Sabtu, 23 Oktober 21

Biadab! Pemerkosaan terhadap Wanita Muslim Uighur di China

Biadab! Pemerkosaan terhadap Wanita Muslim Uighur di China
* Tursunay Ziawudun lari ke Kazakhstan, kini di tempat aman di AS. (Foto: BBC)!

Biadab! Terjadi pemerkosaan sistematis disebut berlangsung terhadap tahanan wanita muslim Uighur di kamp-kamp China. Para pengamat mengatakan kebijakan terhadap Uighur merupakan perintah langsung dari Presiden China Xi Jinping.

Berikut investigasi Matthew Hill, David Campanale and Joel Gunter dari
BBC News:

Para perempuan Uighur telah diperkosa dan disiksa secara sistematis di kamp “pendidikan ulang” yang didirikan pemerintah China komunis, menurut penuturan langsung sejumlah korban yang diperoleh BBC.

Pria-pria tersebut selalu mengenakan masker walaupun saat itu pandemi belum melanda, kata Tursunay Ziawudun, salah seorang perempuan Uighur.

Mereka memakai setelan resmi, namun bukan seragam polisi.

Mereka kadang datang ke sel-sel lewat tengah malam untuk memilih perempuan yang mereka inginkan dan membawanya melewati lorong menuju ke sebuah “kamar gelap”, yang tidak ada kamera pengawas.

Selama beberapa malam, menurut Ziawudun, para pria ini menyekapnya.

“Mungkin ini adalah luka yang tidak akan pernah saya lupakan selamanya,” kata Ziawudun.

“Saya bahkan tidak ingin menceritakan kisah ini langsung dari mulut saya.”

Tursunay Ziawudun menghabiskan waktu selama sembilan bulan di dalam sebuah kamp rahasia yang luas di wilayah Xinjiang, China.

Berdasarkan estimasi independen, lebih dari satu juta pria dan perempuan ditahan di kamp-kamp yang disebut China sebagai “tempat pendidikan ulang” bagi orang-orang Uighur dan etnik minoritas lainnya.

Kelompok hak asasi manusia mengatakan pemerintah China secara bertahap mencabut kebebasan beragama dan kebebasan lainnya dari orang Uighur, yang berujung pada sistem pengawasan massal, penahanan, indoktrinasi, dan bahkan sterilisasi paksa.

Kebijakan tersebut berasal dari Presiden China, Xi Jinping, yang mengunjungi Xinjiang pada tahun 2014 setelah serangan teror separatis Uighur.

Tak lama kemudian, menurut rangkaian dokumen yang bocor ke New York Times, dia memerintahkan pihak berwenang setempat untuk mengatasinya “benar-benar tanpa ampun”.

Bulan lalu, pemerintah AS mengatakan bahwa tindakan China merupakan aksi genosida. China mengatakan berbagai laporan tentang penahanan massal dan sterilisasi paksa merupakan “kebohongan dan tuduhan tidak masuk akal”.

Mengalami penyiksaan dan pemerkosaan
Orang-orang yang menjadi sumber informasi dari dalam kamp tahanan memang jarang ditemui.

Namun, ada beberapa mantan tahanan dan mantan seorang penjaga tahanan mengatakan kepada BBC bahwa mereka mengalami atau melihat bukti terjadinya pemerkosaan massal, pelecehan seksual, dan penyiksaan secara terorganisir.

Tursunay Ziawudun, yang melarikan diri dari Xinjiang setelah dibebaskan dan kini berada di Amerika Serikat, mengatakan para perempuan tersebut dikeluarkan dari sel “setiap malam” dan diperkosa oleh satu pria China atau lebih yang menggunakan penutup wajah.

Dia mengaku dirinya disiksa dan kemudian diperkosa beramai-ramai sebanyak tiga kali. Setiap kali terjadi, dua atau tiga pria melakukan perbuatan itu.

Ziawudun sebelumnya sudah mengungkapkan kepada media, namun hanya media dari Kazakhstan, di mana dia “ketakutan dipulangkan lagi ke China”, katanya.

Dia yakin jika dirinya mengungkap kekerasan seksual yang dia lihat dan alami, kemudian dipulangkan ke Xinjiang, dia bakal dikenai hukuman lebih berat dari sebelumnya. Dan dia merasa malu, tuturnya.

Mustahil untuk memverifikasi penuturan Ziawudun sepenuhnya karena China menerapkan aturan ketat bagi para wartawan di negara itu. Namun dokumen perjalanan dan catatan imigrasi yang dia berikan kepada BBC menguatkan kisahnya.

