Minggu, 7 Maret 21

Buya Hamka Ulama di Hati Masyarakat

Buya Hamka Ulama di Hati Masyarakat

Oleh: M. Fuad NasarPlt Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf atau Konsultan The Fatwa Center Jakarta

 

HAMKA memiliki nama lengkap Prof. Dr. Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau akrab dipanggil Buya Hamka adalah sosok multitalenta yang terpatri dalam ingatan bangsa. Semasa hidupnya Hamka dikenal sebagai ulama, pejuang, sastrawan dan pujangga. Buku-buku karyanya diminati khalayak pembaca dari berbagai kalangan sampai kini. Hamka adalah ulama dan pemimpin di hati masyarakat.

Dilahirkan di Sungai Batang, Maninjau, Sumatera Barat 16 Februari 1908 (13 Muharram 1326 H). Ayahnya Dr. H. Abdul Karim Amrullah atau dikenal dengan nama Haji Rasul adalah seorang ulama besar dan salah satu tokoh utama dari gerakan pembaharuan Islam di Minangkabau, seorang penganjur Muhammadiyah. Hamka muda menempuh pendidikan Diniyah School dan Sumatera Thawalib Padang Panjang yang didirikan ayahnya. Hamka mewarisi dari ayahnya kecerdasan dan daya ingat yang sangat kuat. Pesan ayahnya dalam acara Muktamar Muhammadiyah tahun 1930 di Bukittinggi begitu meresap dalam jiwa Hamka, “Ulama harus tampil ke muka masyarakat, memimpinnya menuju kebenaran.”

Hamka menjadi ilmuwan besar secara outodidak dan matang karena tempaan pengalaman hidup. Dalam usia 16 tahun pada 1924 Hamka berangkat ke Tanah Jawa, tepatnya ke Yogyakarta. Di kota ini ia berkenalan dan belajar pergerakan Islam secara modern kepada H.O.S. Tjokroaminoto, Ki Bagus Hadikusumo, R.M. Surjopranoto, dan Haji Fakhruddin di Yogyakarta. Para tokoh pergerakan Islam di masa pra-kemerdekaan itu mengadakan kursus-kursus  pergerakan di Pakualaman Yogyakarta. Selain itu Hamka juga belajar dengan kakak iparnya, Buya A.R. Sutan Mansur, kemudian menjadi Ketua Umum Muhammadiyah, yang di masa itu tinggal di Pekalongan. Hamka mengenal pergerakan politik Islam, terutama Sarekat Islam dan gerakan Muhammadiyah di Yogyakarta sejak usia belasan tahun.

Menjadi Ulama Besar

Hamka seorang ulama besar yang memiliki kemampuan di atas rata-rata di bidang sastra dan sebagai pengarang buku agama. Kebanyakan pengarang tidak punya keahlian berpidato, atau sebaliknya kebanyakan ahli pidato tidak mahir menulis. Berbeda dengan Hamka. Ia bukan hanya seorang pengarang yang tidak pernah kering penanya, tapi juga seorang mubaligh yang handal. Mendengar ceramahnya sama menarik dengan membaca karangannya. Lebih dari itu, menyatunya antara kata dan perbuatan adalah watak kepribadian Hamka sebagai ulama panutan umat. Ceramah agama yang disampaikan Hamka melalui Kuliah Subuh RRI Jakarta dan Mimbar Agama Islam TVRI diminati jutaan masyarakat Indonesia di masa itu. Ia juga kerap diundang memberi kuliah umum di perguruan tinggi. Sebagai mubaligh yang telah mewakafkan hidupnya untuk dakwah menuntun umat dengan ajaran agama, Hamka melayani permintaan ceramah ke berbagai tempat di tanah air. Di negara serumpun Malaysia, nama besar dan buku-buku Hamka populer sampai sekarang.

Sewaktu Wakil Presiden Pertama RI Mohammad Hatta menganjurkan pembangunan masjid negara yaitu Masjid Istiqlal di ibukota Jakarta, beliau menunjuk panitia kecil Mr. Asaat, Sjafruddin Prawiranegara dan Hamka untuk mempelajari rencana tersebut. Namun karena perbedaan pendapat dengan Presiden Soekarno mengenai lokasi pembangunan masjid, panitia kecil tersebut mengundurkan diri dan Bung Karno mengangkat orang lain menjadi panitia pembangunan Masjid Istiqlal. Hal itu diungkapkan Bung Hatta dalam tulisan beliau pada buku Kenang-kenangan 70 Tahun Buya Hamka yang diterbitkan tahun 1978, dengan editor Solichin Salam.

Ahmad Syafii Maarif dalam Kata Pengantar buku Adicerita Hamka karya terjemahan dari buku James R. Rush mengatakan, “Saya tidak tahu sudah berapa jumlah tesis dan disertasi yang ditulis para akademisi dalam membedah pemikiran Hamka. Ada sebuah paradoks di sini. Seorang autodidak tanpa sertifikat formal yang dimilikinya telah melahirkan begitu banyak peminat untuk mendalami pemikiran Hamka di ranah agama, filsafat, sastra, tafsir Al-Quran, tasawuf, dan sejarah. Namanya diabadikan dalam sebuah universitas, yakni Universitas Prof. Dr. Hamka di Jakarta dan di Padang, dan Pesantren Hamka sebagai bentuk penghargaan kepada si piawai ini.”

