Kamis, 5 Agustus 21

Calon Kuat PM Israel Diancam Dibunuh

Calon Kuat PM Israel Diancam Dibunuh
* Tengah: Naftali Bennett. (Foto: ParsToday)

Media-media Israel menyatakan Naftali Bennett, calon kuat perdana menteri (PM) rezim Zionis diancam akan dibunuh.

Saluran TV7 Israel melaporkan pada Sabtu (5/6/2021) malam bahwa dinas keamanan rezim Zionis telah memantau ancaman terhadap Bennett dan menganggapnya cukup serius.

Ketua Partai Yamina ini menerima banyak ancaman di berbagai platform media sosial.

Kepala Dinas Keamanan Internal Israel (Shin Bet), Jenderal Nadav Argaman sebelumnya memperingatkan tentang ancaman pembunuhan terhadap para politisi jika kubu sayap kanan bergabung dengan partai-partai moderat dan kiri untuk membentuk pemerintahan baru.

Sebelum ini, sejumlah pendukung Benjamin Netanyahu berkumpul di depan kantor Partai Yesh Atid pimpinan Yair Lapid, dan menuntutnya membentuk kabinet sayap kiri.

Yair Lapid mengatakan telah memperoleh dukungan mayoritas untuk membentuk kabinet koalisi dan menyingkirkan Netanyahu dari jabatannya. Lapid telah menghubungi Presiden Reuven Rivlin via telepon untuk memberi tahunya bahwa ia telah membentuk pemerintahan.

Kantor Presiden Rivlin mengumumkan, Naftali Bennett dan Yair Lapid akan memimpin pemerintahan secara bergantian.

Upaya Netanyahu Pertahankan Kekuasaan
Selama beberapa hari terakhir, atmosfer internal rezim Zionis Israel sangat rumit, penuh masalah dan krisis politik serta keamanan, di mana sejumlah kalangan menggulirkan potensi keruntuhan rezim ini.

Rezim ini selama beberapa tahun terakhir mengalami krisis di pembentukan kabinet yang stabil. Alasan utamanya adalah langkah tak terpuji Perdana Menteri Benjamin Netanyahu yang hampir tumbang ini, pada tahun 2018 melancarkan operasi komando militer Israel untuk meneror sejumlah komandan Gerakan Muqawama Islam Palestina (Hamas), tapi kemudian gagal. Sebagai respon operasi gagal ini, Hamas menembakkan rudal dan roket ke berbagai kota dan distrik Israel.

Menyusul kekalahan memalukan ini, Menteri Peperangan Israel saat itu, Avigdor Lieberman mengundurkan diri dari posisinya. Aksi Lieberman ini mendorong kabinet Netanyahu kehilangan legalitasnya. Sejak saat itu hingga kini, telah digelar empat kali pemilu parlemen, di mana tidak satu pun dari pemilu ini yang berujung pada pembentukan kabinet yang stabil.

Kali ini, Netanyahu menyadari dirinya diambang kejatuhan ke sampah sejarah dan oleh karena itu, untuk mencegah hal ini serta senasib dengan Ehud Olmert, mantan perdana menteri Israel, dan masuk ke penjara, ia tak segan-segan menggunakan segala metode, di antaranya memanfaatkan upaya Yahudi radikal yang berencana menggelar “Pawai Bendera” di kawasan kuno Quds.

Zionis merayakan hari pendudukan Quds pada 7 Juni 1967 sebagai Hari Nasional. Saat memperingati agresi ini, warga Zionis menduduki seluruh wilayah Quds dan memaksa penduduk asli daerah ini mendekam di rumahnya. Tujuan penyelenggara pawai ini yang diumumkan akan digelar hari Kamis mendatang adalah penekanan akan urgensitas pembersihan etnis Palestina di Quds pendudukan; Sebuah rencana yang ditentang keras oleh berbagai faksi muqawama Palestina dan seruan kepada warga Palestina untuk melawannya.

Zionis seraya merilis seruan, meminta pawai ini digelar akhir Ramadhan lalu, yang kemudian ditangguhkan karena munculnya ketegangan di Quds dan agresi Zionis ke Palestina, yang kemudian disusul dengan pembalasan kubu muqawama Islam dan penembakan roket ke berbagai kota Israel.

Sementara petinggi Zionis termasuk Menteri Peperangan Benny Gantz dan Menlu Gabi Ashkenazi memperingatkan penyelenggaraan pawai warga Zionis ini, sepertinya Netanyahu tengah memprovokasi penyelenggaraan pawai ini dengan tujuan mengobarkan tensi dan membuat kondisi panas di Quds serta Masjid al-Aqsa.

Tujuan utama Netanyahu adalah mensabotase pembentukan “Kabinet Perubahan” pimpinan Yair Lapid, ketua Partai Yesh Atid dan Naftali Bennett, ketua Partai Yamina. Oleh karena itu, tindakan Netanyahu mendapat respon dari sejumlah partai Zionis.

Terkait hal ini, Ketua Partai Meretz, Nitzan Horowitz mengkritik Netanyahu karena upayanya tersebut dan mengatakan, “Ia ingin membakar Israel sebelum lengser. Ia ancaman sejati bagi keamanan warga Zionis.” Selain itu, Naftali Bennett merespon langkah Netanyahu dan mengatakan, ” Tidak ada seorang pun di Israel yang memonopoli kekuasaan, oleh karena itu, Anda harus menghentikan langkah sia-sia tersebut dan jangan tinggalkan bumi hangus di belakang Anda.”

Alasan utama ketakutan petinggi Zionis atas langkah provokatif Netanyahu bukan karena potensi kesuksesannya mencegah terbentukknya kabinet baru, tapi peringatan serius yang datangnya dari berbagai faksi muqawama Islam Palestina, khususnya Hamas dan Jihad Islam Palestina.

Terkait hal ini, Yahya Sinwar, ketua Hamas di Jalur Gaza memperingatkan agresi terbaru Israel ke Masjid al-Aqsa dan menekankan bahwa jika Zionis kembali ke Masjid al-Aqsa, maka muqawama akan menghancurkan bumi dan waktu pada mereka.

Selain itu, sepertinya pemerintah Amerika Serikat juga memperingatkan petinggi Israel terkait hal ini, karena sebelumnya Koran Yedioth Ahronoth melaporkan bahwa AS menentang penyelenggaraan pawai seperti ini dan meminta petinggi Zionis mencegahnya.

Sepertinya bidikan Netanyahu kali ini menemui penghalang, karena Ahad (6/6/2021), Ketua Knesset, Yariv Levin menyatakan hari ini (Senin 7/6/2021) di sidang umum parlemen akan mengumumkan keberhasilan Yair Lapid membentuk kabinet. Untuk selanjutkan Knesset satu pekan kemudian akan memberi suara dan mosi percaya kepada anggota parlemen.

Sumber-sumber Zionis berspekulasi bahwa Knesset akan mengadakan pemungutan suara pada Rabu untuk Kabinet Perubahan, jika demikian maka Netanyahu kembali akan mengalami kegagalan di ambisinya dan akan menanti masa depannya yang gagal. (ParsToday/Red)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.