Gambaran Ziawudun tentang kamp di daerah Xinyuan – dikenal oleh kaum Uighur sebagai daerah Kunes – sesuai dengan citra satelit yang dianalisis oleh BBC.

Uraiannya tentang kehidupan sehari-hari di dalam kamp, serta cara dan metode pelecehan, juga sesuai dengan laporan lainnya yang diungkapkan para mantan tahanan.

Dokumen internal dari sistem peradilan daerah Kunes dari 2017 dan 2018, diberikan kepada BBC oleh Adrian Zenz, seorang peneliti kebijakan China di Xinjiang.

Dokumen ini berisi rencana terperinci dan pengeluaran yang dihabiskan untuk “transformasi lewat pendidikan” terhadap “kelompok-kelompok utama” – eufemisme umum di China untuk indoktrinasi kaum Uighur.

Dalam salah satu dokumen Kunes, proses “pendidikan” ini digambarkan sebagai sebuah proses “mencuci otak, membersihkan hati, memperkuat kebenaran dan melenyapkan kejahatan”.

Bertugas membantu menyekap para tahanan perempuan
BBC juga mewawancarai seorang perempuan Kazakh dari Xinjiang yang ditahan selama 18 bulan di kamp tersebut.

Dia mengklaim dirinya dipaksa menelanjangi perempuan-perempuan Uighur dan memborgol mereka, kemudian meninggalkan mereka dengan para pria China. Setelah itu, dia membersihkan kamar, katanya.

“Tugas saya adalah melucuti pakaian mereka dari atas pinggang dan memborgol mereka sehingga mereka tidak bisa bergerak,” tutur Gulzira Auelkhan, sembari menyilangkan pergelangan tangannya di belakang kepala untuk memperagakan.

“Lalu saya meninggalkan perempuan-perempuan itu di kamar dan seorang pria akan masuk – beberapa pria China dari luar atau polisi. Saya duduk dan diam di balik pintu, dan ketika pria itu meninggalkan kamar, saya mengantar perempuan itu untuk mandi.”

Pria-pria China itu “akan memberi uang untuk memilih narapidana paling cantik dan muda,” katanya.

Beberapa mantan tahanan di kamp tersebut menggambarkan bahwa mereka dipaksa untuk membantu penjaga atau menghadapi hukuman.

Auelkhan mengatakan dia tidak berdaya untuk melawan atau menghalangi.

Ketika ditanya apakah ada sistem perkosaan yang terorganisir, dia mengatakan: “Ya, itu pemerkosaan.”

“Mereka memaksa saya masuk ke kamar itu,” katanya. “Mereka memaksa saya menelanjangi para perempuan tersebut dan menahan tangannya lantas keluar dari kamar.”

Beberapa perempuan yang dikeluarkan dari sel saat malam hari, menurut Ziawudun, tidak pernah kembali lagi. Sedangkan yang dipulangkan kembali ke dalam tahanan, diancam untuk tidak berbicara apapun kepada tahanan lainnya tentang apa yang telah terjadi pada mereka.

“Anda tidak bisa memberi tahu siapa pun apa yang terjadi, yang Anda lakukan hanya berbaring diam-diam,” katanya. “Mereka memang bermaksud untuk menghancurkan semangat setiap orang.”

Kepada BBC, Zenz menuturkan bahwa berbagai kesaksian yang dihimpun dalam kisah ini adalah “bukti paling mengerikan yang pernah dia lihat sejak kekejaman dimulai”.

“Kejadian ini semakin menegaskan apa yang telah kita dengar sebelumnya,” katanya. “Hal ini juga semakin menguatkan bukti terperinci tentang pelecehan dan penyiksaan seksual pada tingkat yang jelas lebih besar dari yang kami duga.”

Penyiksaan tiada henti
Orang-orang Uighur adalah kelompok minoritas Turki yang sebagian besar beragama Islam. Populasi mereka mencapai sekitar 11 juta jiwa di Xinjiang, barat laut China.

Wilayah itu berbatasan dengan Kazakhstan dan juga rumah bagi etnis Kazakh. Ziawudun, 42 tahun, adalah orang Uighur. Suaminya adalah seorang Kazakh.

Pasangan itu kembali ke Xinjiang pada akhir 2016 setelah tinggal selama lima tahun di Kazakhstan. Mereka diinterogasi pada saat kedatangan dan paspor mereka disita, kata Ziawudun.

