Kamis, 4 Juni 20

Beyond Lockdown: Darurat Sipil & Teknologi Mata Tuhan

Beyond Lockdown: Darurat Sipil & Teknologi Mata Tuhan
* Johannes Darsum. (Foto: dok. pribadi)

Oleh: Johannes Darsum,
Creative Navigator of Netizen United

Kali ini saya akan menyampaikan dua hal yang beyond lockdown. Bagian pertama, mengulas latar belakang ide Jokowi untuk darurat sipil. Bagian kedua, tentang teknologi God’s Eye di dunia pascawabah.

Ternyata polemik lockdown belum mereda walaupun Jokowi telah mengumumkan kebijakan barunya.

Pekan lalu, ketika Mahfud MD mewacanakan Peraturan Pemerintah tentang Karantina Wilayah, polemik telah mengerucut antara lockdown total atau karantina wilayah.

Walaupun diksi lockdown dan karantina kadang dipersepsikan sama, kadang dipertentangkan, keduanya mempunyai substansi yang sama, yaitu warga diminta #diRumahAja.

Kericuhan di India dipersepsikan sebagai akibat lockdown. Kalau kita cermati, sebenarnya hal itu diakibatkan oleh ketatnya pendisiplinan warga untuk #diRumahAja sehingga mereka kehilangan nafkah, sementara social safety net lamban diterapkan.

Kita akan terjebak kepada kesalahan berpikir kalau kita meredusir permasalahan kericuhan tersebut sekadar karena lockdown atau bukan. Apalagi jika tersimpulkan bahwa hal itu tidak akan terjadi seandainya India tidak melakukan lockdown. Padahal, mungkin akan lebih parah.

Persoalannya adalah mereka sudah kehilangan mata pencahariannya ketika diminta #diRumahAja. Dengan atau tanpa lockdown, kegusaran itu nyata. Jokowi mencermati hal tersebut. Jokowi melihat beyond lockdown, melihat substansinya melebihi isu lockdown.

Maka, Jokowi bukan hanya meluncurkan paket-paket kebijakan ekonomi pandemik yang memang sangat dibutuhkan sebagai jaring pengaman sosial.

Tetapi, Jokowi juga melontarkan ide untuk mempersiapkan aturan darurat sipil. Ini sebagai antisipasi segala kemungkinan yang dapat terjadi akibat diperketatnya kebijakan #diRumahAja, bukan sekadar imbauan lagi, dalam pembatasan sosial berskala besar.

Darurat sipil adalah kebijakan yang lebih maju selangkah daripada tertib sipil. Namun, berbeda dengan darurat militer, tidak akan ada militerisasi dalam darurat sipil. Penguasa darurat sipil daerah akan dijabat oleh kepala daerah setempat hasil pilkada, namun dapat diganti jika ada kasus tertentu.

Kalangan yang tidak sabar untuk segera lockdown tidak mengira Jokowi akan melangkah lebih jauh dari aspirasi mereka, yakni dengan melontarkan ide darurat sipil untuk menyertai pembatasan sosial berskala besar.

Sedangkan Front Pembela Jokowi segera memberi aplaus. Padahal, mereka dulunya percaya kepada narasi yang menuding WHO punya niat buruk ketika menyarankan Jokowi memberlakukan darurat nasional.

***

Sebelum kita lanjutkan untuk membahas God’s Eye, saya ingin menyampaikan jawaban saya atas pertanyaan dari seorang teman. Dia mempertanyakan saya ada di kubu yang mana?

Begini. Saya sebenarnya ada di posisi sebagai pengamat saja, agar dapat mencermati dan mematuhi kebijakan pemerintah, baik pusat dan daerah, untuk kebaikan kita bersama. Kebetulan saya bisa membedakan isu-isu yang dipelintir jadi gorengan oleh semua kubu penggaung politik.

Dalam masalah wabah ini, saya tidak mau terjebak dalam persoalan menang kalah permainan isu. Keselamatan keluarga saya lebih penting daripada prokontra membela ini itu, lebih utama daripada terlibat membela atau menyerang si A, B, C, X, Y, Z.

Namun, setidaknya ada 3 sikap saya. Pertama, saya menyukai persatuan dan menentang pemecahbelahan. Itu sebabnya, saya memberi tema “Lockdown or Not, Persatuan Nomor Satu” untuk Netizen United On Air di RPKFM 96,30 episode 17 Maret 2020.

Kedua, saya menyimpulkan bahwa sudah terlambat untuk lockdown kota atau provinsi, kalaupun pemerintah mau melakukannya. Namun, jika akhirnya perkembangan wabah mengharuskan pemerintah melakukannya, maka yang memungkinkan adalah lockdown pulau.

Ketiga, tentang darurat nasional saya setuju dengan WHO. Alasan saya waktu itu adalah supaya pemerintah punya dasar hukum untuk menertibkan media sosial dan media online.