Pada dekade 1970-an sampai awal 1980-an kalau orang bertanya, siapa pemimpin ulama Indonesia? Jawabannya, hampir pasti ialah Buya Hamka. Sosok Buya Hamka sebagai ulama dan pujangga Islam Indonesia tidak hanya dikenal luas di tanah air, tapi juga di luar negeri.

Sisi humanis dari pribadi Hamka yang melekat dalam kenangan banyak orang, ialah integritas moralnya, sosok sebagai ulama modernis nan karismatik, kesederhanaan dan jauh dari kecintaan terhadap harta benda. Rumahnya terbuka bagi siapa saja, tidak membeda-bedakan siapapun tamu yang datang. Hamka bagaikan “dokter rohani” di tengah hiruk pikuk kota metropolitan Jakarta dengan segala macam problemanya.

Hamka seorang ulama yang berjiwa besar, kokoh pendirian, namun  menghargai orang lain yang berbeda keyakinan. Dakwahnya memancarkan kearifan dan membangunkan jiwa umat. Peranan Hamka diakui sebagai figur sentral yang berhasil ikut mendorong terjadinya mobilitas vertikal Islam di Indonesia, meminjam istilah Cak Nur (Nurcholish Madjid), dari suatu agama yang “berharga” hanya untuk kaum sarungan dan pemakai bakiyak di zaman kolonial menjadi agama yang semakin diterima dan dipeluk dengan sungguh-sungguh oleh “kaum atasan” Indonesia merdeka.  Hamka berhasil merubah postur kumal seorang kiyai atau ulama Islam menjadi postur yang patut menimbulkan rasa hormat dan respek.

Universitas Al-Azhar Cairo pada tahun 1960 menganugerahkan gelar Doktor Honoris Causa kepada Hamka. Pidato ilmiah Hamka yang ketika itu berkesan bagi pimpinan Universitas Al-Azhar adalah, “Pengaruh Ajaran dan Pikiran Syekh Mohammad Abduh di Indonesia”. Sekian tahun kemudian, Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) menganugerahkan gelar Doktor Honoris Causa (Doktor Persuratan) kepada Hamka yang prosesi pengukuhannya pada 1974 dihadiri Perdana Menteri Tun Abdul Razak. Hamka dikukuhkan sebagai sebagai Guru Besar oleh Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta dan Universitas Prof. Dr. Moestopo Beragama, Jakarta. Ilmuwan Barat John L. Espito dalam Oxford History of Islam mensejajarkan Hamka dengan Sir Muhammad Iqbal, Sayid Ahmad Khan dan Muhammad Asad.

Bangunlah Masjid Lebih Dahulu

Sosok Hamka yang ramah, akrab dengan anak muda dan tiada memiliki jarak dengan segala lapisan masyarakat, memakmurkan masjid melalui dakwah dan amaliyahnya. Kalau ada sesuatu yang tidak dapat dipisahkan dari Hamka, itulah Masjid Agung Al-Azhar Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Masjid yang dalam sejarahnya dikenal sebagai salah satu basis dakwah Muhammadiyah di DKI Jakarta dan pengurusnya dahulu banyak berasal dari suku Minang atau orang lazim menyebut “orang padang.”

Sampai dekade 1950-an, masjid di ibukota Jakarta pada umumnya bangunannya masih sederhana, belum ada Masjid Agung yang indah dan megah. Walikota Jakarta Raya Sjamsurizal, seorang tokoh Masyumi, bersama Pengurus Masyumi Jakarta Raya berinisiatif membentuk Yayasan Pesantren Islam (YPI) tanggal 7 April 1952, diketuai oleh Sjamsurizal dibantu beberapa tokoh umat Islam yang lain. Walikota menghibahkan kavling tanah seluas 4 hektar, di Jalan Sisingamangaraja Kebayoran Baru untuk kepentingan umat Islam. Semula biaya pembangunan gedung akan dibantu oleh Menteri Sosial Dr. H. Syamsuddin, namun tidak sempat terealisasi karena pergantian kabinet.

Pengurus YPI yakni K.H. Abdullah Salim dan K.H. Ghazali Syahlan menemui Hamka yang baru pindah ke Jakarta. Beliau diminta pendapat, manakah yang harus dibangun lebih dahulu, gedung sekolah atau masjid, mengingat dana yang ada sangat terbatas? Hamka menyarankan, bangunlah masjid lebih dahulu. Tapi bangunan masjid itu hendaklah sedemikian rupa, dilengkapi ruangan-ruangan kantor, aula untuk rapat dan kuliah. Sementara bangunan gedung sekolah dan lain-lain belum terwujud, dapatlah ruangan itu dimanfaatkan sebagai penarik sumbangan hartawan dan umat untuk pembangunan pesantren atau sekolah secara berangsur-angsur. Saran Hamka diterima sepenuhnya oleh YPI. “Manakala masjid telah dibangun, maka saya berjanji akan bersedia menjadi khadam-nya”, ujarnya.

Rektor Universitas Al-Azhar Cairo Prof. Dr. Syaikh Mahmoud Syaltout pada awal 1961 mengadakan kunjungan ke Indonesia sebagai tamu negara. Ketika mengunjungi Masjid Agung Kebayoran, Mahmoud Syaltout tertarik dengan pengelolaan masjid dan kegiatan-kegiatan dakwah di masjid tersebut. Syaikh Mahmoud Syaltout menghadiahkan nama “Al-Azhar” untuk Masjid Agung Kebayoran. “Bahwa mulai hari ini, saya sebagai Syaikh dari Jami’ Al-Azhar, memberikan bagi masjid ini nama Al-Azhar, moga-moga dia menjadi Al-Azhar di Jakarta, sebagaimana adanya Al-Azhar di Cairo.”