Beberapa bulan kemudian, dia diberitahu oleh polisi untuk menghadiri pertemuan bersama warga Uighur dan Kazakh lainnya. Kelompok itu lantas ditangkap dan ditahan.

Masa awal penahanannya relatif mudah, katanya, dengan akses telepon dan makanan yang layak.

Setelah sebulan dia menderita sakit maag dan dibebaskan. Paspor suaminya dikembalikan dan dia kembali ke Kazakhstan untuk bekerja, tetapi pihak berwenang menyimpan paspor Ziawudun, menjebaknya di Xinjiang.

Berbagai laporan menyebut, China sengaja menahan para kerabat orang Uighur agar mereka tidak bersuara. Pada 9 Maret 2018, ketika suaminya masih di Kazakhstan, Ziawudun mengaku diperintahkan untuk melapor ke kantor polisi setempat.

Dia diberitahu bahwa dia membutuhkan “pendidikan lebih lanjut”.

Sebagaimana diceritakannya, dia diangkut kembali ke kamp dirinya ditahan sebelumnya di daerah Kunes, namun tempat tersebut sudah mengalami perkembangan, katanya.

Bus-bus berjejer di luar kamp dan “tak henti-hentinya” menurunkan tahanan-tahanan baru.

Perhiasan para perempuan tersebut disita. Anting-anting Ziawudun direnggut, kata dia, sehingga telinganya berdarah. Dia digiring ke sebuah ruangan dengan sekelompok perempuan lainnya.

Di antara mereka ada seorang perempuan tua yang nantinya akan berteman dengan Ziawudun.

Para penjaga kamp melucuti hijab perempuan tua tersebut, kata Ziawudun, dan meneriakinya karena mengenakan gaun panjang.

“Mereka melucuti semua pakaian perempuan tua itu, hingga dia hanya memakai celana dalam. Dia sangat malu sehingga dia mencoba menutupi dirinya dengan lengannya,” kata Ziawudun.

“Saya menangis menyaksikan cara mereka memperlakukannya. Tangisnya seperti hujan.”

Para perempuan itu diperintahkan untuk menyerahkan sepatu dan pakaian mereka, kata Ziawudun, lalu digiring ke blok-blok tahanan.

Tidak banyak yang terjadi selama satu atau dua bulan pertama. Mereka dipaksa untuk menonton berbagai program propaganda di dalam tahanan dan rambut mereka dipangkas dengan paksa.

Lalu polisi mulai menginterogasi Ziawudun tentang suaminya yang tidak hadir, katanya, lantas dia didorong hingga jatuh ke lantai karena melawan dan bagian perutnya juga ditendang.

“Sepatu bot polisi itu keras sekali dan berat, jadi awalnya saya pikir dia memukuli saya dengan sesuatu,” katanya. “Kemudian saya menyadari bahwa dia menginjak-injak perut saya. Saya hampir pingsan – saya merasa bagian perut saya panas.”

Seorang dokter kamp memberitahunya bahwa dia mungkin mengalami pembekuan darah. Ketika teman-teman satu selnya meminta aparat memperhatikan bahwa dia mengalami pendarahan, para penjaga menjawab normal bagi perempuan mengalami pendarahan, kata Ziawudun.

Menurut Ziawudun, setiap sel dihuni 14 perempuan, dengan ranjang susun, jeruji di jendela, baskom, dan toilet jongkok. Ketika pertama kali dia melihat para perempuan dibawa keluar sel malam hari, dia tidak paham mengapa itu terjadi. Dia mengira mereka dipindahkan ke tempat lain.

Lalu pada suatu hari di bulan Mei 2018 – “Saya tidak ingat tanggal pastinya, karena Anda tidak ingat tanggal berapa di dalam sel” – Ziawudun dan teman satu selnya, seorang perempuan berusia 20-an tahun, dibawa keluar pada malam hari dan diserahkan kepada seorang pria China yang memakai masker wajah, katanya. Teman satu selnya dibawa ke ruang terpisah.

“Begitu dia masuk, dia mulai berteriak,” kata Ziawudun. “Saya tidak tahu bagaimana menjelaskan kepada Anda, saya pikir mereka menyiksanya. Saya tidak pernah berpikir bahwa mereka memperkosanya.”

Perempuan yang membawa mereka kembali ke dalam sel memberitahu pria-pria tersebut bahwa Ziawudun mengalami pendarahan baru-baru ini.