Saya mengamati kedua jenis media tersebut didominasi oleh narasi-narasi framing berdasarkan cherry picking dan judul-judul clickbait yang mengadu domba warganet dengan modus amygdala hijack.

Kalau ditanya, apakah Jokowi serius akan memberlakukan darurat sipil, hanya Jokowi dan Tuhan yang tahu. Tapi, kita bisa menduga bahwa sebagai seorang Kepala Negara, yang bertanggung jawab atas keselamatan rakyat, tentu Jokowi melakukan tindakan antisipatif yang dibutuhkan.

Sementara itu, ada kekhawatiran di beberapa kalangan akan konsekuensi darurat sipil. Kalimat seperti, “Teriak-teriak lockdown, dikasih darurat sipil malah protes,” itu pun cuma cemoohan kepada kelompok penganjur lockdown. Bukan berarti pencemoohnya setuju dengan darurat sipil.

***

Teknologi Mata Tuhan
(Bagian Kedua dari Beyond Lockdown)

Saya mau mengajak kita menengok ke belakang sejenak untuk kemudian melihat lebih jauh ke depan.

Buat yang pernah menontonnya, masih ingatkah film Furious 7? Di film tersebut diceritakan tentang sebuah teknologi pengintaian digital yang diberi nama God’s Eye alias Mata Tuhan saking powerful-nya.

Program komputer tersebut dapat membajak semua perangkat yang memiliki kamera dan/atau mikrofon. Bisa melihat dan mendengar melalui gawai di tangan kita dan CCTV di mana saja.

Kehebatannya digambarkan dengan perbandingan operasi pelacakan Osama Bin Laden. Konon, AS perlu waktu 10 tahun. Tapi, kalau memakai teknologi “baru” ini hanya butuh waktu semenit dua menit.

“Mata Tuhan” dapat melihat ke mana-mana, tidak ada yang tersembunyi dari teknologi ini. Apa artinya itu?

Ya, kita akan sangat mendambakan kembalinya ruang-ruang privasi yang raib bersamaan dengan hadirnya teknologi tersebut di Bumi. Yang menyusup ke rumah dan kamar kita melalui webcam pribadi tanpa kita sadari.

Kita hidup di era semua imajinasi kecanggihan, termasuk teknologi semacam itu, bisa dipastikan akan terwujud. Ross McNutt, Presiden Direktur Persistent Surveillance System menjelaskan teknologi tersebut 11-12 dengan Google Earth, versi live.

Masih segar pula dalam ingatan kita gegernya pengumpulan data perilaku kita oleh Cambdridge Analytica, melalui platform media sosial Facebook, untuk kepentingan politik.

Sekarang, mari kita bayangkan setiap kali kita menyentuh layar gawai kita, sensornya akan menjadikan itu sebagai data dan menaruhnya di dalam penyimpan memori, lalu data tersebut akan terhisab ke dunia maya sebagai big data seketika kita online.

Selain itu, aplikasi tertentu bisa mendeteksi suhu jari dan tekanan darah kita. Kurang lebih itulah yang digunakan oleh pemerintah China untuk mengidentifikasi warganya yang diduga terinfeksi virus corona.

Ke mana mereka bepergian, bertemu dan bersentuhan dengan siapa, datanya langsung tersimpan seketika. Lalu memberi peringatan kalau seseorang berdekatan dengan pengidap Covid-19.

Algoritma artificial intelligence juga dapat mengolah data suhu tubuh dan tekanan darah kita secara realtime untuk mendeteksi emosi kita pada saat itu. Sungguh kita sedang memasuki era sensor dan algoritma yang perkasa.

Yuval Noah Harari, penulis buku-buku “Sapiens” dan “Homo Deus” mengatakan bahwa saat ini seluruh negara dijadikan kelinci percobaan dalam eksperimen sosial skala luas, yang lazimnya tidak akan disetujui oleh jajaran pemerintah, pengusaha, dan pendidik pada masa-masa normal.

Mendadak pada masa ini orang-orang hanya bekerja dari rumah dan berkomunikasi menggunakan teknologi informasi dan teleconference. Semua sekolah dan universitas beroperasi secara online. Demi menghentikan wabah, seluruh penduduk di berbagai negara harus patuh pada protokol tertentu.

Dengan teknologi “sederhana” skala global, inilah pertama kalinya dalam sejarah dunia, semua orang setiap saat dipantau.

Yang menjadi pertanyaan adalah dunia macam apa yang akan kita hidupi setelah wabah berakhir? Bagaimana dengan ruang-ruang privasi kita? Akan dibawa jadi positif atau negatif, manfaat mudharatnya tergantung bagaimana kita menyikapinya, ye kan?

Hal-hal inilah yang lebih besar dan penting untuk kita pikirkan dan persiapkan ketimbang prokontra lockdown dan darurat sipil.

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.