Al-Azhar artinya, bersinar yang memancarkan cahaya terang. Hamka adalah khatib dan Imam Besar Masjid Agung Al-Azhar sejak masjid itu berdiri. Hamka yang pertama kali menggerakkan kegiatan masjid kebanggaan umat Islam yang kini berada di tengah kawasan elite Kebayoran Baru itu. Kediaman Hamka sendiri terletak di seberang jalan sebelah utara masjid, di Jalan Raden Patah III No 1, mulai dibangunnya tahun 1956 atau dalam bahasa beliau, “mendirikan  rumah kediaman, untuk berteduh anak dan istri di Kebayoran Baru.”

Dalam buku Pribadi dan Martabat Buya Prof. Dr. Hamka (1981) karya H. Rusjdi Hamka, menarik disimak penuturan pengarang biografi yang sekaligus putra Hamka itu sebagai berikut:

“Penduduk asli Betawi kurang biasa dengan masjid yang modern dan imamnya yang orang Padang dan Muhammadiyah. Sedangkan orang-orang gedongan masih merasa agak segan. Satu dua dari kalangan gedongan-gedongan yang datang, menghendaki agar masjid ini lebih modern lagi. Sebuah usul dari seorang Nyonya, minta agar shaf wanita tidak lagi di belakang. Islam menghormati wanita, kenapa kalau shalat wanita harus di belakang? Ada lagi usul agar azan itu benar-benar bisa menarik orang ke masjid, muazinnya supaya gantian antara pria dan wanita. ‘Soal-soal semacam yang ibu fikirkan itu sebaiknya kita turuti saja sunnah Nabi’. jawab Hamka. Semakin hari jamaah Masjid Agung Al-Azhar tambah ramai. Dan orang-orang Betawi yang tadinya curiga melihat orang gedongan dari seberang yang tidak bermazhab dan sebagainya, mulai biasa bergaul di masjid itu mendengarkan pengajian-pengajian Hamka. Suasana kekeluargaan antara para jamaah benar-benar terjalin dengan mesra.”

“Tidak hanya itu – tulis Rusjdi Hamka – mereka yang kebanyakan bekas-bekas kuli atau pekerja kasar ketika masjid dibangun, dan menetap di masjid itu menunggu pekerjaan lain, mendapat perhatian Buya Hamka. ‘Tolonglah carikan pekerjaan.’ ujar Buya pada jamaah-jamaah kalangan gedongan. Pak Anib, Haji Tohar, Pak Jumanta, Abing, dan banyak lagi, berhasil bekerja di rumah-rumah jamaah yang lain. Beberapa orang di antara mereka disampaikan niatnya untuk menunaikan ibadah haji dengan bantuan jamaah dan anjuran Hamka. Tapi masjid yang besar itu, masih serba kurang. ‘Masjid kita perlu tikar, biayanya sekian. Saya sumbangkan sekian.’, kata Hamka seraya mengeluarkan uang dari sakunya. Kalau kebetulan di antara jamaah itu ada orang-orang kaya, Hamka memandang kepadanya. ‘Ha, itu ada Hasyim Ning, berapa?’ ‘Saya borong semua, uang Buya gunakan saja untuk yang lain.’ ujar hartawan yang menjadi salah seorang dari jamaah pertama Masjid Agung Al-Azhar itu. ‘Selesai satu pekerjaan, ada lagi pekerjaan lain yang menunggu. Bagaimana kalau kita beli mimbar yang bagus?’ ‘Setuju.’ jawab jamaah.

Sebuah jam besar di bagian muka, kursi-kursi kuliah di aula bawah, peralatan kantor, alat-alat pengeras suara yang lengkap dan hiasan kaligrafi yang memenuhi dinding-dinding bagian atas Masjid Agung Al-Azhar, sampai berdiri sekolah-sekolah yang ada sekarang, semuanya, dibiayai oleh jamaah di bawah pimpinan dan anjuran Buya Hamka. Sayang kekompakan jamaah itu berhenti beberapa tahun tatkala Buya ditangkap pada tahun 1964.” Demikian tulis Rusjdi Hamka yang melanjutkan posisi Hamka memimpin Majalah Panji Masyarakat.

Kuliah Subuh di masjid-masjid wilayah Jakarta dipelopori oleh Masjid Agung Al-Azhar. Hamka menyampaikan materi Kuliah Subuh tentang Tafsir Al Quran. Seperti diketahui dari sejarah, Masjid Agung Al-Azhar menjadi kubu pertahanan umat Islam terhadap Komunis/PKI yang hendak menguasai Indonesia. Di kompleks Masjid Agung Al-Azhar yang selesai dibangun tahun 1957 itu Hamka memimpin penerbitan majalah Panji Masyarakat dan majalah Gema IslamHamka dikenal luas sebagai jurnalis sejak sebelum kemerdekaan. Ia pernah memimpin majalah Pedoman Masjarakat di Medan dan berhenti terbit ketika balatentara Jepang masuk menjajah Indonesia.

Dalam masa revolusi kemerdekaan, Hamka terjun ke medan perjuangan  fisik melawan penjajahan di daerah Sumatera Barat. Hamka mengobarkan semangat perjuangan rakyat untuk membela kemerdekaan tanah air. Ia mengisi tempat yang penting di dalam perjuangan kemerdekaan nasional di Sumatera Barat.

