Senin, 18 Oktober 21

Cak Durasim Pendekar Ludruk Bakal ‘Menggoyang’ Jakarta

Di negara maju, seni budaya tradisional dilestarikan bahkan dikembangkan. Di Indonesia yang justeru kaya raya akan kesenian di setiap daerah, hendaknya  diawetkan sebagai warisan budaya hingga dikenal dan digemari oleh generasi penerus bangsa.

Kesenian Ludruk yang merupakan ciri khas kesenian asal Jawa timur (Jatim) diharapkan bisa bertahan dengan ke-khas-an-nya yang menampilkan tayangan edukatif bercirikan komedi. Karena itu, kalangan pekerja seni yang tergabung dalam Kumpulan Ludruk Jakarta (KLJ) di bawah Komando Cak Bathin Mulyono, aktif melakukan latihan ludruk di Pendopo Anjungan Jatim Taman Mini Indonesia Indah (TMII). KLJ Juga melibatkan para artis dan pekerja seni lainnya dalam setiap episodenya.

Pada Kamis (20/7/2017) malam, di Pendopo tersebut, sejumlah komedian, artis dan anggota KLJ melakukan latihan Ludruk dengan lakon “Durasim Pendekar Ludruk” disutradarai Cak Tatok ‘Koplak’ Pranadi, Meski para pemain kelihatan lucu namun tetap berlatih serius melakukan latihan peran. Pentas ‘Durasim Pendekar Ludruk’ ini akan digelar pada Minggu 6 Agustus 2017 pukul 14.30 WIB di TMII. Masih ada dua latihan lagi pada Selasa malam, yaitu pada 25 Juli dan 1 Agustus.

KLJ latihan di Anjungan Jatim TMII, Selasa malam (20/7/2017).

Tampak aktif latihan di Pendopo diantaranya: Cak Bathin, Tatok ‘Koplak’, Pelawak Polo, Isak, Memed, Cak Bagong, Pelawak Tessy dan lainnya, juga pelawak Lupus yang berperan sebagai ‘Cak Durasim’ dalam lakok ini. Dari kaum hawa ikut bermain dalam peran Lundruk ini diantaranya Dewi Katayana yang dalam kepengurusan KLJ sebagai Bendahara, dan Lusie Baya, penyanyi yang juga artis sinetron, yang kini didapuk menjadi Sekretaris KLJ. Duduk sebagai Ketua KLJ adalah Dr Andreas Eno Tirtakusuma SH MH, Advokat yang juga dosen Pasca Sarjana sebuah universitas swasta di Jakarta.

Sebagai Sutradara, Tatok memiliki target agar kesenian Ludruk Jawa Timuran ini bisa tetap langgeng dan dikenal oleh masyarakat di seluruh Indonesia. Oleh karena itu, Ludruk dimainkan di Jakarta dan lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia, dengan dialek Jawa Timuran. “Semoga Ludruk bisa go nasional!” serunya.

Samad Widodo

Tentunya latihan Ludruk ini terselenggara juga berkat peran aktif Cak Samad Widodo, Kepala Anjungan Jatim TMII, yang selalu mendampingi latihan pada malam hari. “Saya mendampingi KLJ ini sudah mulai aktif di Anjungan Jatim TMII ini sejak 2013. Ludruk yang melegenda di Jatim ini kita pentaskan di Jakarta. Kita kumpulkan orang-orang dalam peran ludruk, kita bentuk pelatihan setiap hari Selasa malam. Kita beri apresiasi untuk tampil,” ujarnya kepada Obsessionnews.com.

Menurut Samad, hingga sekarang ini dana KLJ masih patungan ditanggung sendiri oleh anggota KLJ dan simpatisannya. Diharapkan ke depan, ada para pemerhati ludruk yang bersedia jadi sponsor dalam pendanaan KLJ. “Kami bertekad melestarian kesenian ludruk ada terus dan terjadi regenerasi. Generasi muda harus dikenalkan ludruk, agar kesenian Jawa Timuran ini tidak punah,” tandasnya.

Yang tak kalah pentingnya lagi adalah tekad Cak Herry Takariono, yang sehari-hari bekerja di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Dia merupakan pegawai negeri yang peduli terhadap kesenian tradisional khususnya Ludruk Jawa Timuran. Untuk melestarian Ludruk, Cak Herry meluangkan tenaga dengan bekerja keras untuk bisa mengumpulkan para pekerja seni ludruk tersebut. Arek Suroboyo yang dikenal sangat gaul ini tak pernah berhenti mengontak dan ‘mengobrak-obrak’ mereka untuk rajin latihan rutin.

Latihan KLJ di Anjungan Jatim TMII, Selasa malam (20/7).

Sementara itu, Cak Bathin selaku sesepuh yang babat alas berdirinya Ludruk ini, berharap generasi muda menyukai kesenian tradisional tersebut. Ia pun berupaya agar kesenian ini dapat bertahan, dirinya bersama pengurus KLJ mengadakan Diklat Ludruk di Anjungan Jatim yang diperuntukkan bagi remaja tingkat SMP, SMA dan Mahasiswa.

