paling sigap dalam menghadapi Corona. Namun sayangnya aku malu mengapa negaraku tak bisa begitu. (***)

Tulisan ini aku persembahkan kepada anakku, bahwa kita pernah tinggal di negara hebat bersama masyarakat yang beradab. 

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.