Jumat, 31 Maret 23

Bijak Dalam Beda

Bijak Dalam Beda

Oleh: Ustadz Felix Siauw

Perbedaan dalam pandangan Islam itu ada dua, yaitu perbedaan yang dibolehkan syariat dan perbedaan yang dilarang syariat, dan semuanya sudah tegas adanya.

Adapun perbedaan yang dibolehkan syariat misalnya terkait fiqih, terkait pendapat dalam hal yang memang dimungkinkan berbeda, hal ini hanya cabang, berbeda boleh saja.

Terkait perbedaan ini, asal ada dalilnya maka perbedaan itu masuk dalam ranah “pendapat islami”, misalnya shalat tarawih, ada yang berpendapat 8, ada yang 20 rakaat, boleh saja.

Ada lagi perbedaan yang dilarang syariat, misalnya perbedaan dalam hal ushul atau pokok agama. Misalnya rukun Islam dan rukun iman, ini tidak boleh berbeda dan harus sama.

Kita harus bijak dalam menyikapi perbedaan. Bila ada orang yang melakukan berbeda dengan yang kita lakukan, maka kita harus melihat dulu, ini beda yang boleh atau tidak?

Bila pendapatnya dilandaskan pada dalil, ya sebetapapun kita tak suka dan tak cocok, ya itu masih pendapat islami yang harus kita tolerir. Itulah namanya sikap Islami.

Kalaupun kita tidak cocok dan tidak suka pada satu kajian, ya kita boleh saja mencari kajian yang lain yang lebih cocok bagi kita. Tapi kita tidak boleh memaksakan pendapat kita.

Apalagi sampai berbuat anarkis, dengan kekerasan dan paksaan membubarkan kajian misalnya, padahal itu masih dalam kerangka beda yang dibolehkan oleh syariat Islam.

Lha, Allah dan Rasul saja masih membolehkan perbedaan pendapat selama itu dalam koridor Islam, kok kita malah memaksakan semua harus sesuai dengan kita?

Kalau tidak sesuai dengan kita, lantas kita gelari, kita cap dengan hal-hal buruk semisal, “anti-NKRI”, “anti-kebhinekaan”, “anti-pancasila”, “wahabi”, “ISIS”, itu tidak adil.

Sangat lucu bila kekerasan dikedepankan daripada komunikasi, padahal sama-sama kaum beriman. Menuduh orang lain tak toleran, sementara lupa dengan diri sendiri.

Padahal di dalam Islam, bila beda itu berdasarkan dalil, maka tidak ada yang salah. Yang ada adalah siapa yang baik dan siapa yang lebih baik, fastabiqul khairat, begitu.

Dan juga ini sebuah introspeksi bagi kita semua. Jangan sampai kita memaksakan satu pendapat, dan menyalahkan yang lain, padahal bisa jadi ada banyak pendapat fiqih.

Misal, mengharamkan isbal secara mutlak, menganggap musik haram mutlak, mengharamkan maulid mutlak, menganggap tahlilan itu bid’ah, sementara ada pendapat syar’i yang lain.

Kembali lagi pada perbedaan fiqih, selama ada dalil tentu boleh berbeda, selama ada ijtihad ulama, maka kalau salah satu pahala kalau betul dua pahala, tak ada yang salah.

Bila kita meyakini satu pendapat sebagai yang paling benar, ya silakan, hanya saja harus bijak menempatkan diri agar tidak menyalahkan orang yang punya pendapat syar’i lain.

Begitu pula bila kita mempraktekkan peringatan maulid, tahlilan, yasinan, bukan berarti lantas menjamin kita jadi paling benar hingga boleh berlaku semena-mena terhadap yang lain.

Bukan berarti bila kita yang lebih banyak lantas memastikan kita jadi yang paling benar, bukan berarti yang paling lama lantas jadi yang paling baik, kita tetap harus rendah hati.

Di sinilah letak adab lebih utama dari ilmu. Mengetahui benar dan salah belum tentu bisa menempatkan diri dan mempraktekkan benar dan salah itu dalam kehidupan.

Saya tidak berusaha membela atau menyalahkan siapapun, sebab saya tahu diri dengan ilmu yang masih jauh dari cukup. Ini hanya jadi ajang berbagi apa yang saya rasa.

Kita berharap esok-esok hari firman Allah jadi kenyataan. Bahwa kitalah kaum yang dimaksud Al-Maidah: 54. Berkasih sayang sesama mukmin dan tegas bagi kekufuran.

Ala kulli haal, bukankah semua yang bersyahadat layak mendapat senyuman dan keramahan dari kita? Bukankah Allah sudah jadikan kita satu? Uhibbukum fillah saudaraku.

Oh ya, anda boleh tidak sepakat dengan pendapat saya, kalaupun iya, tuliskan dengan bahasa yang baik, sebagaimana Rasul kita ajarkan, semoga Allah rahmati kita. (*)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.