Kamis, 1 Oktober 20

Budi Waseso, Direktur Utama Perum Bulog

Budi Waseso, Direktur Utama Perum Bulog
* Budi Waseso. (Foto: Dok. Humas Perum BULOG)

Sejumlah langkah dia siapkan untuk menjawab tantangan tersebut. Pertama dan yang paling penting untuk mengatasi masalah pangan khususnya beras adalah bagaimana menjaga agar demand dan supply tetap seimbang, termasuk mencegah tindakan mafia beras yang sering menyimpan beras dalam jumlah besar dan mempermainkan harga.

“Memang salah satu di antaranya harga naik itu supply-nya kurang, tapi bagi saya dari kacamata polisi itu belum tentu, kalau supply-nya itu ditahan oleh kelompok-kelompok tertentu maka barang itu juga akan naik,” tuturnya suatu ketika.

Belum sebulan dia menjabat pucuk pimpinan BULOG, Buwas sudah berhasil melacak kelompok-kelompok yang mempermainkan pasokan beras di tengah masyarakat.

Perum BULOG telah bekerja sama dengan Satgas Pangan untuk memastikan bahwa tidak ada oknum yang usil secara sepihak mempermainkan distribusi beras.

Selain itu, lanjutnya, ia langsung menata birokrasi penyaluran beras karena ketidakstabilan harga beras juga disebabkan oleh sistem birokrasi yang panjang dan rumit dalam pendistribusian beras. Untuk itu, pihaknya berkomitmen untuk sudah temukan beberapa birokrasi yang kepanjangan dan merugikan.

“Dari kita (beras) kualitas baik, lalu makin ke bawah kualitas buruk, tapi brand-nya (tetap) BULOG, yang sebenarnya belum tentu juga itu dari BULOG. Cuma saya tidak bisa langsung eksekusi karena tidak punya kemampuan untuk itu. Saya serahkan kepada teman-teman Satgas pangan,” katanya lagi.

Terkait swasembada beras, Buwas mengatakan, pihaknya telah bekerja sama dengan berbagai pihak terkait untuk mewujudkan swasembada beras agar Indonesia tidak impor ke depannya.

“Dari dulu kita sebenarnya sudah bagus, tapi sawah kita berkurang, di dalam kondisi tertentu kita terpaksa harus impor. Ini kita harus kerja sama dengan Kementerian Pertanian sehingga bisa menciptakan sawah-sawah baru dan BULOG yang menyerap,” papar Buwas.

Strategi yang diterapkannya berbuah manis. Terbukti, meski jeda waktu pengangkatan dirinya sebagai Dirut Perum BULOG merupakan masa kritis, yaitu saat menjelang bulan puasa dan Lebaran 2018 di mana kebutuhan pangan masyarakat meningkat signifikan.

Namun, pengadaan logistik tak mengalami kendala berarti. Hal itu juga berlanjut di tahun 2019, Perum BULOG kembali berhasil menjaga kestabilan harga.

Ia sukses bekerja keras menjaga stabilitas pangan dari segi harga dan stok, terutama selama Ramadan dan menjelang Lebaran tahun 2019.

Ihwal itu diakui Badan Pusat Statistik (BPS). Seperti diutarakan Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Yunita Rusanti ketika itu yang mengatakan, harga pangan selama Ramadan dan Hari Raya Idul fitri justru relatif membaik.

Dia mengatakan, kondisi indeks harga yang stabil didapati pada harga bahan pangan sepanjang Ramadan.

“Sebetulnya cenderung terkendali, ya agak mendinganlah,” kata Yunita Rusanti kepada wartawan di kantor pusat BPS, Jakarta, Senin 10 Juni 2019.

Berbagai langkah kerja sama juga dilakukan Buwas untuk mewujudkan peran BULOG yang strategis sebagai penyedia pangan, stabilisasi harga, dan keterjangkauan pangan yang adil kepada rakyat, di antaranya melakukan kerja sama dengan Induk Koperasi Kepolisian Republik Indonesia (Inkopol) untuk membantu secara serius distribusi pangan BULOG kepada seluruh keluarga besar Kepolisian Republik Indonesia (Polri).

Selain itu, juga melakukan kerja sama dengan Bank BJB dalam memberikan jaminan perlindungan kerja dan jaminan kematian bagi sedikitnya 1.000 tenaga kerja gudang BULOG yang tersebar di seluruh Indonesia. Tentu banyak langkah lain yang dilakukan BULOG di bawah kepemimpinan Buwas dalam menjaga stabilitas dan terwujudnya kadaulatan pangan nasional. (Sahrudi)

 

Artikel ini dalam versi cetak dimuat di Majalah Men’s Obsession Edisi Agustus 2019 dengan tema “Figur Unggulan di 74 Tahun Indonesia Merdeka”

Pages: 1 2

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.