Jumat, 21 Juni 24

Bukti, Pertumbuhan Ekonomi di Daerah Hanya Dinikmati Pemilik Modal

Bukti, Pertumbuhan Ekonomi di Daerah Hanya Dinikmati Pemilik Modal
* Anthony Budiawan. (ANTARA News/Mentari Dwi Gayati)

Obsessionnews.com – Kencangnya laju pertumbuhan ekonomi di Maluku dan Papua pada kuartal I-2024 tak membuat daya beli masyarakat di dua daerah itu kuat, tercermin dari tingkat konsumsi masyarakatnya yang masih rendah.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), wilayah Maluku dan Papua mengalami pertumbuhan ekonomi tertinggi pada kuartal I-2024 sebesar 12,15%. Pertumbuhannya jauh melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang sebesar 5,11%.

 

Dilansir CNBC, Rabu (15/5), Kepala Departemen Riset Industri dan Regional Bank Mandiri Dendi Ramdani mengatakan, dengan laju pertumbuhan ekonomi itu, sayangnya tingkat konsumsi masyarakatnya rendah. Menandakan pertumbuhan ekonomi tinggi di daerah itu tidak langsung membuat rakyatnya makmur.

 

Bahkan ia mengatakan, level konsumsi di Maluku dan Papua jauh lebih rendah dari tingkat pertumbuhan konsumsi rumah tangga secara nasional yang tercatat sebesar 4,91% pada kuartal-I 2024. Padahal produk domestik regional brutonya (PDRB) tumbuh kencang dua digit.

 

“Konsumsi di kedua provinsi itu masih relatif rendah. Untuk Maluku Utara misalnya lebih detail itu tumbuhnya 4,12% padahal pertumbuhan PDRB- nya 11,8%. Di Papua tumbuhnya 17,49% tapi pertumbuhan konsumsinya 4,3%” ungkap Dendi.

 

Managing Diretor PEPS (Political Economy and Policy Studies) Prod Dr Anthony Budiawan menilai, hal tersebut di atas adalah bukti bahwa daerah kembali terjajah oleh ‘VOC baru’, kerja sama antara ‘VOC lokal’ dan ‘VOC asing’, difasilitasi oleh para penguasa pusat.

 

Dan juga bukti, bahwa kekayaan alam milik daerah dieksploitasi (baca: dirampas) secara terang-terangan, dengan menggunakan undang-undang yang menindas rakyat daerah, serta melanggar konstitusi pasal 33 ayat (3), yang berbunyi: “Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.”

 

Ia mengungkapkan, ‘menjajah’ bangsa Indonesia memang sangat nikmat. Sudah terjajah, rakyatnya malah berterima kasih kepada penjajah. Tidak heran VOC bisa menjajah Indonesia dalam waktu yang sangat lama, 350 tahun.

 

“Bantuan sosial dianggap rejeki dan kemurahan hati penjajah, sehingga penjajah perlu diundang kembali untuk terus menjajah. Selamat menikmati penjajahan ‘VOC baru’,” tandas Prof Anthony, Kamis (16/5/2024). (Red)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.