Selasa, 23 April 19

Best Achiever In Ceo State Owned Enterprises Muhammad Awaluddin (Direktur Utama PT Angkasa Pura II (PERSERO)

Best Achiever In Ceo State Owned Enterprises Muhammad Awaluddin (Direktur Utama PT Angkasa Pura II (PERSERO)

Di bawah kepemimpinan Muhammad Awaluddin, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang mengelola sejumlah bandara udara (bandara) di wilayah Indonesia ini berkinerja cemerlang. Awaluddin berandil besar mengantarkan Angkasa Pura II mencatat kinerja positif sejak ia memimpin pada 2016, dan berhasil meningkatkan kinerja Angkasa Pura II pada 2017 dengan mencatat pendapatan sebesar Rp8,24 triliun, meningkat 24 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya, yaitu Rp6,65 triliun.

 

Ya, pilihan pemerintah menunjuk Awaluddin sebagai Direktur Utama Angkasa Pura II sungguh tepat. Awaluddin berandil besar mengantarkan Angkasa Pura II mencatat kinerja positif pada 2016 dengan membukukan peningkatan pendapatan dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Sepanjang 2016 total pendapatan perseroan mencapai Rp6,65 triliun atau meningkat cukup signifikan sekitar 18 persen dibandingkan dengan 2015 sebesar Rp5,64 triliun. Pendapatan pada Januari-Desember 2016 sebesar Rp4,03 triliun berasal dari bisnis aeronautika. Seperti Tarif Pelayanan Jasa Penumpang Pesawat Udara (PJP2U), biaya pendaratan pesawat, dan pemakaian garbarata. Sementara itu bisnis non-aeronautika, seperti konsesi, sewa ruang, reklame, serta bisnis kargo dan sebagainya pada periode yang sama mencetak pendapatan Rp 2,62 triliun. Adapun peningkatan pendapatan ini sejalan dengan naiknya arus penumpang pesawat di 13 bandara yang dikelola perusahaan, dari 84,29 juta penumpang pada 2015 naik 12 persen menjadi 94,63 juta penumpang pada 2016.

 

Kenaikan arus penumpang pesawat ini antara lain dipicu kebijakan perseroan yang memberikan sejumlah insentif kepada maskapai yang membuka rute. Seperti internasional baru di sejumlah bandara serta bagi maskapai yang mengoperasikan extra flight di luar jam reguler bandara. Pada 2016 Angkasa Pura II juga berhasil mendirikan dua anak usaha baru, yakni PT Angkasa Pura Propertindo dan PT Angkasa Pura Kargo guna meningkatkan kontribusi pendapatan dari bisnis non-aeronautika. Dua anak usaha baru ini melengkapi anak usaha yang sebelumnya sudah beroperasi, yaitu PT Angkasa Pura Solusi. Efisiensi untuk efektivitas yang lebih baik khususnya pada kuartal IV/2016 juga membantu Angkasa Pura II bisa meraih pendapatan Rp6,65 triliun, yang di mana angka tersebut lebih tinggi dari target awal perseroan Rp6,57 triliun.

 

Awaluddin juga berhasil menunjukkan kepiawaiannya dalam memimpin ketika kinerja Angkasa Pura II sepanjang 2017 semakin kinclong. Pada 2017 pendapatan Angkasa Pura II sebesar Rp8,24 triliun atau meningkat 24 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya, yaitu Rp6,65 triliun. Pendapatan sepanjang Januari – Desember 2017 sebesar Rp5,019 triliun berasal dari bisnis aeronautika, seperti Tarif Pelayanan Jasa Penumpang Pesawat Udara (PJP2U), biaya pendaratan pesawat, dan pemakaian garbarata. Sementara itu, bisnis non-aeronautika seperti konsesi, sewa ruang, reklame, serta bisnis kargo dan sebagainya pada periode yang sama mencetak pendapatan Rp3,23 triliun. Peningkatan pendapatan ini sejalan dengan naiknya arus penumpang pesawat di 13 bandara yang dikelola perusahaan, dari 95 juta penumpang pada 2016 naik 10,83 persen menjadi 105 juta penumpang pada 2017. Sedangkan untuk pergerakan pesawat pada tahun 2017 meningkat 13,46 persen dengan total sebesar 821.188 pergerakan bila dibandingkan pada tahun 2016, yaitu 723.799 pergerakan. Selain itu pengelolaan kargo juga mengalami pertumbuhan terbesar selama 5 tahun terakhir, yaitu 9,90 persen dengan total 816.950 ton.

 

Kenaikan arus penumpang, pergerakan pesawat, kargo dikarenakan kebijakan perseroan yang memberikan sejumlah insentif kepada maskapai yang membuka rute internasional baru di sejumlah bandara dan penambahan extra flight, dioperasikannya beberapa terminal baru oleh korporasi telah mengakomodir penambahan kapasitas penumpang di beberapa bandara seperti Terminal 3 Internasional Soekarno-Hatta, Husein Sastranegara, Depati Amir, Supadio, dan Silangit. The Year of Excellence 2017 merupakan tema Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) Angkasa Pura II, di mana telah ditetapkan sejumlah target utama, yaitu Triple Double Digit Growth untuk REFi (Revenue Ebitda Traffic). Tercapainya melayani 100 juta penumpang di seluruh bandara AP II dan Implementasi konsep Smart Airport pada berbagai pelayanan dan fasilitas di terminal bandara.

 

“Kinerja positif yang melampaui target perseroan tersebut juga didukung oleh keberhasilan kami lainnya dalam mengoperasikan sejumlah terminal baru di tahun 2017, yakni Terminal 3 Internasional Bandara Soekarno-Hatta, Terminal Baru Bandara Husein Sastranegara, dan juga diresmikannya Terminal Baru Bandara Silangit, serta Bandara Supadio oleh Presiden RI Joko Widodo,” kata Awaluddin di Jakarta, Rabu 7 Februari 2018.

Adanya pencapaian tersebut tidak terlepas dari kerja keras insan Angkasa Pura II yang berkomitmen untuk terus melakukan peningkatan pelayanan, di mana para pengunjung dan pengguna jasa bandara menduduki posisi tertinggi untuk mendapatkan pelayanan terbaik. Awaluddin dilahirkan di Jakarta, 15 Januari 1968. Ia menyelesaikan pendidikan S1 Teknik Elektro dari Universitas Sriwijaya pada tahun 1991, Master of Business Administration dari European University Antwerp Belgium (1998), dan S3 Doktor Ilmu Manajemen dari Universitas Padjadjaran (2016). Selanjutnya Awaluddin mengambil Executive Education Program di Harvard Business School, Amerika Serikat. Dia mengawali kariernya di Telkom setelah lulus dari Universitas Sriwijaya. Semula menjadi staf perencanaan di kantor pelayanan Telkom Surabaya, Jawa Timur. Pria ini dikenal sebagai pekerja keras. Pelan tapi pasti kariernya meroket. Pada periode 2005 – 2007 ia menduduki kursi Vice President Public & Marketing Communication Telkom di PT Telkom Indonesia. Selanjutnya menjadi Executive General Manager Divisi Akses, Executive General Manager Divisi Regional 1 Sumatera di PT Telkom Indonesia Tbk (2007 – 2010). Kemudian menjabat Direktur Utama PT Infomedia Nusantara (2010 – 2012), dan Direktur Enterprise & Business Service di PT Telkom (2012 – 2016). (Naskah: Arif Rahman Hakim, Foto: Istimewa)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.