Minggu, 29 Januari 23

Bonie: Golkar Bisa Ikut Pilkada, Tapi Suara Anjlok

Bonie: Golkar Bisa Ikut Pilkada, Tapi Suara Anjlok

Jakarta, Obsessionnews – Pengamat Politik Universitas Indonesia (UI) Bonie Hargens menilai, Golkar hanya lari di tempat, alias tidak ada perkembangan untuk mengarah pada kebaikan. Hal ini ditengarai adanya keputusan berbeda antara Menteri Hukum dan HAM (Menkumham) yang memenangkan kubu Agung Laksono, sedangan putusan Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) memenangkan kubu Aburizal Bakre.

“Kalau Golkar berlari di tempat, keputusan PTUN kemarin hanya menyeimbangkan skor satu sama. Kalau menyelesaikan masalah itu, harus ada satu saja keputusan hukum dengan membatalkan keputusan yang sudah atau mensahkan salah satunya. Itu baru ada hukum yang sah, baru bisa ikut Pilkada dan sebagainya,” kata Bonie kepada 0bsessionnews.com, Selasa (19/5/2015).

Meski demikian, Bonie memastikan Golkar akan tetap ikut Pilkada serentak yang nanti akan digelar Desember 2015. “Kalau tidak ikut tidak mungkin,  karena UU semua partai politik terlibat tetapi yang menjadi masalah apakah Golkar bisa bersaing secara maksimal. Karena UU mengatakan partai yang bersiteru akan diwakilkan oleh kelompok berdasarkan keputusan yang sah, berdasarkan keputusan terakhir,” terangnya.

Menurut Bonie, pihak yang yang berhak mengikuti  Pilkada berasal dari kelompok yang memiliki keputusan hukum terakhir. Namun pertanyaanya, apakah keputusan PTUN merupakan keputusan terakhir?

“Kalau kemudian Menteri Hukum dan HAM bersikeras memenangkan kubu Agung untuk ikut Pilkada dan pihak PTUN memenangkan kubu Ical untuk ikut serta Pilkada, ini tergantung pemerintah dan KPU untuk menafsirkan UU 23 itu,” tandasnya.

Ia menilai, kalaupun Golkar ikut Pilkada maka perolehan suara Golkar akan turun drastis. Hal ini dipengaruhi dua indikator pemilih fanatik Golkar dan pemilih dari lapisan migran.

“Kalau untuk suara otomatis anjlok, dong. Misalnya pemilih fanatik. Golkar sudah terbelah dan merosot dari pemilih Pilkada salah satu kedua kubu ini. Dan kedua pemilih migran yang berpindah-pindah setiap momen Pilkada atau pemilu. Jadi ada penyusutan dua lapis satu di lapis basis fanatiknya, yang kedua di lapis migran,” tuturnya. (Asma)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.