“Generasi muda sekarang belum banyak menyukai kesenian tradisional yang merupakan kesenian lama Indonesia, maka kami mengadakan diklat Ludruk di Anjungan Jatim TMII untuk melestarikan seni ludruk khususnya, yang dikolaborasikan dengan seni-seni modern dengan cerita-cerita rakyat terkini,” harap Cak Bathin yang memiliki nama asli Mulyono Herlambang ini.

Cak Bathin mendorong Diklat dibagi dengan 3 kategori yakni Pengrawit (Pemusik Tradisional), Penari Remo dan Pemeran Ludruk dapat melahirkan generasi baru pecinta kesenian tradisional Jatim khususnya Ludruk. “Kita perlu lestarikan ludruk, harus ada regenerasi para pemain ludruk. Saya punya ludruk ‘Putra Majapahit’ sejak 1988, tapi bubar setelah era reformasi. Sampai 15 tahun vakum, akhirnya kita bikin ludruk KLJ ini. Kita ajukan ke Anjungan Jatim TMII ini,” kisah Cak Bathin yang berperan sebagai Semprul, mata-mata Jepang dalam lakor ‘Durasim Pendekar Ludruk’.

Latihan KLJ di Anjungan Jatim TMII, Selasa malam (20/7).

Cak Bagong yang memerankan sebagai mata-mata Jepang bersama Cak Polo dalam lakon ‘Durasim Pendekar Ludruk’ ini, bertekad untuk bermain maksimal dalam lakon tersebut. Sebelum ini, Cak Bagong bermain sinetron di ‘Tuyul Mbak Yul’, ‘Jin dan Jun’ serta ‘Abdel dan Temon’. Ia hobi dan aktif di group ludruk, ketoprak, campursari, dan keroncong.

Pelawak Polo menambahkan, Ludruk sebagai warisan budaya bangsa perlu dilestarikan. Oleh karena itu, perlu dilakukan regenerasi dalam kesenian ludruk. “Yang harus diutamakan dalam latihan ludruk itu adalah faktor disiplin. Kalau tidak disiplin, maka hasilnya akan berantakan dan tidak maksimal. Regenerasi juga penting dengan mengajak kaum remaja/muda untuk berlatih main ludruk,” ujar Cak Polo.

Pelawak Memed yang kini juga menjadi da’i (pendakwah) agama Islam, mengaku senang bisa ikut bermain di peran ‘Durasim Pendekar Ludruk’. “Ini mengisahkan sejarah Cak Durasim. Dia seorang pahlawan yang melawan penjajah, Jepang. Kita harus lestarikan kesenian Ludruk,” tutur Memed yang berperan sebagai Bayan, Wakil Lurah dalam ‘Durasim pendekar Ludruk’.

Latihan KLJ di Anjungan Jatim TMII, Selasa malam (20/7).

Cak Isak yang sehari-harinya aktif sebagai pelawak, MC dan artis sinetron, menuturkan bahwa bangsa Indonesia perlu mempertahankan pilar budaya dan gotong royong melalui kesenian, tapi kini sudah berangsur hilang. “Harus ada kepedulian pemerintah seperti di Korea itu, K-Pop di Korea itu dibiayai pemerintah sehingga mendunia. Mestinya kesenian ludruk juga harus dilestarikan,” ujar Cak Isak yang pernah tampail di “Republik BBM” bersama pakar komunikasi UI Dr Effendi Gazali di Metro TV.

Bendahara KLJ, Dewi Kertayana yang berperan menggalang pendanaan dalam kepengurusan KLJ, mengungkapkan bahwa biaya untuk kegiatan KLJ didapat dari para simpatisan yang peduli dengan ludruk selain patungan anggota sendiri. “Anggota KLJ ada 54 orang. Dua tahun lebih saya juga aktif di kesenian tradisional. Saya senang kesenian Jatim,” tutur Dewi yang berperan sebagai ibunya Durasim dalam lakon tersebut. Dewi selama ini juga aktif di Komunitas Cinta Berkarya (KCB) se-Indonesia.

Herry Takariono (kanan) bersama para pelawak.

Lakon ‘Durasim Pendekar Ludruk’ ini mengisahkan Cak Durasim sebagai pahlawan pribumi melawan tentara Jepang yang bengis dan keji menjajah Indonesia dengan menyiksa rakyat dan bahkan membunuhnya secara kejam bagi yang melawan. Namun, Durasim melakukan perlawanan melalui kesenian di Surabaya. Dia membentuk perkumpulan kesenian ludruk, Melalui lakon dan dan cerita yang diomainkan Durasim mulai membakar dan mengobarkan semangat rakyat untuk melakukan perlawanan terhadap Jepang.

Ternyata, ada seorang pengkhianat yang melaporkan kepada tentara Jepang bahwa Durasim secara diam-diam telah membakar semangat rakyat untuk melakukan perlawanan terhadap tentara Jepang. Akibatnya, Durasim pun ditetapkan sebagai DPO (Daftar Pencarian orang) dan dicari dengan menempuh segala cara untuk menangkap Durasim. Meski cerita bersejarah ini dimainkan serius namun dalam berbagai adegannya disisipkan selingan humor sebagai kekhasan ludruk. Tentu saja, adegan kocak dengan gaya kontemporer di ludruk ini bakal mengoyang gelak tawa penonton di Jakarta. (Red)

Lusie Baya

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.