Sabtu, 26 September 20

Caketum Aziz Syamsuddin Dinilai Dekat dengan Rakyat

Caketum Aziz Syamsuddin Dinilai Dekat dengan Rakyat
* Aziz Syamsuddin.

Jakarta, Obsessionnews – Pasca Pilpres 2014 Partai Golkar dilanda prahara. Partai yang pernah berkuasa di era Orde Baru ini terbelah menjadi dua kubu, yakni kubu Aburizal Bakrie atau Ical dan kubu Agung Laksono. Untuk mengakhiri konflik tersebut kedua kubu sepakat menggelar Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) untuk memilih ketua umum (ketum) Golkar yang baru di Nusa dua, Bali, 15-17 Mei 2016.

Ical dan Agung tidak akan maju dalam Munaslub ini. Mereka memberi kesempatan kepada tokoh-tokoh muda untuk bertarung di Munaslub. Munaslub ini diikuti delapan  calon ketua umum (caketum) Golkar, yakni Setya Novanto, Ade Komarudin, Aziz Syamsuddin, Mahyudin, Priyo  Budi  Santoso, Airlangga  Hartanto, Indra Bambang Utoyo, dan Syahrul Yasin Limpo.

Yang  menarik, di antara  delapan  caketum  tersebut  Aziz Syamsuddin  merupakan  caketum  termuda. Dia dilahirkan di Jakarta, 31 Juli 1970.

Aziz, panggilan akrabnya, harus berjuang ekstra  keras menghadapi para seniornya di Munaslub Golkar. Lalu bagaimana peluangnya memperebutkan kursi ketum Golkar?

Tri Joko Susilo, Sekretaris Jenderal (Sekjen) Himpunan Masyarakat Peduli Indonesia (HMPI), menilai  Aziz mempunyai peluang besar untuk menjadi ketum Golkar. Alasannya adalah Aziz masih muda, cukup populer, dan aktif di DPR.

“Saya prediksi Aziz akan head to head dengan Ade Komarudin,” kata Tri ketika dihubungi Obsessionnews.com, Minggu (8/5).

Sementara itu Chief Executive (CEO) Panggung Indonesia Ichwanudin Siregar mengatakan, Golkar di masa depan perlu dipimpin oleh tokoh muda modern dan inovatif.  “Aziz adalah tokoh muda mumpuni yang bisa menjawab masalah ini,” kata Ichwanudin.

Menurutnya, Aziz  mempunyai  gaya pendekatan anak muda, karena pernah menjadi Ketum Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI).

Sebagai partai lama dan paling berpengalaman, kata Ichwanudin, Golkar selama ini identik dengan partai orang tua.

Jika Aziz terpilih sebagai ketum, Ichwanudin optimis Aziz  akan mampu membawa Golkar mengalami banyak kemajuan.

Aziz dan ketujuh caketum lainnya memiliki misi yang seragam, yakni mengembalikan kejayaan Golkar. Siapa pun nanti yang terpilih menjadi ketum bertekad memenangkan partai berlambang pohon beringin ini pada Pemilu 2019. Juga mengantarkan kader Golkar memenangkan Pilpres 2019.

Rumah Aspirasi

Aziz  mengawali kariernya di pentas politik pada tahun 2003 dan bergabung dengan Golkar. Pria  yang berlatar belakang pengacara ini dipercaya menjadi calon anggota legislatif (caleg) untuk DPR pada Pemilu 2004 dari daerah pemilihan (dapil) Lampung II, yang meliputi Kabupaten Lampung Tengah, Kabupaten Lampung Utara, Kabupaten Tulang Bawang, Kabupaten Way Kanan, dan Kabupaten Lampung Timur. Dia bersyukur karena berhasil melenggang ke Senayan, sebutan populer untuk Gedung DPR/MPR yang berlokasi di Senayan, Jakarta Pusat.

Dia ditempatkan sebagai anggota Komisi III DPR RI yang membidangi hukum, HAM, dan keamanan.

Golkar menilai Aziz memiliki kinerja yang bagus di DPR. Oleh karena itu partai berlambang pohon beringin ini kembali mencalonkan dirinya sebagai anggota DPR pada Pemilu 2009 dari dapil Lampung II. Dan Aziz kembali lolos ke Senayan! Di periode keduanya ini Aziz dipercaya menjadi Wakil Ketua Komisi III DPR.

Aziz kembali mengukir prestasi cemerlang pada Pemilu 2014, di mana dia terpilih menjadi anggota DPR dari dapil yang sama. Ia lalu dipercaya menjadi Ketua Komisi III DPR. Pada Januari 2016 terjadi pergantian pimpinan di Komisi III. Ia digantikan oleh rekan sefraksinya, Bambang Soesatyo. Aziz diberi posisi baru sebagai Sekretaris Fraksi Partai Golkar (FPG) DPR.  Sementara di Komisi III Aziz hanya menjadi anggota biasa.