Membimbing Umat, Menasihati  Penguasa

Sekitar tahun 1950-an Hamka aktif dalam Dewan Pimpinan Masyumi. Salah satu ucapan beliau ketika itu tatkala politik menjadi “panglima” dan orang berebut mencari kedudukan, Hamka menyatakan, “Kursi-kursi banyak, dan orang yang ingin pun banyak. Tetapi kursiku adalah buatanku sendiri.”

Di masa Orde Baru, Hamka terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Umum Pertama Majelis Ulama Indonesia (MUI) tahun 1975 sampai mengundurkan diri pada 1981. Sebagai ulama yang berjiwa independen, Hamka membangun citra MUI sebagai lembaga independen dan berwibawa yang mewakili suara umat Islam. Hamka menolak mendapat gaji atau honor sebagai Ketua Umum MUI. Mantan Menteri Agama H.A. Mukti Ali menulis dalam buku Hamka Di Mata Hati Umat (1983), “Berdirinya MUI adalah jasa Hamka terhadap bangsa dan negara. Tanpa Buya, lembaga itu tak akan mampu berdiri.”

Dalam acara penutupan Musyawarah Nasional I Majelis Ulama Seluruh Indonesia pada 27 Juli 1975 Hamka menyampaikan pidato yang padat dan mengesankan tentang perjuangan dan kepemimpinan ulama di tengah masyarakat. Hamka mengibaratkan posisi Ulama terletak di tengah-tengah laksana kue bika yang sedang dimasak dalam periuk belanga. “Dari bawah dinyalakan api. Api yang dari bawah itu ialah berbagai ragam keluhan rakyat. Dari atas dihimpit dengan api. Api yang dari atas itu ialah harapan-harapan dari Pemerintah. Berat ke atas, niscaya putus dari bawah. Putus dari bawah, niscaya berhenti jadi Ulama yang didukung rakyat. Berat kepada rakyat, hilang hubungan dengan Pemerintah, maksud pun tidak berhasil. Apa jalan keluar dari kesulitan itu? Jalan keluar itu pasti ada. Siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya akan diberi Allah baginya jalan ke luar. Ulama sejati, waratsatul anbiya, tidaklah dapat dibeli!” tegas beliau.

Sewaktu MUI baru berdiri, seorang mubaligh muda H. Hasyim Adnan bertanya kepada Hamka, “Apa sanksinya kalau Pemerintah nanti tidak mau menjalankan suatu keputusan atau fatwa dari Majelis Ulama?” Hamka men­jawab, “Tidak ada sanksi yang dapat kita pergunakan. Kita sebagai ulama hanya berkewajiban melakukan amar makruf nahi mungkar. Kewajiban kita di hadapan Allah hanya menyampaikan dengan jujur apa yang kita yakini. Sanksi orang yang menolak kebenaran yang kita ketengahkan bukanlah dari kita. Kita ini hanya ma­nusia yang lemah. Yang memegang sanksi adalah Allah Ta’ala sendiri.”

Sebagai ulama penjaga akidah umat, Hamka sebagai Ketua Umum MUI menyampaikan saran dan masukan kepada Presiden Soeharto, misalnya  mengenai persoalan Kristenisasi dan Aliran Kepercayaan yang meresahkan umat Islam dan MUI di masa itu. Kalangan penghayat Kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, meminta kedudukan mereka disamakan dengan agama, tapi tidak mau disebut  agama. Sampai ada usaha supaya di dalam Kartu Tanda Penduduk (KTP), di samping ditulis agama, hendaklah ditulis kepercayaan dan meminta diadakan sumpah jabatan tersendiri. Hamka dalam surat pribadinya kepada Presiden Soeharto tanggal 29 April 1976 memberi masukan dan pandangan seandainya pemerintah salah mengambil keputusan, “… besar kemungkinan bahwa pertentangan yang akan timbul, bukan persatuan.” Adapun mengenai isu Kristenisasi, sikap Pak Harto ketika itu sejalan dengan pandangan MUI bahwa kalau hendak menciptakan kerukunan beragama, maka orang yang sudah beragama jangan dijadikan sasaran untuk propaganda agama yang lain.

“Ayah berbuat bukan untuk kepentingan pribadi, bukan untuk popularitas  dan mengharap pujian manusia. Biarlah dimaki-maki, Tuhanlah yang Maha Mengetahui. Dan jangan lupa, kalau terjadi akibat-akibat negatif, biarlah ayah sendiri menanggung risiko, jangan Majelis Ulama terbawa-bawa.” kata Hamka seperti dikutip Rusjdi Hamka, soal surat yang dkirimnya kepada Presiden Soeharto menanggapi polemik seputar Aliran Kepercayaan. “Kenapa harus dirahasiakan.” tanya Rusjdi tatkala ayahnya akan membawa sendiri surat itu ke alamat Presiden Soeharto di Jalan Cendana, Jakarta. “Kita wajib menjaga kehormatan Presiden, jika umum mengetahui pasti akan menimbulkan penafsiran-penafsiran yang tidak kita inginkan.” tandas beliau.

Dalam hal toleransi antar umat beragama Hamka melandaskan sikapnya pada prinsip yang diajarkan agama, “Karena toleransi dengan melupakan bimbingan Al-Quran adalah toleransi yang akan membawa kita hanyut.” tegasnya.  Hamka menulis dalam rubrik tetap Dari Hati Ke Hati di Majalah Panji Masyarakat, “Janganlah lupa kawan, bahwa sebagai Muslim kita percaya bahwa di belakang hidup yang sekarang ini ada lagi hidup. Itulah hidup yang kekal dan itulah yang sejati hidup. Tindak tanduk kita selama di dunia ini, yang hanya sejenak, akan kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah kelak di hari akhirat itu!”

