Kamis, 24 Juni 21

Berjuang Keras Melawan Godaan Setan

Berjuang Keras Melawan Godaan Setan
* Ilustrasi godaan setan. (Foto: Ist)

Oleh: Mulia Multadi, Penulis

Sudah kita ketahui bersama, bahwa semua perkara yang merupakan hukum-hukum Allah subhanahu wa ta’ala yang diturunkan kepada manusia, setan akan selalu menggoda agar dipalingkan dariNya sesuai dengan kecenderungan nafsu masing-masing manusia.

Dua sasaran godaan setan, sesuai dengan karakter manusia, yaitu;

Pertama, orang yang terlalu bersemangat dan menggebu (over acting) dan sangat berlebihan dalam melakukan sesuatu, akhirnya dia digoda setan agar terus berlebih-lebihan dan melampaui batas. Ini adalah salah satu bentuk penyimpangan terhadap petunjuk Allah subhanahu wa ta’ala.

Kedua, orang yang cenderung pasif, malas, dan apatis (masa bodoh) dari sesuatu perkara. Akan digoda oleh setan, agar dia menyikapinya dengan pandangan meremehkan, pandangan mendiskreditkan, ataupun dengan pandangan yang tidak memberikan porsi yang benar pada suatu masalah.
Ini menimpa orang-orang yang cenderung pasif dalam berbuat suatu amalan. Maka setan menggoda (membuat tipu daya) dari sisi kemalasannya dan kepasifannya agar cenderung tidak benar dalam menyikapi suatu perbuatan.

Inilah, mengapa dalam ayat-ayat Alqur’an, maupun dalam hadits Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, kita selalu diingatkan tentang pentingnya menundukkan hawa nafsu dan juga tentang bagaimana mengamalkan agama (baca: Islam) secara benar menurut firman Allah Ta’ala dan sunnah rasul.

Di dalam Alqur’an, ketika Allah subhaanahu wa ta’ala mencontohkan sifat orang-orang yang bertakwa, beberapa diantaranya adalah dengan sifat-sifat yang dituntut untuk dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari.

Allah subhaanahu wa ta’ala berfirman Qur’an Suci,

الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّآءِ وَ الضَّرَّآءِ وَالْكَاظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِ, وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ

“(yaitu) orang yang berinfaq, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan. ”
(QS. Ali Imran:134).

Mengapa dicontohkan tiga perkara ini? Padahal banyak contoh yang lain. Misalnya tentang perkara sholat malamnya mereka, doanya mereka, ataupun bacaan Alqur’annya mereka.

Diterangkan oleh para ulama, karena, dalam tiga perkara tersebut terdapat unsur perjuangan keras untuk “menundukkan hawa nafsu.”
Artinya, orang yang melakukannya benar-benar orang yang “mendahulukan cinta kepada Allah subhaanahu wa ta’ala” daripada menuruti keinginan hawa nafsunya.

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ غَيْرَ الْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعُوا أَهْوَاءَ قَوْمٍ قَدْ ضَلُّوا مِنْ قَبْلُ وَأَضَلُّوا كَثِيرًا وَضَلُّوا عَنْ سَوَاءِ السَّبِيلِ

Katakanlah, “Hai Ahli Kitab! Janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus.”
(QS. Al-Mâidah : 77).

***

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.