Minggu, 25 Agustus 19

Burhanuddin Terlalu Semangat Dukung Jokowi

Burhanuddin Terlalu Semangat Dukung Jokowi

Jakarta – Tim pasangan Calon Presiden (Capres) nomor urut satu, Prabowo-Hatta Rajasa berencana akan melaporkan Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia, Burhanuddin Muhtadi ke pihak kepolisian. Karena pernyataan Burhanuddin beberapa waktu yang lalu dianggap provokatif.

Sekretaris Tim Pemenangan Prabowo-Hatta, Fadli Zon mengatakan bahwa pernyataan Burhanuddin beberapa waktu yang lalu yaitu, bila pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla kalah maka berarti penghitungan rekapitulasi suara KPU (Komisi Pemilihan Umum) salah.

“Kita akan melaporkan saudara Burhanuddin ke pihak kepolisian,” ujar Fadli kepada wartawan, Jakarta, Sabtu (12/7/2014).

Menurut Fadli, pernyataan tersebut dinilai sebagai sesuatu yang bersifat provokatif di tengah penghitungan manual yang saat ini  dilakukan oleh pihak KPU. Karena menurutnya, yang berhak menyatakan hasil suara yang sah adalah pihak penyelenggara Pemilu, yaitu KPU.

“Saya kira ini suatu pernyataan yang menyalahi hukum, karena yang menetapkan sah-tidaknya  adalah KPU,” pungkasnya.

Sementara itu, Ketua DPP PAN, Saleh Partaonan Daulay menilai pernyataan yang dilontarkan oleh Burhanuddin tersebut terlalu bersemangat dalam mendukung pasangan calon presiden dan calon wakil presiden nomor urut dua, Joko Widodo – Jusuf Kalla.

“Kemungkinan besar, Burhan terlalu bersemangat untuk mendukung pasangan Jokowi-JK. Selain itu, bisa jadi dia merasa bahwa penelitiannya sudah pasti benar dan tidak mungkin salah,” kata Saleh

Saleh menambahkan, saling sengketa soal kebenaran hasil Quick Count harus dijadikan pembelajaran. Terutama bagi para lembaga survei yang berperan sebagai konsultan politik. Bagaimanapun, hasil survei yang dilakukan tim sukses suatu pasangan, pasti bias dan dipenuhi dengan muatan subjektivitas.

Pengalaman menunjukkan bahwa banyak hasil survei yang berbeda dengan hitungan manual. Pada pemilihan gubernur DKI Jakarta, misalnya, banyak lembaga survei yang tidak sesuai dengan hitungan KPU. Padahal lembaga-lembaga survei inilah yang turut melakukan hitung cepat pada pilpres.

“Waktu itu saya ingat, hampir semua lembaga survei diam atas kesalahan prediksi mereka. Hanya LSI Denny yang berani mengatakan bahwa ada anomali dalam Pilgub waktu itu,” jelasnya.

Contoh lain, pada pileg lalu banyak lembaga survey yang memperkirakan perolehan suara PDI Perjuangan akan menang telak dengan memperoleh 30 persen suara nasional. Faktanya, rekapitulasi manual KPU membuktikan PDIP hanya memperoleh 18,95 persen.

Sebaliknya, partai-partai Islam banyak yang diprediksi tidak lolos parliament threshold. PKS, PPP, dan PAN diperkirakan hanya akan memperoleh suara di bawah 3,5 persen. Prediksi-prediksi itu ternyata meleset jauh. Penghitungan di KPU menyebut partai-partai itu tetap aman. Bahkan untuk PAN, mendapatkan 7,59 persen, naik dari perolehan suara pada pemilu 2009.

Semestinya, semua pihak tidak terlalu cepat melupakan kesalahan-kesalahan prediksi yang pernah dilakukan lembaga-lembaga survei.

Tanpa disadari, lanjut Saleh, Burhanuddin telah menyinggung berbagai pihak,  Bukan hanya lembaga penyelenggara Pemilu dan kontestan pilpres 2014, melainkan juga pihak-pihak terkait dan masyarakat secara umum.

“Para akademisi, khususnya ahli-ahli statistika  sudah mulai angkat bicara. Banyak di antara mereka yang merasa heran terhadap keberanian Burhanuddin Muhtadi,” ungkapnya

Saleh juga mengatakan, rekan-rekannya dari akademisi mempertanyakan basic pendidikan statistika Burhanuddin. Posisinya sebagai Direktur Eksekutif IPI bukanlah jaminan Burhanuddin menguasai ilmu statistik.

“Semua pihak mulai mempertanyakan latar belakang masing-masing para penjual survei itu. Kalau memang tidak memiliki background mendasar dalam bidang itu, semestinya dilarang untuk melakukan survei, apalagi menjualnya ke pasar politik,” tegasnya.

“Setahu saya, Burhan memang dikenal sebagai sosok yang cerdas. Namun, saya belum menemukan latar belakang spesialisasinya dalam bidang Statistika. Ketika kuliah di IAIN Syarif Hidayatullah, dia belajar Tafsir Hadist di Fakultas Ushuluddin. Ketika belajar di Australia, dia belajar di departemen Asian Studies,” pungkasnya. (Pur)

 

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.