Hamka menaruh perhatian besar terhadap upaya membangkitkan ruh tajdid atau semangat pembaharuan di kalangan umat Islam masa kini. Tajdid yang dimaksud adalah pembaharuan cara memikirkan agama, sebab kalau tidak ada tajdid, agama akan membeku dan yang bid’ah akan mengalahkan yang sunnah. Ia tidak sependapat dengan sebagian orang yang hendak memodernisasikan Islam dengan mempreteli Islam itu sendiri, atau meninggalkan pokok-pokok ajarannya. Menurut Hamka, seorang pejuang Islam harus mengenal perbedaan antara tajdid menurut sabda Nabi dan modernisasi menurut keinginan kaum orientalis dan missionaris

Hamka pernah mengutarakan kerisauan melihat kenyataan nilai-nilai agama yang selama ini telah membentuk kepribadian bangsa, digoyang dan digoncangkan oleh faham materialisme yang sangat mencolok mata. Namun Hamka tetap optimis terhadap masa depan umat Islam di negara kita. Kepada wartawan Kons Kleden, Hamka mengatakan, “Coba perhatikan betapa besar minat dan perhatian angkatan muda sekarang terhadap kehidupan beragama. Di kalangan kaum terpelajar semangat untuk memperdalam pengertian tentang agama makin tumbuh. Untuk kesemua perkembangan tersebut, kita wajib mengucap syukur alhamdulillah dan insyaallah… perkembangannya akan lebih baik lagi”.

Menurut mantan Menteri Agama H.A. Mukti Ali dalam buku Perjalanan Terakhir Buya Hamka (1981), di Indonesia banyak ulama ataupun pujangga, namun ulama sekaligus pujangga hanyalah Buya Hamka. Hamka adalah sosok ulama yang mampu menjadi perekat umat karena prinsip dan kebijaksanaan dakwahnya. Tokoh Nahdlatul Ulama (NU) dan mantan Ketua DPR-GR K.H.A.Syaikhu dalam buku Hamka Di Mata Hati Umat, menulis kesaksiannya bahwa Hamka menempatkan dirinya tidak cuma sekedar pimpinan Masjid Agung Al-Azhar atau organisasi Muhammadiyah saja, tetapi juga sebagai pemimpin umat Islam secara keseluruhan, tanpa memandang golongan.

Jangan Singkirkan Agama dari Negara

Dalam Kuliah Umum tentang “Hubungan Antara Agama dan Negara Menurut Islam”, atas undangan Sekolah Tinggi Theologi Kristen Jakarta tanggal 21 April 1970, Hamka menegaskan:

“Islam tidak mengenal bahwa agama adalah urusan pribadi, sedangkan soal-soal kehidupan ini tidak ada sangkut-pautnya dengan agama atau agama tidak usah dicampur-adukkan ke dalamnya. Sebagai orang beriman kami tidak dapat menerima ini. Karena itu tidaklah Islam dapat menerima teori yang dinamakan pemisahan agama dengan negara. Sebab negara menurut pandangan Islam tidak lain daripada alat untuk melaksanakan hukum kebenaran dan keadilan bagi rakyatnya. Dan kebenaran dan keadilan yang mutlak ialah dari Allah. Sebab itu dalam Islam mengurus negara adalah salah satu cabang dari agama.”

Menurut Hamka, “Bagaimana pun bentuk negara yang didirikan oleh umat Islam menurut zaman dan negerinya, kondisi dan situasinya, yang penting ialah dari mana sumber hukum dan bagaimana cara melaksanakannya. Islam tidak dapat menerima sesuatu perundang-undangan yang terlepas dari pokok syariat, yang bersumber dari Al Quran dan Sunnah Nabi.”

Hamka memberi pengandaian, “Tidaklah dapat tergambar dalam pemikiran bahwa seorang yang memeluk suatu agama sejak dia mengurus negara, agamanya itu musti disimpannya. Anggota DPR kalau pergi ke sidang, agamanya tidak boleh dibawa-bawa, musti ditinggalkannya  di rumah. Kalau dia menjadi Menteri, selama sidang Kabinet, agamanya musti diparkirnya bersama mobilnya di luar. Dan kalau dia Kepala Negara haruslah jangan memperlihatkan diri sebagai Muslim atau Kristen selama berhadapan dengan umum. Simpan saja agama itu dalam hati. Nanti sampai di rumah baru dipakai kembali. Saya percaya bahwa cara yang demikian hanya akan terjadi pada orang-orang yang memang tidak beragama. Kalau dia seorang Muslim yang jujur, agama yang dipeluknya itulah yang akan mempengaruhi sikap hidupnya, di luar atau di dalam parlemen, di rumah atau di sidang Kabinet, dalam hidup pribadi atau hidup bernegara. Dan dia akan menolong agamanya dengan kekuasaan yang diberikan negara kepadanya …”  papar Hamka.

Ketulusan Melayani Umat

Hamka dalam perkawinannya dengan istrinya Hj. Siti Raham binti Endah Sutan, dikaruniai 10 orang anak. Namun jika datang pemuda-pemuda yang ingin belajar dan membutuhkan tumpangan hidup di kota Jakarta, kerapkali Hamka menyambut, ananda saya terima sebagai anak yang kesebelas. Tidak sedikit anak-anak muda yang pernah ditampung, diasuh atau dibimbing oleh Hamka.

