Kamis, 23 September 21

Bukan Ekonom Pro Pasar yang diperlukan Tim Ekonomi ke Depan

Bukan Ekonom Pro Pasar yang diperlukan Tim Ekonomi ke Depan

Jakarta, Obsessionnews – Di hadapan Presiden Jokowi (29/6), di Istana Negara, ekonom asal UGM Tony Prasetyantono berpendapat bahwa tim ekonomi Jokowi ke depan pasca retooling harus dipimpin oleh ekonom yang dipercaya pasar. Seperti contohnya Sri Mulyani yang bermazhab neoklasik. Atas hal ini pengamat ekonomi dari UBK Gede Sandra, menyatakan ketidak setujuannya.

“Pak Jokowi dapat mendengarkan masukan tentang ekonomi dari mana saja, tetapi sebagai kader Marhaenis sebaiknya tetap harus berpegang pada Pancasila dan Trisakti dalam segala keputusannya. Karena bukan kebijakan ekonomi yang dipercaya pasar yang kita perlukan, melainkan kebijakan ekonomi ¬†yang dapat menciptakan keadilan sosial, sesuai Sila Kelima Pancasila dan Berdikari Sesuai Sakti Pertama Trisakti,” paparnya, Senin (29/6/2015)

Menurut Gede, bukan memperkaya yang sudah sangat kaya lah arah perekonomian kita, tapi mengangkat yang miskin dengan uluran tangan dari yang sangat kaya yang seharusnya dilakukan. Kebebasan yang kebablasan” tersebut telah menyebabkan ketimpangan di antara umat manusia yang luar biasa, dan terenggutnya kedaulatan ekonomi banyak Bangsa hingga kini.

Penerapan mazhab neoklasik yg cenderung membebaskan pasar bekerja tanpa intervensi negara selama 40 tahun terakhir, juga telah berujung pada krisis finansial dunia tahun 2008. Promotor mazhab ekonomi pasar tersebut adalah lembaga tempat Sri Mulyani bekerja, Bank Dunia, dan lembaga sekawannya di Bretton Woods, IMF.

“Sementara lembaga yang sebagian besar pekerjaannya adalah membereskan masalah ketimpangan sosial tersebut adalah Perserikatan Bangsa-Bangsa. PBB pula, lembaga internasional yang ke depannya, adalah milik masyarakat dunia baru yang multipolar dan berkeadilan. Berseberangan dengannya. Bank Dunia ingin tetap mempertahankan dunia unipolar di bawah kendali AS dan sekutu Baratnya.”

Karena itu Gede menyimpulkan, bahwa bukan ekonom yang menjadi bagian Bank Dunia, melainkan ekonom yang menjadi bagian PBB yang seharusnya dipilih Pak Jokowi untuk menjadi pemimpin dari Tim Ekonomi.

“Itu jika Pak Jokowi memang benar dapat membaca arah dinamika maju pergerakan kemanusiaan.”, pungkas mantan Aktivis ITB dab peraih magister UI ini. (Ars)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.