Selasa, 28 Juni 22

BI Optimis Pertumbuhan Ekonomi Di Atas 5%

BI Optimis Pertumbuhan Ekonomi Di Atas 5%

Jakarta, Obsessionnews Meski sejumlah pihak pesimis jika pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini bisa di atas angka 5%, namun Bank Indonesia melihat masih ada peluang ekonomi Indonesia akan membaik.

Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia (BI) Juda Agung mengatakan, bank sentral hingga kini masih bertahan dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di kisaran 5,0-5,4% untuk 2015 dengan kecenderungan lebih ke batas bawah.(Bank Dunia Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 4,7%)

Revisi dilakukan setelah dua indikator utama penopang pertumbuhan ekonomi, yakni belanja pemerintah dan ekspor, melambat pada kuartal I dan II. “Namun, kami melihat, pada kuartal III dan IV proyek-proyek infrastuktur pemerintah sudah mulai jalan, sehingga pertumbuhan ekonomi akan rebound,” tandas dia, Senin (27/7/2015).

Sedangkan untuk tahun-tahun berikutnya, Juda memperkirakan pertumbuhan ekonomi akan berada di kisaran 5,4-5,8% pada 2016, di atas 6% pada 2017, 6,5% pada 2018, dan 7% pada 2019. Namun, target itu bisa terealisasi kalau Indonesia sungguh-sungguh melakukan reformasi struktural di bidang ekonomi.

“Seperti dikatakan Presiden Jokowi dalam silaturahmi ISEI, kita harus beralih dari ekonomi yang tergantung pada komoditas menjadi negara dengan ekonomi yang berbasis pada manufaktur, sehingga investasi harus didorong,” ujar Juda.

Untuk jangka menengah dan panjang, kata Juda, reformasi struktural menjadi kunci bagi keberlangsungan ekonomi Indonesia. Pasalnya, saat ekonomi dunia mulai membaik pun, komoditas tidak bisa diandalkan seperti beberapa tahun lalu. Tiongkok sebagai tujuan utama ekspor Indonesia akan segera beralih ke industri high tech, melalui proyek Made in China 2025.

Ekonomi Tiongkok sulit kembali tumbuh double digit dan paling hanya di kisaran 5-6% karena sudah over capacity sehingga tidak membutuhkan banyak investasi lagi.

Menurut Yuda, secara ringkas kuncinya ada tiga untuk memacu pertumbuhan PDB. Pertama, dari sisi fiskal mendorong habis-habisan belanja pemerintah. Kedua, dari sisi moneter menjaga stabilitas moneter termasuk rupiah, dan ketiga reformasi struktural untuk menciptakan ekonomi berkelanjutan.

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.