Sabtu, 25 September 21

BTN Terbitkan Obligasi Berkelanjutan Tahap I Rp3 Triliun

BTN Terbitkan Obligasi Berkelanjutan Tahap I Rp3 Triliun

Jakarta – PT Bank Tabungan Negara Tbk., (IDX: BBTN) pada hari ini melaksanakan Paparan Publik berkenaan dengan Penawaran Umum Obligasi Berkelanjutan II Bank BTN Tahap I Tahun 2015 (“Obligasi”) dengan nilai sebanyak-banyaknya sebesar Rp 3 Triliun. Adapun dana hasil obligasi ini akan dipergunakan perseroan untuk memperkuat struktur permodalan dalam mensukseskan program 1 juta rumah yang telah dicanangkan pemerintah.

Obligasi berkelanjutan tahap I 2015 ini akan ditawarkan dalam empat seri, yaitu; Seri A dengan tenor 3 (tiga) tahun, Seri B dengan tenor 5 (lima) tahun, Seri C dengan tenor 7 (tujuh) tahun dan Seri D dengan tenor 10 (sepuluh) tahun dengan pembayaran kupon dilakukan secara triwulan dengan pembayaran pertama pada 7 Oktober 2015.

Direktur Utama Bank Tabungan Negara Tbk, Maryono mengatakan, Penawaran Umum Berkelanjutan (PUB) tahap II ini menargetkan perolehan dana senilai Rp 6 Triliun dalam waktu maksimal 2 tahun. Namun pada tahap I ini Bank BTN menawarkan sebanyak-banyaknya Rp 3 Triliun. Adapun dana yang terkumpul dari hasil obligasi ini akan digunakan untuk memperkuat struktur permodalan dalam membiayai kredit rumah subsidi dan non subsidi serta mensukseskan program 1 juta rumah.

Dalam rangka penerbitan Obligasi Berkelanjutan Bank BTN ini, PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) telah memberikan peringkat instrument idAA (Double A). Bank BTN juga didukung oleh PT BCA Sekuritas, PT CIMB Securities Indonesia, PT Danareksa Sekuritas, PT Trimegah Securities Tbk. sebagai Pelaksana Penjamin Emisi.

Bookbuilding PUB II tahap I ini akan dilakukan pada tanggal 9 – 18 Juni 2015. Kemudian, pernyataan efektif dari OJK pada tanggal 29 Juni dan penawaran obligasi akan dilaksanakan pada tangga 1-2 Juli. Sedangkan penjatahan akan dilakukan pada tanggal 3 Juli dan pencatatan di BEI pada tanggal 8 Juli 2015.

“Penerbitan obligasi ini merupakan bagian dari rencana strategis perusahaan dalam memenuhi kebutuhan pendanaan sekaligus memperkuat struktur permodalan. Dengan penerapan rasio likuiditas terhadap pinjaman yang baru, maka loan to funding ratio (LFR) perseroan akan lebih longgar jika dibandingkan perhitungan dilakukan  melalui mekanisme loan to deposit ratio (LDR),” ujar Maryono.

Menurut Maryono penerbitan Obligasi Berkelanjutan Tahap I tahun 2015 ini jelas akan lebih memperkecil lagi posisi LFR Bank BTN. Kami optimis walaupun target kredit cukup tinggi karena pasar terbuka lebar dengan program pemerintah tentang gerakan satu juta rumah, namun disisi lain likuiditas perseroan akan tetap terjaga baik. (Iwan)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.