Menjadi anggota DPR tiga kali secara berturut-turut bukanlah hal mudah. Apa kiat Aziz tetap dipercaya menjadi wakil rakyat? Kiatnya adalah dia dekat dengan rakyat pemilihnya (konstituen). Di masa reses Aziz aktif mengunjungi dapilnya untuk menyerap aspirasi rakyat. Bahkan ia mempunyai rumah aspirasi yang berfungsi mendekatkan dirinya dengan masyarakat.

“Saya sudah punya rumah aspirasi sejak tahun 2004 lalu,” katanya.

Di rumah aspirasi itu Aziz membentuk tim yang menginventarisir masukan yang diberikan konstituen secara langsung maupun melalui surat-menyurat. Tim mengkaji masukan tersebut, lalu menyampaikan kepada Aziz. Selanjutnya Aziz menindaklanjuti aspirasi masyarakat itu.

Aziz dikenal vokal, tegas, dan konsisten dalam menjunjung keadilan. Dia berupaya selalu terdepan dalam menyampaikan aspirasi rakyat. Bahkan ia berjanji apabila tidak kritis lagi minta diingatkan kembali.

Berobsesi Membenahi Kesemrawutan Sistem Hukum

Aziz yang juga Ketum Pengurus Pusat Kolektif (PPK) Kosgoro 1957 menilai sistem penegakan hukum di Indonesia belum ideal. Selama ini penegakan hukum di Indonesia tergolong  masih sangat lemah. Hukum seringkali dipermainkan dan dicari celah-celah kelemahannya.

Ia merasa prihatin  prihatin  terhadap supremasi hukum di Indonesia. Oleh karena itu dia menginginkan pemerintah membuat blue print atau cetak biru program yang terintegrasi dengan  kemententrian bidang politik, hukum dan HAM (Polhukam).

“Pembangunan di bidang hukum harus bersifat strategis dan berkesinambungan. Tidak bisa sporadis dan parsial. Semua pihak terkait harus duduk di satu meja guna menentukan rancang-rancang tindak (plan of actions) strategi pembangunan hukum Indonesia ke depan,” tuturnya.

Aziz mendambakan  adanya cetak biru strategi pembangunan hukum nasional  dan benang merah yang menyambungkan wewenang, memadukan langkah, dan menyamakan persepsi di antara lembaga penegak hukum di Indonesia.

Pembangunan hukum di Indonesia mensyaratkan disusunnya satu cetak biru strategi pembangunan hukum nasional. Dalam konteks ini, katanya, peranan Komisi Hukum Nasional (KHN) sangat penting dalam menyiapkan strategi pembangunan hukum. Contohnya, kelebihan kapasitas yang terjadi pada penjara atau lembaga pemasyarakatan (Lapas) yang berdampak pada kurang maksimalnya pembinaan terhadap para napi.

“Kita mengharapkan  mereka mampu memperbaiki diri dan tidak mengulangi tindak pidana yang pernah dilakukannya. Namun di Lapas  sendiri pun telah terjadi pelanggaran HAM, karena minimnya infrastruktur, pelayanan Lapas,” tandasnya.

Ia menambahkan, kegiatan di dalam Lapas  bukan sekadar untuk menghukum atau menjaga narapidana. Tetapi juga mencakup proses pembinaan, agar warga binaan menyadari kesalahan dan memperbaiki diri serta tidak mengulangi tindak pidana yang pernah dilakukan.

“Hal itu tidak dapat hanya diselesaikan dengan Kementerian Hukum dan HAM. Mereka harus bersama-sama dengan lembaga lain seperi kepolisian, kejaksaan dan KPK, serta Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) yang ada di kementerian lainnya,” tandasnya.

Menurutnya, sebesar apapun penjara apabila setiap ada banyak yang masuk, penjara pasti tidak akan cukup. Dalam KUHAP dijelaskan bahwa proses penahanan diberlakukan apabila dipandang perlu, dengan persyaratan mengulangi tindak pidana, menghilangkan barang bukti, dan akan mengulangi perbuatan.

Aziz berobsesi membenahi kesemrawutan sistem hukum di Indonesia. “Banyak yang harus dibenahi dan bisa dibenahi, kalau sesuai the right man in the right place,” cetusnya. (arh, @arif_rhakim)

Baca Juga:

Aziz Syamsuddin Diprediksi Menang Munaslub Golkar

Selamat Datang Soeharto Muda di Munaslub Golkar

Mengembalikan Kejayaan Golkar

Soeharto, Keluarga Cendana, dan Munaslub Golkar

Pasti Kalah, Alasan Tommy Ogah Maju Caketum Golkar

Tommy Soeharto Tak Mau Lakukan Politik Uang

‘Timing’-nya Kurang Tepat, Tommy Batal Maju Caketum Golkar

Sudah Saatnya Tommy Soeharto Selamatkan Golkar

Tommy Ubah Peta Pertarungan Calon Ketum Golkar

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.