Jumat, 20 Mei 22

Bersatunya Pasangan Capres dan Cawapres yang Bersaing dalam Satu Pemerintahan: Inikah Satu dari Tujuh Keajaiban Dunia?

Bersatunya Pasangan Capres dan Cawapres yang Bersaing dalam Satu Pemerintahan: Inikah Satu dari Tujuh Keajaiban Dunia?
* Bersatunya pasangan capres dan cawapres yang bersaing dalam satu emerintahan. (Foto: dok. Denny JA)

Kita mulai tafsir positif dulu.

Jokowi- Ma’ruf dan Prabowo-Sandi menyadari persatuan dan Indonesia yang kuat itu kepentingan utama. Maka, kooperasi setelah kompetisi menjadi pilihan pertama.

Terpilihnya nama- nama baru dalam kabinet, dan aneka kebijakan Jokowi termasuk dalam UU Cipta Kerja, sudah menunjukkan pesan yang kuat.

Jokowi ingin mencapai sebuah legacy besar: pemerintahan yang kuat, dengan investasi dan ekonomi sebagai panglima. Dan Islam yang moderat yang berani, dan mengakar, di kementrian agama.

Perpaduan politik yang stabil, plus investasi yang masif, plus pemihakan kepada kultur agama yang melindungi keberagaman adalah pilihan.

Bersatunya dua pasangan capres dan cawapres harus dilihat dari kaca mata yang lebih besar. Kesediaan mereka bersatu itu justru gambar kualitas negarawan.

Bagaimana dengan tafsir yang netral?

Tafsir yang netral berangkat dari posisi Prabowo dan Sandi. Mengapa mereka bersedia menurunkan status dari Presiden dan Wapres (walau masih calon) ke level menteri belaka?

Dua tokoh ini tetap menjadi calon tangguh untuk pilpres 2024. Ini hukum besi politik belaka. Nama mereka jauh lebih berkibar jika tetap beredar di panggung nasional.

Menjadi menteri hanyalah sasaran antara untuk maju kembali dalam pilpres 2024.

Bagaimana dengan tafsir negatif?

Politik di kalangan elit masa kini terlalu elastis. Tanpa core philosophy yang kuat. Tanpa prinsip kebijakan yang tegas.

Mudah sekali mereka berpindah haluan menyebrang ke kubu lawan. Semudah ganti baju. Sekecil ganti sepatu.

Tak lagi mereka peduli dengan para pendukung yang “berdarah-darah,” yang mengira sang capres dan cawapres membawa perspektif alternatif.

Ini demokrasi banana, dimana politik oposisi tidak dianggap luhur. Ketimbang menjadi tokoh oposisi, elit berlomba bergabung dengan kubu yang dulu menjadi lawan.

Bukankah ini pertanda bahwa persaingan program yang dikira serius itu hanyalah asesori belaka.

-000-

Halaman selanjutnya

Pages: 1 2 3 4

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.