Kamis, 20 September 18

Sister City Jakarta-Jateng

Sister City Jakarta-Jateng

Oleh: Zeng Wei Jian, Aktivis Komunitas Tionghoa Anti Korupsi (KOMTAK)

Kemiskinan turun dari 14% ke 13% itu sudah hebat bagi Gus Yassin. Dulu, Ndoro Ganjar bilang dia gagal turunkan angka kemiskinan. Saat ini, ada sekitar 5 juta orang miskin di Jawa Tengah.

Sudirman Said dan Ida Fauziyah punya rencana menurunkan kemiskinan jadi 6%. Salah satu turunan programnya: serap 5 juta tenaga kerja. Di antaranya, lahirkan 1 juta usahawan perempuan.

Ganjar nyatakan itu ngga mungkin. Terlalu fantastis katanya. Progresif kata Rosi.

Ganjar sudah kerahkan semua potensi: APBD/APBN, keterampilan, akses modal, pendampingan, Bank Jateng, BPKKR,Rp 51 triliun investasi, dorong swasta dan CSR. Hasilnya, kemiskinan cuma turun 1%. Fayyah.

Bagi Pak Dirman, kuncinya di keberpihakan, lokus pembangunan desa, investasi swasta, milenial, industri kecil-menengah, pariwisata dan sebagainya.

Ida Fauziyah menambahkan konsepnya tanam, petik, “olah”, jual. Di spektrum Nelayan: tangkap-“olah”-jual. Missing linknya di kata “olah”.

Pa Dirman mengekstraksi semua praksis itu ke dalam tiga point: Keberpihakan, Kepemimpinan Bersih, dan tim orang-orang kompeten. Dengan tiga kata, poin-poin itu dikristalisasi menjadi Niat, leadership dan managerial.

Sampai di sini, muka Ndoro semakin pucat. Yassin menelan ludah. Keduanya speechless.

Ida Fauziyah menghantam lagi. Menurutnya, Optimisme dari seorang pemimpin dibutuhkan. “Kemiskinan yang mendera butuh langkah akseleratif,” katanya.

Ganjar tetap pesimis. “A pessimist is a man who thinks everybody is as nasty as himself, and hates them for it,” kata George Bernard Shaw.

Tiba-tiba, acara “Rosi & Kandidat Jateng” menampilkan seorang pemudi milenial. Dia bertanya soal lapangan kerja baginya di masa depan. Tampaknya dia kuatir susah dapet kerja.

Ganjar memompa spirit. “Anda adalah kreator, anda adalah inovator,” katanya.

Dari sikap pesimistik menganulir program kerja Sudirman-Ida menjadi seorang motivator sekelas Mario Keruh. Tampaknya dia labil ya.

Ndoro Ganjar memaparkan soal bonus demografi dan Revolusi industri ke empat. Baginya, milenials butuh workshop. Dia kutip Mas Joko yang pernah mengatakan, “Jadilah Youtuber”.

Dengan berapi-api menyala, Ganjar berkata, “Ada sejuta ide, sampe kamu kebingungan cari kerja”.

Nah, tadi Ganjar bilang (indirectly) rencana Sudirman-Ida soal 5 juta lapangan kerja adalah sesuatu yang muskil. Oh, saya kira itu hanya manuver down-grading saja.

Pa Dirman kembali menampilkan kematangannya. Selain mendorong milenial menjadi intermediary, dia melihat signifikansi pencipta produk. Bila kedua spektrum ini tersambung, market akan dinamis.

Satu kelemahan Ganjar-Yassin: mereka ngga punya Anies-Sandi. Di masa Pilkada Jakarta, Ganjar jelas Prohok.

Bila jadi gubernur, Sudirman-Ida bisa membuka aliansi strategis dengan Anies-Sandi. Jakarta dan Jateng jadi “sister city”. Barang-barang produksi Jateng bisa diserap Jakarta dengan lebih masif. Jakarta butuh produk, Jateng butuh pasar.

Relasi ini, tentu saja, bisa memudahkan proyeksi penyerapan 5 juta tenaga kerja dan menurunkan kemiskinan Jateng ke angka 6%. Sesuatu yang tak terbayangkan oleh Ganjar-Yassin.

THE END

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.