Ketulusan melayani umat dari berbagai lapisan sosial, menyebabkan sosok Hamka sangat dikenal sebagai “dokter rohani” yang nasihat-nasihatnya mampu mengobati penyakit masyarakat seperti kemalasan, kebodohan, kemiskinan, serta kerusakan akhlak dan moral. Orang nonmuslim yang hendak masuk Islam, orang yang ingin berkonsultasi soal agama, orang yang rumah tangganya dilanda masalah dan konflik suami-istri, dan tidak sedikit pula orang yang datang mengadukan kemalangan yang menimpanya, diterima dan dilayani Hamka dengan baik, dinasihati, dan diberi bantuan semampunya.

Di pagi Subuh, seorang pencuri masuk pekarangan rumahnya hendak mencuri nangka di pohonnya, namun tertangkap tangan oleh anak-anak Hamka.  Oleh Hamka, dicegah jangan pencuri itu diapa-apakan, jangan dilaporkan ke polisi, tetapi dinasehati dan malahan diberi makan. Perlakuan Hamka semacam itu meluluhkan hati orang yang lemah iman sehingga mencuri milik orang lain menjadi menjadi sadar dan malu mengulangi perbuatannya.

Kolomnis Kons Kleden yang beragama Katolik mewancarai Hamka di tahun 1980 menulis pengalaman dan kekagumannya pertama kali bertemu ulamar besar ini, yang dimuat di Harian Pelita setelah Hamka meninggal dunia dengan judul “Sang Bapak Telah Pergi”. Berikut kutipan tulisan Kons Kleden:

“Setengah lima sore saya sudah berada di rumahnya. Wawancara mulai diadakan jam lima. Namun melihat tamu yang antri di depan rumah, waktu itu saya ragu apakah janji tersebut dapat dipenuhi. Tua muda, pria maupun wanita berderet dari depan pintu hingga ke pagar. Semuanya punya satu tujuan: Bertemu dengan Buya. Saya pun ikut menunggu. Di samping saya duduk seorang lelaki setengah tua dengan sebuah tas berwarna hitam. Mengisi waktu luang saya sengaja mengajaknya ngobrol. ‘Lalu apa tujuan anda datang bertemu Buya?’, tanya saya. ‘Saya ingin meminta restu dari Buya tentang buku yang saya tulis di samping meminta Buya menulis sedikit sambutan.’ jawabnya. ‘Sudah lama kenal Buya?’ tanya saya lagi. ‘Ah, Buya itu kan milik masyarakat, siapa saja bisa datang kepadanya untuk minta tolong atau nasihat, jawabnya bersemangat.’ Selang beberapa waktu datang seorang pria yang kelihatannya sangat kumal. Ia bersalaman dan ngobrol bersama kami. Menilik pakaiannya ia seperti gelandangan saja. Tujuannya bertemu Buya adalah meminta sumbangan…. untuk dirinya. Menurut ceritanya, keluarganya tertimpa musibah. Ternyata ia yang malahan diterima duluan oleh Buya. Sama hangatnya, sama penuh perhatiannya, seperti Buya menerima tamu-tamu yang datang bermobil atau berdasi. Melihat hal itu ada perasaan kecil di dalam diri saya berhadapan dengan Buya. Jam lima tepat giliran saya untuk bertemu.“ tulis Kons Kleden.

Suatu hari sepasang muda mudi mahasiswa IKIP Jakarta datang ke rumah Hamka. Salah satunya memperkenalkan diri sebagai anak Pramoedya Ananta Toer. “Oh anak Pram, apa kabar bapakmu sekarang? tanya Hamka dengan ramah. “Sudah bebas Buya.” Jawab anak itu.  Hamka memuji karya-karya Pram seperti Keluarga GerilyaSubuh, dan lain-lain. Putri Pram itu meminta bantuan Hamka untuk meng-islamkan pemuda temannya itu yang akan menikahinya. Ketika akan pamit, Hamka titip salam untuk Pram. Anak itu menangis, mungkin dia tak menyangka akan diterima dengan sangat baik oleh seseorang yang pernah dimusuhi, difirnah dan dicaci oleh ayahnya, Pramoedya Ananta Toer, sastrawan besar beraliran kiri di zaman jaya rezim Orde Lama.

Teguh Memegang Prinsip dan Pemaaf

“Maafkanlah saya jika kami Majelis Ulama tidak mempropagandakan Pancasila dalam setiap percakapan, ceramah, pidato dan tabligh-tabligh. Karena kami merasa bahwa yang diperlukan saat ini ialah bukti siapa yang benar-benar menghayati dan melaksanakan Pancasila itu dalam praktek kehidupan sehari-hari.” ucap Hamka dalam pidatonya ketika dikukuhkan kembali menjadi Ketua Umum MUI periode ke-2 dalam Munas MUI tahun 1980. Kepemimpinan MUI periode kedua tidak sempat dijabatnya sampai akhir periode.

“Sejak semula telah dimaklumi bahwa Majelis Ulama adalah sebagai penghubung antara Pemerintah dengan rakyat, khususnya umat Islam. Sekedar tenaga yang ada pada kami, telah kami coba mengerjakan kewajiban itu. Akan tetapi  terus terang saya kemukakan dalam keadaan sekarang, terdapat kesenjangan dalam hubungan Pemerintah dan rakyat itu. Yaitu kurangnya saluran dari rakyat untuk menyuarakan suara hati mereka kepada pemerintahnya, sedang dari Pemerintah telah cukup banyak alat-alat komunikasinya. Oleh sebab itulah, Majelis Ulama lebih banyak menyuarakan keluhan-keluhan rakyat ini untuk minta perhatian kepada Pemerintah” lanjut Hamka.

