Rabu, 25 Mei 22

Blokir Telegram, Penguasa Dinilai Panik

Jakarta, Obsessionnews.com – Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkoninfo) Jumat (14/7/2017) telah meminta Internet Service Provider (ISP) untuk melakukan pemutusan akses (pemblokiran) terhadap sebelas Domain Name System (DNS) milik Telegram. Pemblokiran ini harus dilakukan karena banyak sekali kanal yang ada di layanan tersebut bermuatan propaganda radikalisme, terorisme, paham kebencian, ajakan atau cara merakit bom, cara melakukan penyerangan, disturbing images, dan lain-lain yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan di Indonesia.

Adapun ke-11 DNS yang diblokir sebagai berikut: t.me, telegram.me, telegram.org, core.telegram.org, desktop.telegram.org, macos.telegram.org, web.telegram.org, venus.web.telegram.org, pluto.web.telegram.org, flora.web.telegram.org, dan flora-1.web.telegram.org. Dampak terhadap pemblokiran ini adalah tidak bisa diaksesnya layanan Telegram versi web (tidak bisa diakses melalui komputer).

Kemkoinfo sedang menyiapkan proses penutupan aplikasi Telegram secara menyeluruh di Indonesia apabila Telegram tidak menyiapkan Standard Operating Procedure (SOP) penanganan konten-konten yang melanggar hukum dalam aplikasi mereka.

“Langkah ini dilakukan sebagai upaya untuk menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI),” papar Dirjen Aplikasi Informatika Kemkoinfo Semuel A. Pangerapan melalui keterangan tertulis, Jumat (14/7).

Semuel menambahkan Telegram dapat membahayakan keamanan negar, karena tidak menyediakan SOP dalam penanganan kasus terorisme.

Ustadz Felix Siauw.

Pemblokiran Telegram tersebut diprotes oleh dai muda, Ustadz Felix Siauw. Felix yang aktif di media sosial (medsos) menilai pemblokiran Telegram merupakan bentuk kepanikan penguasa.

Ia menganalogikan kepanikan tersebut dengan kambing yang sedang disembelih. Meronta tak jelas, menendang tak tentu arah. Apapun yang bisa ditendang ya ditendang, tanpa sadar mempercepat kematiannya.

“Begitulah namanya panik, dan saya yakin kita semua pernah berada dalam kondisi panik. Kita melakukan yang tak perlu, semakin berbuat semakin salah lagi,” kata Felix melalui keterangan tertulis, Sabtu (15/7).

Kepanikan seperti kambing itu, lanjutnya, dialami oleh penguasa saat ini. Apapun yang bisa dilakukan untuk memperpanjang kekuasaan, dilakukan. Bahkan dengan cara yang tak masuk akal.

Felix kemudian mengutip perkataan Rasulullah,”Bila sudah tidak punya lagi rasa malu, maka berbuatlah sesukamu!”.

Felix mempertanyakan apalagi yang tidak ada pada penguasa panik pada saat ini?

Ia mengkritik pemerintah yang mengkriminalisasi ulama, stigmatisasi negatif bagi organisasi Islam bahkan Islam itu sendiri, penerbitan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (Perppu), sampai rencana memblokir medsos.

Felix tidak setuju kebijakan pemerintah memblokir medsos dengan alasan karena dijadikan media radikalisme dan terorisme.

“Mereka lupa, bahwa pencitraan di medsos yang justru membawa mereka jadi penguasa,” tandasnya. (arh)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.