Jumat, 10 Juli 20

Budaya dan Agama

Budaya dan Agama

Oleh: Ustadz Felix Siauw, Pengemban Dakwah

 

Singkatnya, Cak Nun dalam banyak majelisnya menyederhanakan, bahwa agama itu ialah ibadah, perintah Allah yang berkait hamba, dan budaya adalah perantara ketika kita melakukan ibadah.

Maka menutup aurat itu agama, tapi bahannya, modelnya, itu budaya. Shalat itu agama, tapi bentuk pecinya, sarungnya, bajunya itu adalah budaya. Maka agama tak terpisah dengan budaya, sebab budaya adalah perantaranya.

Dari sini kita jadi memahami, bahwa agama itu dari Allah, satu dan tak berbeda di bumi manapun. Tapi memaknai agama, bisa berbeda-beda tergantung budaya, dan itu bervariasi tergantung banyak hal.

Maka bangsa Arab tak terkenal sambel dan soto sebagaimana Nusantara, tak tahu thiwul atau mie godhog. Tapi mereka pun punya varian makanan yang kita tak miliki, wajar saja, sebab budaya pun bisa berbeda-beda.

Maka janganlah dulu anggap tiap budaya selain Arab lantas bukan Islam. Sebab Arab tak selalu Islam, meski Arab juga jangan dianggap selalu bukan Islam. Ditempatkan sebagaimana porsinya saja.

Lalu bagaimana mengetahui mana agama dan mana budaya? Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani dalam kitab Nidzhamul Islam menawarkan pada penjelasan bab Hadharah Islam, bahwa ada perkara terkait akidah dan ada perkara yang bebas nilai.

Dalam perkara terkait akidah ini kita tak boleh mengikuti budaya itu, dan budaya bebas nilai, kita boleh saja mengikutinya.

Misal budaya kumpul kebo, buka aurat, menyembah berhala, sistem ekonomi, sistem politik, sistem budaya, ini semua terkait akidah. Sedangkan baju surjan, baju koko, baju gamis, blangkon, nasi tumpeng, sarung, itu budaya bebas nilai.

Pertanyaan lagi, bagaimana membedakan sesuatu itu terkait akidah ataukah bebas nilai? Nah, ini perlunya mengkaji Islam. Karenanya @YukNgajiID supaya lebih memahami Islam ☺️☺️☺️
.
 

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.