Kejujuran dan ketegasan Hamka memegang prinsip telah teruji dan dibuktikan dalam berbagai gelombang hidup yang dilaluinya. Kepribadian yang rendah hati, pemaaf dan tidak pendendam terpancar dalam segenap sisi hidup beliau. Hamka secara terbuka lewat sebuah tulisannya, telah memaafkan semua orang yang pernah menyakitinya saat mereka berkuasa. Ketika Presiden Pertama Republik Indonesia Ir. Soekarno wafat 21 Juni 1970 Hamka bertindak sebagai imam shalat jenazah proklamator kemerdekaan itu. Semua orang tahu Hamka dikarantina karena fitnah politik PKI yang mempengaruhi rezim Orde Lama.

Berbuat baik kepada orang yang pernah memusuhinya bagi Hamka bukanlah sesuatu yang sulit dilakukan. Mengenai Pramoedya Ananta Toer yang anaknya diterima dengan ramah oleh Hamka dan mengislamkan calon mantu Pram, Rusjdi Hamka pernah bertanya, “Lupakah ayah pada siapa Pramoedya itu?”  Jawab Hamka, “Betapapun dia membenci kita, kita tak berhak menghukumnya. Allah-lah Yang Maha Adil. Dan dia pun telah menjalani hukumannya dari penguasa di negeri kita ini.” tegas Hamka.

Dalam Tafsir Al-Azhar, juzu 1, Hamka menulis, “Sungguh Allah Maha Kuasa! Zaman bergilir, ada yang naik dan ada yang jatuh. Dunia tiada kekal. Bagi diriku sendiri, di dalam hidup ini akupun datang dan akupun akan pergi. Kehidupan adalah pergiliran di antara senyum dan ratap. Air mata adalah asin, sebab itu dia adalah garam dari penghidupan.”

“Buya Hamka adalah ulama besar yang mempunyai karakter. Tindakannya yang terakhir merupakan salah satu karakternya yang perlu diingat-ingat, dia tidak ragu-ragu melepaskan kedudukannya demi sesuatu yang diyakininya benar, dia juga seorang pembela kebenaran,” kenang sahabatnya Mohammad Natsir kepada wartawan ketika Hamka berpulang.

Pasca MUI mengeluarkan fatwa mengenai Natal Bersama pada 1981, Hamka ditekan oleh Pemerintah dalam hal ini Menteri Agama Jenderal Alamsjah Ratu Perwiranegara yang menyatakan kecamannya atas tersiarnya Fatwa MUI tersebut, Menteri Agama menunjukkan kemarahannya dan menyatakan ingin mengundurkan diri sebagai menteri. Menyikapi isu politik pasca Fatwa MUI yang menyatakan haram hukumnya seorang muslim menghadiri perayaan Natal Bersama, umat Kristiani itu, Hamka pada 18 Mei 1980 meletakkan jabatan sebagai Ketua Umum MUI daripada mengorbankan sikap dan pendiriannya. Hubungan Hamka dengan Alamsjah yang sempat memburuk menemukan antiklimaksnya ketika Menteri Agama Alamsjah Ratu Perwiranegara hadir dan berpidato sewaktu pemakaman jenazah almarhum Buya Hamka, disaksikan oleh ribuan orang. Bahkan Alamsjah menawarkan biaya perawatan Hamka di rumah sakit ditanggung oleh Kementerian Agama.

Warisan Hamka Untuk Indonesia    

Saat memberi sambutan dalam acara mengenang Rektor Universitas Al Azhar Mesir Prof. Dr. Syekh Abdul Halim Mahmud di Jakarta tahun 1976, Hamka mengatakan, “Tidak semua yang telah hilang begitu gampang terganti. Wafatnya seorang ulama besar artinya suatu kehilangan luar biasa besarnya. Padahal membuat seorang ulama apalagi yang besar lagi wara’ dan tawadhu seperti al-maghfurlah Abdul Halim Mahmud bukan main beratnya…”.

Kalimat ini yang dirasakan umat sewaktu Hamka sendiri yang pergi untuk selamanya karena tidak mudah mencari penggantinya, baik dari segi bobot keulamaan, wawasan keilmuwan, keteladanan pribadi, keteguhan memegang prinsip dan pengaruh karismatiknya.

Hamka sosok yang langka dan sampai sekarang banyak orang rindu sosok ulama atau  pemimpin agama yang mengayomi umat, seperti Hamka. Oleh umat beliau dicintai, dan oleh Pemerintah disegani serta di antara sesama ulama terjalin hubungan baik. Sampai akhir hayatnya Hamka berkedudukan sebagai Penasihat Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Tulisan Nurcholish Madjid (Cak Nur) dalam buku Kenang-kenangan 70 Tahun Buya Hamka (1978) menarik direnungkan, “… Sekarang Buya Hamka telah berusia 70 tahun. Melihat usia yang cukup lanjut itu terasa pilu di hati memikirkan apakah ada pengganti beliau kelak yang akan meneruskan peran kepemimpinan dan kesarjanaan beliau. Meskipun agama mengajarkan agar kita tidak berputus asa dari uluran tangan Tuhan, namun melihat keadaan lahiriah, sulit membayangkan di bumi Indonesia akan lahir lagi seorang imam dan ulama yang menyamai Buya Hamka”.

