Rabu, 20 Oktober 21

Budi Pekerti dan Pancasila, Hentikan Kekerasan di Sekolah

Budi Pekerti dan Pancasila, Hentikan Kekerasan di Sekolah

Jakarta, Obsessionnews –  Kekarasan terjadi pada lingkungan anak sekolah. Untuk menghentikan tindak kekerasan yang terjadi di sekolah solusinya adalah menjadikan pelajaran budi pekerti dan Pancasila sebagai dasar kepada anak-anak di Indonesia.

“Pelajaran budi pekerti dan Pancasila harus menjadi kurikulum dasar bagi anak-anak di Indonesia. Ini harus diperhatikan oleh pemerintah,” tegas Wakil Ketua Komisi X DPR RI, HM Ridwan Hisjam dalam rilis tertulisnya yang dikirimkan kepada Obsessionnews.com, Rabu (4/3/2015).

Ridwan menegaskan, tindak kekerasan fisik yang dilakukan di sekolah sangat bertentangan dengan budaya kita. Karena itu, Pimpinan Komisi X DPR ini berharap, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan dapat memberi perhatian mendalam terkait masalah tersebut.

“Sesuai dengan program Nawa Cita dan revolusi mental yang diusung oleh Presiden Joko Widodo,” tandas Politisi Partai Golkar ini.

Ridwan meminta pemerintah menjadikan pelajaran budi pekerti dan Pancasila sebagai pelajaran dasar di semua tingkat pendidikan. “Dengan menetapkan hal itu, otomatis para pengajar akan menaati dan melaksanakan aturan tersebut,” tandasnya.

Sebelumnya, sebuah riset yang dilakukan oleh LSM Plan International dan International Center for Research on Women (ICRW) mendapati bahwa 84 persen anak di Indonesia mengalami kekerasan di sekolah, angka ini lebih tinggi dari tren di kawasan Asia yaitu 70 persen.

Riset yang dirilis awal Maret 2015 itu dilakukan di lima negara Asia, yaitu Hanoi (Vietnam), Siem Reap (Kamboja), Distrik Sunsari (Nepal), Distrik Umerkot (Pakistan), Jakarta dan Kabupaten Serang (Indonesia).

Survei dilakukan pada Oktober 2013 hingga Maret 2014 dengan melibatkan 9.000 siswa usia 12–17 tahun, guru, kepala sekolah, orang tua, dan perwakilan LSM.

Berdasarkan survei, Pakistan adalah negara dengan angka kekerasan di sekolah yang paling rendah di kawasan Asia, yaitu 43 persen. Siswa di Indonesia 51 persen mengaku pernah menyaksikan tindakan kekerasan di sekolah. Angka di Pakistan sangat rendah, yaitu hanya 5 persen. (Asma)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.