Selasa, 4 Oktober 22

Bukan Minta Maaf PKI, Tapi Rekonsiliasi Kesejahteraan

Bukan Minta Maaf PKI, Tapi Rekonsiliasi Kesejahteraan
* ilustrasi rekonsiliasi. (ramalanintelijen)

Subang, Obsessionnews – Upaya rekonsiliasi terkait peristiwa Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia (G30S/PKI) banyak formula yang disodorkan. Diantaranya yang disampaikan acara diskusi di salah satu acara televisi swasta (ILC TV One). Salah satu formula ialah saling memaafkan tanpa melupakan peristiwanya.

Formula tersebut ditanggapi positif salah satu mantan tahanan politik (tapol) sebut saja namanya Abah (nama 75 tahun). Menurut Abah upaya rekonsiliasi cukup bagus. Lebih bagus lagi apabila berlanjut dengan memperhatikan keluarga tapol. “Padahal mereka tidak tahu menahu yang dilakukan orang tuanya,” ujarnya kepada obsessionnews.com saat ditemui di kediamannya di Desa Cisaga Cibogo Subang Jawa Barat, Rabu (30/9/2015).

Selama masa Orde Baru, kata Abah banyak anak-anak mantan tapol dan keluarganya mendapatkan diskriminasi. “Anak-anaknya (Tapol) sulit melanjutkan sekolah dan tidak bisa kerja di kantoran,” paparnya. Oleh karena itu upaya rekonsiliasi bisa diiringi dengan pemberian dukungan untuk meningkatkan kesejahteraan hidup.

Abah masuk dalam daftar Tapol akibat mengikuti kegiatan pendidikan yang dilaksanakan Ormas Pemuda Rakyat di desanya sebelum pecah G30S/PKI. Kata Abah dalam pembelajaran tersebut diantaranya mengajarkan tentang Materialisme, Dialktika dan Logika (Madilog). “Waktu itu ada kegiatan pembelajaran tentang Madilog (yang diadakan Pemuda Rakyat), Abah ikut hanya untuk belajar. Tholabul ‘ilmi,” paparnya.

Setelah pecah “Peristiwa Lubang Buaya” di Jakarta dia bersama kawan-kawan lainnya ditangkap dan dikenakan wajib lapor tiap hari ke Markas Kodim di Subang sampai akhirnya dikirim ke Pulau Buru. Itu pun dirinya “diambil” saat tengah malam dengan dibohongi akan diajak kerja dan disuruh membawa pakaian secukupnya. Padahal setelah itu Abah dikirim ke Pulau Buru. “Karena diajak akan diberi kerja, saya hanya mengambil 2 stel baju,” papar Abah.

Kini Abah hidup sederhana bersama istri dengan satu orang anak dan cucu dari kegiatan jasa membuat bahan mebeul hasil bubutan. Konon keahlian ini diperolehnya secara autodidak selama mendekam 9 tahun sebagai tahanan politik di Pulau Buru.

Pandangan masyarakat sangat baik berbeda dengan tahanan kriminal biasa. Ketika bebas pun saya sangat disambut oleh saudara di kampung pada menyambut ketika mengetahui saya tiba di kampung.

Dituduh Mencukil Mata Jenderal
“Saya berusia 18 tahun ketika menuntut ilmu di Institut Pertanian dan Gerakan Tani di Cisarua, Bogor, Jawa Barat. Ini memang yayasan milik PKI,” kisah Deborah Sumini, nenek berusia 69 tahun.

“Saya baru tiga bulan di sana. Saya ketika itu tidak tahu ada peristiwa G30S. Saya masih ingat, kampus kami kemudian didemo oleh KAPPI dan KAMI. Ada spanduk ‘ganyang Aidit’ segala.
Kami kemudian dipulangkan. Apabila situasi pulih, kami akan dipanggil lagi. Saya mengira situasi gejolak itu tidak akan berlangsung lama. Saya lantas pulang. Di sepanjang jalan, banyak papan nama PKI diturunkan, rumah-rumah dirusak, mulai Bogor sampai Pati, Jawa Tengah, tempat saya tinggal,” paparnya.

'Saya dituduh anggota Gerwani yang mencukil mata jenderal' (Deborah Sumini, kelahiran 1946, warga Pati, Jateng, mahasiswa Institut Pertanian dan Gerakan Tani, Bogor, saat ditangkap pada 1965) Foto: BBC
‘Saya dituduh anggota Gerwani yang mencukil mata jenderal’
(Deborah Sumini, kelahiran 1946, warga Pati, Jateng, mahasiswa Institut Pertanian dan Gerakan Tani, Bogor, saat ditangkap pada 1965) Foto: BBC

 

Di rumah, 8 Oktober 1965, kakak sulung saya tidak ada, sudah ‘diambil’. Situasi sangat genting. Lemari di kamar sudah diobrak-abrik. Buku-buku milik kami sudah diambil.
Setelah menyelamatkan diri dan sempat tinggal di rumah teman, saya dilaporkan oleh seseorang. Makanya, pada pukul 12 malam, rumah tempat saya tinggal digeruduk oleh polisi, Pemuda Pancasila, Banser dan Pemuda Marhaen. Rumah didobrak, saya dipukuli dan tidak sadarkan diri.

