Sabtu, 20 Agustus 22

Bersaing di Pasar Digital, Kemasan Produk UMKM Harus Menarik

Bersaing di Pasar Digital, Kemasan Produk UMKM Harus Menarik
* Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki dan Pengamat atau Pegiat UMKM Dr. Dewi Tenty hadir di salah satu program acara di televisi. (Foto: Tangkap Layar)

Jakarta, obsessionnews.comPemerintah sedang mendorong digitalisasi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM)  di masa Pandemi Covid-19 ini yang memang mengubah prilaku konsumen dan para pelaku usaha. Di pandemi ini telah terjadi peralihan pola konsumsi barang dan jasa dari offline menjadi online.

Tak hanya sekadar digitalisasi, tapi UMKM harus naik kelas dengan berdaya saing dan kaya inovasi, agar produk UMKM dapat bersaing di pasar digital.

Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki mengatakan, UMKM yang sudah go digital sekitar 12 juta. Namun kalau dilihat perkembangan UMKM selama Pandemi ini sangat luar biasa, telah terjadi peningkatan terhadap pelaku UMKM.

“Karena sebelumnya hanya sekitar 8 juta dan itu berlangsung kira-kira 8-10 tahun,” ujar Teten dari video tayangan program di salah satu televisi yang dikutip obsessionnews.com, Jumat (21/5/2021).

Dia mengungkapkan, dalam satu tahun terakhir itu pelaku UMKM naik 4 juta. Kenapa? Karena pertumbuhan begitu cepat, terjadi pola perubahan konsumsi masyarakat, termasuk belanja di online.

“Karena ada pembatasan sosial, ada pembatasan kegiatan usaha yang off line, mereka melakukan transformasi ke digital,” ucap Teten.

Menurut dia, hal ini bukan soal akses market digital, tapi juga inovasi produknya. Karena jualan di market online sangat berbeda, dan ini akan menjadi trend yang akan berkelanjutan, yakni trend online itu.

“Karena saya kira bukan hanya kemudahan, tetapi juga banyak fasilitas yang menguntungkan konsumen juga di online itu,” kata Teten.

Untuk itu, dia menargetkan di 2024 nanti pelaku UMKM yang go digital sampai 30 juta. “Nah itu target kami di 2024 itu 30 juta. Saya kira kita harus menyiapkan mereka untuk siap on bording ke marketpleaces online,” ungkapnya.

Selain di marketpleace online, lanjut Teten, pemerintah juga akan mendorong penjualan-penjualan lewat e-catalog di pemerintah.

Dia menjelaskan, sekarang ini pemerintah harus menyerap produk UMKM dan pengadaannya lewat digital elektronik. “Jadi saya kira ini akan memunculkan semakin banyak UMKM kita ke online, termasuk juga pasar digital BUMN. Sekarang belanja BUMN lewat kita,” ucapnya.

Namun permasalahannya adalah UMKM harus bisa bersaing di market digital. “Karena di dalam market digital itu juga banyak brand-brand besar, masuk dari industri besar, termasuk juga yang impor itu,” kata Teten.

Pengamat atau Pegiat UMKM Dr. Dewi Tenty

Sementara itu, Pengamat atau Pegiat UMKM Dr. Dewi Tenty mengungkapkan, pelaku UMKM yang ingin melakukan transformasi ke UMKM digital harus memperhatikan kemasannya, agar UMKM tersebut dapat bersaing dengan perusahaan industry besar.

Sebab, menurut Tenty, online itu merupakan sesuatu mata rantai, bukan sekadar memberikan foto produk ke media sosial, karena dengan adanya online itu dapat mematikan panca indra yang lain, artinya hanya fokus pada mata.

“Kalau jaman dulu ibu-ibu kita ke pasar, saya pegang dulu, saya cium lalu saya beli, tapi kalau sekarang saya nggak bisa pegang, nggak bisa cium, boro-boro tester, hanya melihat tampilan,” ungkap Tenty.

Untuk itu titik poinnya tidak hanya kepada online saja, tetapi ajarkan kepada para pelaku UMKM untuk membuat tampilan foto seperti e-catalog. Jangan sampai produk UMKM yang akan dipasarkan melalui online foto atau kemasannya terlihat jelek.

“Saya pernah melihat e-catalog yang sangat buruk, maaf katalog produk. Mungkin sebenarnya bukan buruk, tidak ada orang yang memoles,” ucapnya.

Oleh karena itu, dengan keadaan seperti ini dan banyak kesempatan yang diberikan oleh pemerintah, masyarakat untuk lebih menyambut kesempatan itu, jika di mana ada kesempatan, maka harus segera dikejar.

Tenty sendiri baru menyadari kalau di Indonesia banyak sekali rumah kemasan untuk produk UMKM.

“Teryata rumah kemasan itu gratis. Kita baru tahu, karena adanya akses-akses terbuka online seperti ini, oh ada, di Bandung misalnya atau di Bekasi,” ungkapnya.

Menurut dia, rumah-rumah kemasan itu dapat mendorong para pelaku UMKM untuk merubah kemasannya sehingga lebih icatcing atau menarik.

“Nah saran saya, selain rumah kemasan juga ada rumah digital. Jadi catalog yang jelek-jelek itu dibikin sedemikian rupa sehingga lebih baik. Dari segi foto, narasi, sehingga bagaimana oroduk dapat diterima mata dan membaca,” pungkas Tenty. (Poy)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.