Hamka mulai menulis dan mengarang buku sejak usia 17 tahun. Di antara buku-bukunya, ialah: Tasauf Modern, Falsafah Hidup, Lembaga Hidup Lembaga Budi, Pedoman Muballigh Islam, Sejarah Umat Islam (4 jilid), Pribadi, 1001 Soal-Soal Hidup,  Ayahku,  Revolusi Fikiran, Revolusi Agama, Di Dalam Lembag Cita-Cita, Islam dan Demokrasi, Kenang-Kenangan Hidup (4 jilid), Lembaga Hikmat, Keadilan Sosial Dalam Islam, Falsafah Ideologi Islam, Pelajaran Agama Islam, Antara Fakta dan Khayal Tuanku Rao, Islam dan Adat Minangkabau, Muhammadiyah di Minangkabau, Tanya Jawab (2 jilid),  Pandangan Hidup Muslim, Said Jamaluddin Al-Afghany, Hamka Berkisah Tentang Nabi dan Rasul (3 jilid), Empat Bulan Di Amerika (2 jilid), Bohong Di Dunia, Dari Perbendaharaan Lama, Tasauf Perkembangan dan Pemurniannya, Kedudukan Perempuan Dalam Islam, Prinsip dan Kebijaksanaan Da’wah Islam, Doa-Doa Rasulullah, dan lain-lain.

Di samping itu, semasa muda Hamka produktif menulis buku roman sastra seperti, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Di Bawah Lindungan Ka’bah, Merantau Ke Deli, Dijemput Mamaknya, Terusir, Tuan Direktur, Mandi Cahaya Di Tanah Suci, Di Dalam Lembah Kehidupan, Keadilan Ilahi, dan lain-lain.

Tafsir Al-Azhar merupakan karya monumental Hamka. Tafsir ini merupakan karya terbesar Hamka di antara lebih dari 114 judul buku yang ditulisnya mengenai agama, sastra, filsafat, tasauf, politik, sejarah dan kebudayaan. Karya-karya Hamka mempunyai gaya bahasa sendiri yang khas. Tafsir Al-Azhar 30 jilid (30 juzu) disusun Hamka di dalam masa tahanan politik rezim Orde Lama selama 2 tahun lebih. Kalau orang lain bebas dari tahanan politik mengeluarkan buku kecaman terhadap rezim penguasa. Tapi Hamka, keluar dari tahanan menghasilkan tafsir Al-Quran.

Prof. Dr. James R. Rush, guru besar sejarah dari Yale University Amerika Serikat memberi ulasan Tafsir Al-Azhar, “Studi dan tulisan Hamka tentang kepercayaan agama dan pengetahuannya yang mendalam tercermin secara dramatis dalam keberhasilannya menyusun tafsir yang lengkap. Dan, untuk masyarakat Indonesia yang sedang berkembang, ia merupakan tiang penyangga. Ia mengharap agar masyarakat menjadi masyarakat Islam, masyarakat yang aman, damai dan modern di bawah lindungan Ka’bah.”

Hamka sendiri dalam Pendahuluan Tafsir Al-Azhar menjelaskan, “Penafsiran tidaklah terlalu tinggi mendalam, sehingga yang dapat memahaminya hanya tidak hanya semata-mata sesama ulama. Dan tidak terlalu rendah, sehingga menjemukan.”

Jumat pagi 24 Juli 1981 pukul 10.41 WIB bertepatan dengan 22 Ramadhan 1401, Hamka meninggal dunia di RS Pusat Pertamina Kebayoran Baru, setelah dirawat selama seminggu. Ia berpulang ke rahmatullah dalam usia 73 tahun 5 bulan. Saat dirawat di rumah sakit, ia berusaha keras untuk dapat melaksanakan shalat lima waktu sehingga tak ada yang tertinggal.

Kabar duka meninggalnya Buya Hamka mengejutkan segenap lapisan masyarakat Indonesia saat itu. Presiden Soeharto dan Wakil Presiden Adam Malik datang melayat jenazah Hamka di kediamannya. Jenazah almarhum Buya Hamka dimakamkan hari Jumat siang di TPU Tanah Kusir Jakarta Selatan, diantar oleh ribuan masyarakat setelah terlebih dahulu dishalatkan di Masjid Agung Al-Azhar. Umat Islam Indonesia dan masyarakat muslim di berbagai negara yang pernah dikunjungi Hamka merasakan duka cita mendalam dengan kepergian ulama panutan umat ini. Pemerintah Republik Indonesia pada 8 November 2011 menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada almarhum Buya Hamka.

Hamka sampai kini tetap dipandang sebagai sosok yang langka dan istimewa. Kedudukan sebagai ulama di hati masyarakat atau ulama di mata hati umat, seperti Hamka, tidak mudah dicapai kalau hanya dengan ilmu, gelar akademik atau karena popularitas. Hamka pernah mengatakan, “Tidaklah setiap orang yang populer itu orang besar, dan tidaklah setiap orang besar itu populer.” Kepribadian, akhlakul karimah, dan keikhlasan-lah yang pada akhirnya mengantarkan seseorang pada derajat dan kedudukan ulama di hati masyarakat. Untuk melahirkan ulama besar sekaliber Hamka sungguh tidak mudah dan diperlukan proses yang lama. ***

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.