Di kantor Polres Pati, saya disiksa. Setiap saat, siang atau malam, saya ‘dibon’. Para penyiksa itu selalu mengajukan pertanyaan tetap: ‘Ini dia Gerwani yang mencukil mata para jendral’ atau ‘Ini tokoh Gerwani yang menyileti penis jendral’ atau ‘Ini penari Harum Bunga’.

“Karena saya tidak melakukannya sehingga saya tidak mengakuinya, saya kemudian disiksa. Penyiksanya sampai sepuluh orang. Kaki saya diletakkan di bawah kaki meja. Kemudian meja itu diinjak mereka,” kisahnya pula.

Para penyiksa itu selalu mengajukan pertanyaan tetap: 'Ini dia Gerwani yang mencukil mata para jendral' atau 'Ini tokoh Gerwani yang menyileti penis jendral' atau 'Ini penari Harum Bunga'. (BBC)
Para penyiksa itu selalu mengajukan pertanyaan tetap: ‘Ini dia Gerwani yang mencukil mata para jendral’ atau ‘Ini tokoh Gerwani yang menyileti penis jendral’ atau ‘Ini penari Harum Bunga’. (BBC)

Dalam kondisi tidak sadar, saya kemudian ditelanjangi. Terus tubuh saya dicolok dengan puntung rokok dan dialiri listrik. Saya baru tahu saya ditelanjangi, setelah terbangun dan mengetahui pakaian saya sudah diganti. Saya tidak bisa membayangkan…

Semua ini berlangsung sampai sekitar lima bulan. Tanggal 30 April 1966, saya dipindah ke LP khusus perempuan di Bulu, Semarang, Jateng.

Di sini kondisinya tidak manusiawi. Ruangan yang seharusnya didiami 25 orang diisi sampai 56 orang. Jadi kalau tidur dalam posisi miring, kami miring semua. ‘Ayo saatnya mlumah (telentang) atau saatnya miring,’ begitulah kami menghibur diri.

Para penyiksa itu selalu mengajukan pertanyaan tetap: ‘Ini dia Gerwani yang mencukil mata para jendral’ atau ‘Ini tokoh Gerwani yang menyileti penis jendral’ atau ‘Ini penari Harum Bunga’.
Tahun 1971, tepatnya tanggal 23 Februari, saya dipulangkan. Saya mendapat kartu penduduk yang ada tanda ET (eks tapol) sehingga tidak bisa kerja ke luar kota.

“Saya belajar menjahit, tetapi sebagian masyarakat selalu memberi stigma ‘saya bekas Gerwani, eks tapol, PKI, atau pengkhianat yang membunuh jendral’. Dan anak saya juga kena getahnya. Salah-satu anak saya yang nilai rata-ratanya 9 dan 10, tidak mendapat ranking di sekolah. Belakangan saya tahu, itu terjadi karena anak saya merupakan anak eks tapol.”

“Dan ketika anak saya yang berprestasi diajak gurunya ke SMA Nusantara di Magelang, dia akhirnya gagal diterima, walaupun saya yakin dia mampu. Saya yakin dia digugurkan karena orang tuanya eks tapol. Anak saya hampir frustasi karena masalah ini.”

“Mengapa anak saya yang tidak tahu-menahu dikait-kaitkan dengan apa yang saya alami. Inilah yang sekarang saya minta kepada pemerintah: saya tidak tahu-menahu soal G30S, saya tidak salah, kenapa saya diperlakukan sedemikian rupa,” sesal Deborah.

'Saya menangis bila ingat keluarga saya berantakan' (Supardi, 75 tahun, eks tapol pulau Buru, bekas seniman Lekra, calon relawan konfrontasi dengan Malaysia pada 1964) Foto: BBC
‘Saya menangis bila ingat keluarga saya berantakan’
(Supardi, 75 tahun, eks tapol pulau Buru, bekas seniman Lekra, calon relawan konfrontasi dengan Malaysia pada 1964) Foto: BBC

Bukan Minta Maaf Tapi Rekonsiliasi
Nampaknya, mereka berharap semoga rencana atau wacana permintaan maaf oleh Presiden Jokowi itu bisa dijabarkan atau diimplementasikan. “Pada usia 25 tahun, saya ditahan karena kebetulan komandan relawan ‘ganyang Malaysia’ adalah anggota PKI asal Situbondo, Jatim. Saya dipaksa mengaku mengetahui latar peristiwa G30S, tetapi saya jawab tidak tahu karena memang tidak mengetahuinya,” aku Supardi, kakek berusia 75 tahun.

“Saat ditahan di Polres Pati dan Baperki, saya dituduh anggota Pemuda Rakyat (organisasi kepemudaan PKI), dan saya menyatakan itu tidak benar. Jawaban ini membuat saya disiksa. Pokoknya saya dipaksa mengaku anggota PKI,” ceritanya.

“Pada September 1971, saya dibawa ke Pulau Buru dan mendekam delapan tahun. Saya tidak bisa melupakan segala siksaan yang saya alami di pulau itu, walaupun sudah setengah abad lalu. Seperti kejadian kemarin saja. Saya masih ingat para pengawal mengatakan para tapol itu bukan manusia,” bebernya. (Teddy/BBC)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.