Sabtu, 31 Oktober 20

Cara Mencegah Penyebaran Covid-19 Lewat Mata

Cara Mencegah Penyebaran Covid-19 Lewat Mata
* Ilustrasi virus Corona dan mata. (Foto: YouTube)

Dr Rina La Distia Nora, salah satu pengurus di Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia, mengatakan, berdasarkan riset yang telah dilakukan peneliti di dunia sejauh ini, ternyata virus corona ditemukan di kandungan air mata 3,8% penderita virus Corona (Covid-19).

“Ternyata sekitar 3,8% ada virus [corona] di mata, kalau kita lakukan PCR, seperti PCR di nasofaring untuk diagnosis, di permukaan mata itu, sekitar 3,8%-nya dari seluruh orang yang terkena covid-19 itu positif dari permukaan matanya.

“Jadi memang tidak menutup kemungkinan bahwa mata ada manifestasi klinisnya pada covid-19.

“Waktu kita lihat pada pasien-pasien dengan manifestasi mata, sekitar 28%-nya itu gejala di mata duluan ada, sebelum dia ada gejala sistemik seperti demam, batuk pilek, dan gejala-gejala sistemik covid-19 biasa,” ujar Dr Rina, yang juga dokter spesialis di Rumah Sakit Mata Kirana di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM).

Menurut Dr Rina, rata-rata orang tidak sengaja memegang mata sampai sepuluh kali per jam, namun pemakai kacamata mungkin lebih kurang melakukan kebiasaan tersebut.

“Jadi diperkirakan bahwa kita mencegah memegang mata, karena ada perlindungan kacamata itu. Maka cenderung orang-orang yang pakai kacamata itu lebih kecil kemungkinan untuk mengalami infeksi covid-19.

“Penelitian [yang dilakukan di China] itu tidak langsung, tapi [premisnya] sudah banyak diajukan oleh banyak penelitian, bahwa memegang mata itu salah satu rute masuk dari infeksi covid-19,” jelasnya.

Ia mengatakan, di Indonesia belum ada penelitian serupa yang melihat kaitan antara penggunaan kacamata dan penyebaran virus corona.

“Tapi kita di RSCM sedang melakukan penelitian covid-19 [dan kaitannya] dengan mata, terutama tentang gejala awal covid-19, itu ada tidak [gejala] matanya, karena ada penelitian terbaru dari Spanyol yang mengatakan sekitar 60% [penderita covid-19] ada gejala seperti mata terbakar dan rasa tidak nyaman, itu yang lagi kita cari,” jelasnya.

Jumlah pemakai kacamata di wilayah perkotaan di Indonesia sendiri cenderung meningkat.

Penelitian Dr Rina dan para peneliti lain, yang digelar tahun 2008, menemukan dari sekitar 456 anak-anak di Jakarta Timur, 32,3 persennya menderita rabun jauh, lebih tinggi dari tingkat penderita rabun jauh pada 1989 yang sebesar 11,8%.

Mata yang kering membuat kita akan secara reflek mengucek mata, yang berpotensi membawa virus masuk ke sel tubuh melalui mata.

Dr Rina mengatakan bahwa mata kering bisa disebabkan oleh computer vision syndrome, yang jumlah kasusnya belakangan meningkat karena pola kerja dan belajar dari rumah yang banyak diterapkan selama pandemi.

“Kalau kita lihat komputer itu kan serius banget, reflek berkedip kita jadi berkurang dari 20 kali per menit jadi 5 kali per menit saja, air mata pada menguap, dan itu yang membuat mata kering,” jelasnya.

Berikut beberapa tips dari Dr Rina untuk mencegah mata kering dan lelah, yang dapat membantu kita mengurangi keinginan untuk mengucek mata:

Perhatikan ‘screen time’ : Mengambil istirahat mikro dan makro. Istirahat mikro adalah rehat setiap 20 menit Anda melihat layar komputer atau HP, dan melihat obyek yang berjarak enam meter selama 20 detik. Istirahat makro adalah istirahat agak panjang setiap 3-4 jam, seperti untuk solat atau makan, namun tanpa melihat layar komputer atau HP sama sekali.

Posisi ergonomis ketika melihat komputer: letakkan layar komputer 15-20 derajat ke bawah pandangan mata, supaya posisi kelopak mata cenderung ke bawah, sehingga menutup banyak permukaan mata.

Perhatikan sirkulasi udara di sekitar kita. Upayakan jangan duduk di dekat AC dalam waktu lama karena dapat membuat mata kering. (Red)

Sumber: BBC News indonesia 

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.