Senin, 28 September 20

Bersikap Kritis terhadap TKA Cina

Bersikap Kritis terhadap TKA Cina
* Hendrajit. (Foto: dok. pribadi)

Oleh: Hendrajit, Pengkaji Geopolitik, dan Direktur Eksekutif Global Future Institute

Kita dalam menyikapi tenaga kerja asing (TKA) Cina yang masuk Indonesia, kita harus kritis, tapi nggak boleh geram atau baperan. Harus cool. Dan memahami betul anatominya.

Kalau anda baca buku Sterling Seagrave, dan buku ini sudah klotokan dibaca Prabowo dari sejak masih Danjen Kopassus, menulis bahwa Sofyan dan Yusuf Wanandilah orang-orang Cina binaan Ali Murtopo dan belakangan Benny Murdani, yang menggusur Cina pro Beijing ke laut alias hengkang dari Indonesia. Atau tetap mempertahankannya di Indonesia, tapi setelah minta jatah preman pada mereka.

Misinya tiada lain agar Wanandi bersaudara, yang belakangan merupakan juru bicara konglomerasi yang berkedok yayasan nirlaba Prasetya Mulya, bisa memasukkan jaringan overseas Cina dari Taiwan dan Hongkong,

Pak Harto mulai membaca gelagat Wanandi Cs untuk memperkuat barisannya dengan bertumpu pada Hongkong dan Taiwan Connection. Maka Pak Harto, yang waktu baru berkuasa sebagai pejabat presiden sejak 1967, tidak mau menutup hubungan diplomatik dengan RRC. Maka beliau menggunkanan istilah PEMBEKUAN HUBUNGAN DIPLOMATIK,

Nah istilah pembekuan hubungan diplomatik berarti pemerintahan Orba tetap membuka hubungan kedua negara tapi melalui saluran tidak resmi alias people to people. Berarti Pak Harto pun memandang gerakan para taipan untuk memonopoli ranah ekonomi-bisnis mereka dengan kubu Hongkong dan Taiwan, juga dipandang berbahaya.

Pada perkembangannya jaringan Prasetya Mulya ini, bukan saja terbatas pada lingkup relasinya dengan Hongkong dan Taiwan, tapi juga memperluas tentakelnya ke Asia Tenggara. Seperti Thailand, Malaysia, Filipina dan Singapura.

Maka itu dalam melihat peristiwa demo di Hongkong, jangan eforia dulu bahwa kapan ya itu bisa kejadian di Indonesia. Karena demo-demo Hongkong justru didukung oleh taipan-taipan diaspora di Asia tenggara dan timur, terrmasuk para taipan dari Indonesia.

Bagaimana anda mau bilang demo-demo Cina Hongkong itu mau ditiru di Indonesia, lha wong para taipan Cina di sini yang bermain dari balik layar pemerintahan Jokowi, justru yang ikut mendanai gerakan-gerakan pro demokrasi di Hongkong?

Nah, kembali ke soal TKA Cina dari Malaysia yang kabarnya ada deportasi sekitar 450 WNI dari Malaysia menuju Jakarta, Surabaya dan Medan melalui KBRI, maka kita harus cermat betul membaca yang tersirat.

Sebab kalau menelisik dari anatomi Hongkong dan Taiwan Connection tadi, besar kemungkinan ini adalah gerakan para taipan diaspora. Bukan kebijakan Beijing. Jadi alangkah naifnya kita kalau terpancing pada sentimen anti Cina sehingga memperburuk hubungan bilateral RI-RRC. Yang pastinya merugikan kepentingan nasional Indonesia.

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.