Kamis, 9 Desember 21

Bertahan Hidup Diantara Tumpukan Sampah

Bertahan Hidup Diantara Tumpukan Sampah

Subang, Obsessionnews – Rusminah (70) atau yang biasa disapa Mak Erum, tinggal di Tempat Pembuangan Sampah Sementara (TPSS) Cigadung. Dengan lingkungan yang kumuh dan sangat kotor, Mak Erum tampak kumal. Dia hidup sebatang kara di lokasi tepat belakang Kantor Kelurahan Cigadung Blok Rambutan RT. 13/49.

Ketika Obsessionnews datang ke lokasi tempat tinggalnya, nampak sangat kumuh yang dikelilingi barang bekas yang dikumpulkannya bertumpuk. Bau menyengat menusuk hidung dari sampah gundukan sampah.

Mak Erum mengaku, dirinya pernah tinggal mengontrak bersama anak angkatnya setelah rumah warisan orang tuanya dijual dan dibagikan dengan saudara-saudaranya. Ketika ditanya mengenai keluarganya Mak Erum hanya mengatakan punya 1 anak laki-laki dan 1 anak angkat perempuan.

Untuk bertahan hidup Mak Erum mengandalkan dari menjual barang bekas dan belas kasihan warga. “Hidup Emak seketemunya – kalau ada yang makan kalau tidak ya tidak,” ujarnya pelan, Rabu (15/4/2015).

Menurut salah seorang warga, Asep Saevata, Mak Erum masih punya famili yang tinggal di Brebes. Bahkan punya anak angkat yang dulu sering membantu berjualan tahu goreng. Namun setelah menikah ikut suaminya tinggal di Jakarta.

Warga lainnya Siti Aisyah mengatakan bahwa kehidupan sehari-hari Mak Erum mengandalkan dari belas kasihan warga dan mengumpulkan barang-barang bekas kemudian dijual dan dibelikan makanan. “Saya kasihan (ke Ma Erum). Hidup dari memungut sampah untuk dijual dan dibelikan makanan atau ada yang memberi,” jelasnya.

Pernah suatu malam, kata Siti, tempat Mak Erum kebakaran dari lilin yang ditinggal tidur. “Untung saja masih tertolong oleh tetangga sebelahnya belum tidur,” paparnya.

Ma Erum2

Secara terpisah Lurah Cigadung, Yuli Merdekawati menjelaskan bahwa pihak Kelurahan pernah mengupayakan supaya Mak Erum ada yang mengurus dengan mengirimkan ke Panti Jompo di Bandung. Tetapi dia pulang lagi ke Subang tinggal di TPSS. “Ketika ditanyakan ke pihak panti katanya Mak Erum pergi tanpa pamit karena tidak betah,” jelas Yuli.

Yuli bersama staf Kelurahan berusaha meminta Mak Erum tinggal di Kantor Kelurahan dengan diberikan kegiatan yang sesuai. Sempat juga diberikan bantuan makanan dan baju serta mukena (hijab untuk sholat) dari Dinas Sosial Kab Subang supaya bersedia pindah dari lokasi kumuh tersebut.

“Tetapi dia menolaknya. Nggak mau (pindah). Mungkin karena sudah merasa nyaman di sana. Kami juga bingung,” ujar Yuli menjelaskan.

Mak Erum, lanjut Yuli, sebenarnya warga Panglejar yang masuk wilayah Kelurahan Karanganyar Kec. Subang. (Teddy Widara)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.