“Setelah perempuan itu melaporkan soal kondisi saya, pria China itu mengumpat padanya. Pria bertopeng itu berkata, ‘Bawa dia ke kamar gelap’.

“Lantas perempuan itu membawa saya ke sebuah ruangan di sebelah gadis lainnya dibawa masuk. Mereka membawa tongkat listrik, saya tidak tahu apa itu, dan tongkat itu didorong ke dalam alat kelamin saya, menyiksa saya dengan sengatan listrik.”

Penyiksaan terhadap Ziawudun pada malam pertama di kamar gelap itu akhirnya usai, katanya, dan dia dikembalikan lagi ke dalam sel.

Kira-kira satu jam kemudian, teman satu selnya dibawa kembali.

“Gadis itu jadi berbeda, dia tidak mau berbicara dengan siapa pun, dia hanya duduk diam menatap seolah-olah dalam keadaan kesurupan,” kata Ziawudun. “Banyak orang di dalam sel itu yang kehilangan akal sehatnya.”

Di antara deretan sel itu terdapat ruang-ruang kelas. Para guru didatangkan untuk “mendidik kembali” para tahanan – sebuah proses yang menurut para aktivis dirancang untuk menghilangkan budaya, bahasa, dan agama kaum Uighur dan etnik minoritas lainnya. Proses tersebut mengindoktrinasi mereka ke dalam budaya arus utama China.

Qelbinur Sedik, seorang perempuan Uzbek dari Xinjiang, termasuk di antara sejumlah guru bahasa Mandarin yang dibawa ke kamp dan dipaksa memberikan pelajaran kepada para tahanan. Sedik sendiri sudah meninggalkan China dan berbagi tentang pengalamannya kepada semua orang.

Kamp perempuan “diawasi dengan ketat”, kata Sedik kepada BBC. Tapi dia mendengar cerita – tanda-tanda dan rumor pemerkosaan. Suatu hari, Sedik dengan hati-hati mendekati seorang polwan China yang dia kenal di kamp.

“Saya bertanya kepadanya, ‘Saya sudah mendengar beberapa cerita mengerikan tentang pemerkosaan, apakah Anda tahu tentang itu?’ Dia lantas mengajak saya makan siang di halaman belakang sambil mengobrol.

“Lalu saya pun pergi ke halaman belakang, di sana tidak ada kamera pengawas. Dia berkata ‘Ya, pemerkosaan telah menjadi budaya. Pemerkosaan itu dilakukan beramai-ramai dan polisi China tidak hanya memperkosa mereka tetapi juga menyetrum mereka. Mereka menjadi sasaran penyiksaan yang mengerikan’,” kata Sedik mengulang perkataan polwan tersebut.

Malam itu Sedik tidak tidur sama sekali. “Saya memikirkan putri saya yang belajar di luar negeri dan saya menangis sepanjang malam.”

Dalam kesaksian terpisah kepada Uyghur Human Rights Project, Sedik mengatakan dia mendengar tentang tongkat listrik yang dimasukkan ke dalam organ perempuan untuk menyiksa mereka – seperti pengalaman yang pernah dikisahkan Ziawudun.

Ada “empat jenis sengatan listrik”, kata Sedik – “kursi, sarung tangan, helm, dan pemerkosaan di bagian anal dengan tongkat”.

“Jeritannya terdengar hingga ke seluruh gedung. Saya bisa mendengarnya saat makan siang dan kadang-kadang saat saya di kelas.”

Seorang guru lainnya yang dipaksa bekerja di kamp, Sayragul Sauytbay, mengatakan kepada BBC bahwa “pemerkosaan adalah hal biasa” dan para penjaga “memilih gadis dan perempuan muda yang mereka inginkan dan membawanya pergi”.

Dia menyaksikan seroang perempuan usia antara 20 dan 21 tahun diperkosa beramai-ramai di depan 100 tahanan lainnya untuk memaksa mereka mengaku.

Setelah itu, di depan semua orang, polisi bergantian memperkosanya,” kata Sauytbay.

“Selagi melakukan perbuatan ini, mereka mengamati tahanan dari jarak dekat dan menarik siapapun yang melawan, mengepalkan tinju, memejamkan mata, atau melihat ke arah lain. Mereka dibawa untuk dihukum.”

Sementara itu, para perempuan muda ini menangis meminta tolong, kata Sauytbay.

“Benar-benar mengerikan,” ujarnya. “Saya merasa sudah mati. Saya sudah mati.” (Red)

Sumber: BBC News

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.