Jumat, 24 Mei 19

Bung Karno di Mata Natsir

Bung Karno di Mata Natsir
*  M Natsir dan Bung Karno. (Sumber foto: geotimes.co.id)

Oleh:  Lukman Hakiem, Peminat Sejarah

 

DI ANTARA banyak aktor dalam sejarah Indonesia modern tercatat dua nama besar: Ir. Sukarno yang akrab dengan sapaan Bung Karno, dan Mohammad Natsir.

Dalam dinamika politik nasional, kedua tokoh itu pernah saling beradu pikiran lewat polemik tertulis, pernah sangat akrab ketika memimpin revolusi kemerdekaan, pernah juga berpisah jalan. Bahkan di masa kekuasaan Presiden Sukarno, Natsir bersama sejumlah tokoh bangsa seperti Sutan Sjahrir, Mochtar Lubis, J. Princen, Hamka, dan Imron Rosjadi dijebloskan ke penjara tanpa sesuatu proses hukum.

Dengan pasang naik dan pasang surut hubungan seperti itu, bagaimanakah Natsir menilai Bung Karno?

Berkenalan di Bandung

Pada 1981, wartawan senior dan penulis produktif Solichin Salam menulis buku berjudul Bung Karno dalam Kenangan. Salah seorang yang menyumbang tulisan di buku tersebut ialah M  Natsir.

Berikut ini tulisan Ketua Umum Partai Masyumi (1949-1958) itu seperti dimuat dalam buku terbitan Pusaka, Jakarta.

 

Bung Karno adalah salah seorang pemimpin besar bangsa Indonesia, di samping Bung Hatta

Bung Karno adalah salah seorang pemimpin besar bangsa Indonesia, di samping Bung Hatta. Ini satu kenyataan yang tak bisa seorang pun mengingkarinya. Dengan segala kelebihan dan kekurangannya sebagai manusia.

Kami berkenalan semasa penjajahan Belanda, sewaktu sama-sama tinggal di Bandung, sekalipun waktu itu saya belum aktif di partai politik. Saya aktif di organisasi Persatuan Islam (Persis), sedangkan Bung Karno menjadi pendiri dan ketua PNI (Partai Nasional Indonesia).

Pada tahun 1930-an, terjadi polemik antara saya dengan Bung Karno mengenai masalah politik dan keislaman di majalah Pandji Islam dan Pedoman Masjarakat. Polemik tersebut berjalan dengan seru, meskipun demikian saya dengan Bung Karno senantiasa bersikap objektif dan masing-masing tidak pernah melukai perasaan pribadi.

Walaupun saya tidak pernah menjadi anggota PNI di Bandung, akan tetapi pada waktu Bung Karno ditangkap Belanda dan dimasukkan ke penjara Sukamiskin Bandung, kami dari Persatuan Islam termasuk yang pertama yang menjenguk, mengirim bacaan-bacaan dan kadang-kadang oleh-oleh ala kadarnya. Sebagaimana lazimnya bila ada teman berada dalam tahanan.

 

Baca halaman berikutnya

Pages: 1 2 3 4

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.