Jumat, 24 September 21

Bertemu Presiden Singapura, SBY Tak Akan Buat Putusan Strategis

Bertemu Presiden Singapura, SBY Tak Akan Buat Putusan Strategis

Singapura – Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) akan bertemu Presiden Singapura Tony Tan Keng Yam dan Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong, guna membahas perkembangan terkini hubungan bilateral RI – Singapura dalam 10 tahun terakhir. Namun pertemuan yang diadakan di penghujung masa tugasnya sebagai presiden, SBY tidak akan membuat keputusan yang bersifat strategis.

“Tidak dalam kapasitas memberi keputusan strategis karena itu sudah menjadi kewenangan pemerintahan yang akan datang,” ujar Staf Khusus Presiden Bidang Hubungan Luar Negeri Teuku Faizasyah saat tiba bersama rombongan Presiden SBY di Singapura, Selasa (2/9/2014).

Meski begitu, Faiz mengatakan dalam pertemuan nanti akan ada keputusan bersama diantara pemimpin dua negara. Selanjutkan putusan tersebut akan dijadikan sebagai rekomendasi untuk disampaikan kepada pemerintahan baru. “berangkat dari sana nanti hal-hal apa yang bisa ditindaklanjuti pemerintahan yang akan datang, kita akan sampaikan” katanya.

Pertemuan ini diketahui merupakan inisiatif Tony Tan untuk mengundang balasan SBY sebagai tamu negara, sekaligus kunjungan terakhir SBY dalam kapasitasnya sebagai presiden. Sebelumnya kedua kepala negara sudah bertemu di Batam beberapa waktu lalu. “Jadi ini mencerminkan kedekatan hubungan antara dua negara,” tutur Faiz.

Dewasa ini, kerjasama bilateral Indonesia – Singapura telah semakin terkonsolidasi melalui pembentukan enam kelompok kerja, yang meliputi bidang investasi, agribisnis, turisme, ketenagakerjaan, dan pengembangan Batam-Bintan-Karimun dan zona ekonomi lainnya.

Selain membahas hubungan bilatrel, SBY dan Tony Tan juga akan menyaksikan penandatanganan perjanjian Delimitation of the Territorial Seas in the Eastern Part of the Strait of Singapura yang dilakukan oleh Menteri Luar Negeri masing-masing. Faiz berharap penandatangan nota perjanjian itu bisa semakin meningkatkan hubungan bilateral Indonesia – Singapura.

Faiz mengaku perjanjian yang akan disepakati dua kepala negara adalah wilayah laut di Selat Singapura bagian timur segmen 1 yang mencakup wilayah Pulau Batam hingga Changi. Sedangkan segmen 2 yang meliputi wilayah Pulau Bintan-South Ledge/ Middle Rock/ Pedra Branca masih tertunda karena bersinggungan dengan Malaysia.

Sebelumnya, Indonesia sudah sepakati batas wilayah laut di Selat Singapura bagian barat yang mencakup Pulau Nipa hingga Tuas pada tahun 2009. Faiz melanjutkan bentuk-bentuk penyelesaian delimitasi batas maritim melalui perundingan dapat menjadi contoh bagi negara-negara lain untuk menyelesaikan konflik  batas wilayah.

“ini satu bukti bahwa dua negara bisa menyelesaikan batas wilayah nasional mereka melalui proses perundingan, tentunya harapan kita ini menjadi rujukan bagi negara lain yang memiliki permalsahan yang sama,” tutup Faiz. (Has)

 

Related posts