Rabu, 26 Januari 22

Berjalan Kaki Bela Islam, Santri Ciamis Jadi Momentum Bersejarah

Berjalan Kaki Bela Islam, Santri Ciamis Jadi Momentum Bersejarah
* Umat Islam Ciamis, Jawa Barat, berjalan kaki menuju ke Jakarta untuk mengikuti Aksi Bela Islam 3 pada Jumat (2/12/2016).
“Santri Ciamis yang berjalan kaki ke Jakarta memang luar biasa. Ini yang namanya blessing in disguise, rahmat yang tersembunyi.”

Jakarta, Obsessionnews.com –  Jarak Kabupaten Ciamis, Jawa Barat – Jakarta sekitar 269 km. Jauh, bukan? Namun, jauhnya jarak tersebut tidak menjadi penghalang bagi ribuan umat Islam dari Ciamis untuk mengikuti Aksi Bela Islam 3 yang akan digelar di Jakarta pada Jumat (2/12/2016). Umat Islam yang sebagian besar adalah para santri dari berbagai pondok pesantren di Ciamis itu nekad berjalan kaki ke Jakarta. Mereka mulai aksinya berjalan kaki pada Senin (28/11) siang, dan diperkirakan di Jakarta pada Kamis (1/12) malam atau Jumat (2/12).

Tujuan mereka ke Jakarta hanya satu, yakni menuntut Gubernur nonaktif DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok dipenjara.

Aksi jalan kaki itu dilakukan karena polisi melarang bus disewa untuk mengangkut peserta Aksi Bela Islam 3. Kendati diintimidasi polisi, warga Ciamis tidak gentar. Mereka tetap nekad ke Jakarta, walaupun harus berjalan kaki. Ini dilakukan karena kecintaan mereka terhadap Islam. Tujuan mereka ke Jakarta hanya satu, yakni menuntut Gubernur nonaktif DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok dipenjara. Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri telah menetapkan Ahok sebagai tersangka kasus dugaan penistaan agama pada Rabu (16/11).

Namun, anehnya, meski telah jadi tersangka calon gubernur DKI pada Pilkada 2017 tersebut tidak ditahan. Hal itu membuat umat Islam menilai polisi bertindak diskriminatif. Pasalnya, dalam banyak kasus orang-orang yang dijadikan tersangka langsung ditahan, terutama orang-orang Islam. Lalu mengapa Ahok yang beragama Kristen Protestan diistimewakan?

Umat Islam dari Ciamis yang berjalan kaki menuju ke Jakarta itu tentu berharap Ahok secepatnya ditahan.

Pengkaji geopolitik dan Direktur Eksekutif The Global Future Institute, Hendrajit, memuji aksi umat Islam Ciamis yang berjalan kaki menuju ke Jakarta itu.

“Santri Ciamis yang berjalan kaki ke Jakarta memang luar biasa. Ini yang namanya blessing in disguise, rahmat yang tersembunyi. Gara-gara dirintangi untuk sewa bus, malah jadi momentum bersejarah,” kata Hendrajit ketika dihubungi Obsessionnews.com, Rabu (30/11).

Menurutnya, ini jadi semacam isyarat agar kita Berdikari (Berdiri di Atas Kaki Sendiri) seperti kata Bung Karno.

Aksi Bela Islam 3 merupakan kelanjutan dari Aksi Bela Islam 1 yang digelar pada Jumat ( 14/10) dan Aksi Bela Islam 2 yang dilaksanakan pada Jumat (4/11). Aksi damai ini digerakkan oleh Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Demo itu dipicu oleh ketersinggungan umat Islam atas ucapan Ahok  soal Al Quran surat Al Maidah ayat 51 di sebuah acara di Kepulauan Seribu, Selasa (27/9/2016).  Saat itu Ahok menyatakan, “… Jadi jangan percaya sama orang, kan bisa aja dalam hati kecil bapak ibu nggak bisa pilih saya, ya kan. Dibohongin pakai surat al Maidah 51, macem-macem itu. Itu hak bapak ibu, jadi bapak ibu perasaan nggak bisa pilih nih karena saya takut masuk neraka, dibodohin gitu ya..”

Aksi Bela Islam tersebut dilakukan tiga hari setelah MUI Pusat secara resmi mengeluarkan pernyataan sikap keagamaan terhadap kasus Ahok.  MUI dalam pernyataan sikap keagamaan  yang diteken Ketua Umum Ma’ruf Amin dan Sekretaris Jenderal Anwar Abbas pada Selasa (11/10), menyebut perkataan Ahok dikategorikan menghina Al-Quran dan menghina ulama yang berkonsekuensi hukum.

Namun, Aksi Bela Islam yang diikuti ribuan orang tersebut seperti membentur tembok. Terkesan dicuekin polisi.

Aksi Bela Islam jilid 2 merupakan demo terbesar dalam sejarah Indonesia pasca reformasi 1998.

Karena tidak ada tanda-tanda polisi menangkap Ahok, Rizieq kembali mengerahkan massa turun ke jalan. Dan sungguh mengejutkan. Aksi Bela Islam jilid 2 yang digelar di depan Istana Presiden tersebut diikuti lebih dari 2 juta orang, dan merupakan demo terbesar dalam sejarah Indonesia pasca reformasi 1998. Aksi itu kemudian populer dengan sebutan aksi 411. Dipilihnya Istana Presiden sebagai lokasi berunjuk rasa karena massa menuding Presiden Joko Widodo (Jokowi) melindungi Ahok.

Karena tekanan massa itu polisi mulai serius menangani kasus Ahok. Hasilnya, Bareskrim Polri menetapkan Ahok sebagai tersangka kasus dugaan penistaan agama pada Rabu (16/11). Hal itu tidak sesuai dengan aspirasi pengunjuk rasa.

Oleh karena itu GNPF MUI mengajak kembali umat Islam untuk berunjuk rasa dalam Aksi Bela Islam 3 pada Jumat (2/12). Semula direncanakan dalam aksi 212 itu akan dilakukan sholat Jumat di sepanjang Jl. Sudirman – Jl. MH Thamrin – depan Istana Presiden. Namun dibatalkan setelah tercapai kompromi antara Kapolri Jenderal Tito Karnavian bersama para pimpinan GNPF MUI di kantor MUI Pusat, Senin (28/11). Disepakati sholat Jumat akan dilakukan di lapangan Monumen Nasional (Monas). Juga disepakati demo hanya digelar pada pukul 8 pagi hingga usai sholat Jumat.

Disepakatinya Monas sebagai lokasi demo yang digerakkan GNPF MUI untuk menghindarkan penyusup gelap yang punya agenda lain di luar tuntutan memenjarakan Ahok.

Di kalangan umat Islam seluruh dunia ada tiga hal yang tidak boleh disinggung atau direndahkan, yakni Allah SWT, Rasulullah SAW, dan kitab suci Al-Quran.

Berkaca dari kasus Ahok, mantan Ketua Umum Pengurus  Besar Nahdlatul Ulama (PB NU) KH Hasyim Muzadi mengatakan, di kalangan umat Islam seluruh dunia ada tiga hal yang tidak boleh disinggung atau direndahkan, yakni Allah SWT, Rasulullah SAW, dan kitab suci Al-Quran. Apabila salah satu, apalagi ketiganya disinggung dan direndahkan pasti mendapat reaksi spontan dari umat Islam tanpa disuruh siapapun.

“Reaksi tersebut akan segera meluas tanpa bisa dibatasi oleh sekat-sekat organisasi, partai, dan birokrasi. Kekuatan energi tersebut akan bergerak dengan sendirinya tanpa dibatasi ruang dan waktu,” tutur anggota Dewan Pertimbangan Presiden ini dalam siaran persnya yang berjudul “Kekuatan (Energi) Al-Quran dan Politisasi”, Rabu (9/11).

Menurut Hasyim, fenomena demo 4 November tentu secara lahiriah dipimpin oleh beberapa tokoh yang merasa terpanggil untuk membela kesucian kitabnya. Namun jumlah yang hadir membuktikan adanya kekuatan (energi spritiual) yang dahsyat dari pengaruh Al-Quran tersebut. Hal ini dapat dibuktikan para pemimpin yang melakukan demo atau mengumpulkan massa tanpa dorongan spiritualisme tersebut tidak mungkin dapat menggerakan umat yang berjumlah jutaan. (@arif_rhakim)

Baca Juga:

Rizieq Dihantam Isu Hitam

Bus Dilarang, Ribuan Warga Ciamis Jalan Kaki ke Jakarta

Kapolri-GNPF MUI Sepakat Bendung Mobokrasi

Aksi 212 Bukan Aksi Makar

Habib Rizieq: Negara Tidak Boleh Kalah Oleh Penista Agama

Panglima TNI Sebut Ketua FPI Jadi Korban Propaganda AS dan Australia

Komisi III DPR: Ucapan Kapolri Bernada Provokatif

Makar, Maklumat Kapolri, Eh… Google!

PKS: Tuduhan Makar, Kapolri Diminta Jangan Asal Ngomong

Aksi Damai Dianggap Teroris, Kapolri Resahkan Masyarakat

 

 

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.