Selasa, 18 September 18

Jangan Lewatkan Atraksi Keren Festival Barong Ider Bumi di Banyuwangi!

Jangan Lewatkan Atraksi Keren Festival Barong Ider Bumi di Banyuwangi!

Banyuwangi, Obsessionnews.com – Bila Anda kebetulan mudik Lebaran ke Banyuwangi, Jawa Timur, jangan lewatkan atraksi seru Festival Barong Ider Bumi. Acara keren di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, ini akan digelar pada 16 Juni 2018.

Kemiren merupakan perkampungan suku Osing, penduduk asli Banyuwangi. Dikenal sebagai salah satu kawasan cagar budaya, tiap tahun Kemiren selalu menggelar tradisi unik Barong Ider Bumi ini.

Tradisi Barong Ider Bumi sudah begitu mendarah daging di dalam kehidupan suku Osing. Warisan budaya unik ini telah berusia hingga ratusan tahun.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas menjelaskan, Barongan atau Barong dalam mitologi Jawa dan Bali merupakan sosok makhluk berkaki empat atau dua dengan kepala singa. Barong dipercaya sebagai perwujudan nilai-nilai kebaikan dan keadilan. Ia juga merupakan figur yang senantiasa melawan kekuatan jahat yang dipimpin oleh perwujudan iblis bernama Rangda.

“Frasa ‘Ider Bumi’ dihasilkan dari dua kata yakni ‘Ider’ dan ‘Bumi’. Ider dalam bahasa Jawa berarti berkeliling, dan Bumi merupakan tempat berpijak. Ider Bumi bisa diartikan sebagai kegiatan mengelilingi tempat berpijak (bumi),” kata Anas seperti dikutip Obsessionnews.com dari laman Facebook Kementerian Pariwisata.

Banyak nilai sejarah yang terkandung dalam Festival Barong Ider Bumi. Sejarah tradisi ini berawal pada tahun 1840. Saat itu Desa Kemiren diserang wabah penyakit aneh yang mengakibatkan banyak warga meninggal. Banyak petani juga mengalami gagal panen.

Salah seorang sesepuh desa lantas meminta petunjuk kepada Mbah Buyut Cili, yang makamnya masih dirawat hingga kini. Pencerahan datang dalam wujud mimpi. Warga diminta melakukan arak-arakan Barong sebagai bentuk tolak bala.

“Tradisi ini lantas masih dilestarikan hingga saat ini. Selain menolak pengaruh negatif, Barong Ider Bumi juga terus dipertahankan untuk menjalin kerukunan antar warga,” tutur Anas.

Festival Barong Ider Bumi ini diawali ritual memainkan angklung oleh para sesepuh di balai desa setempat. Barong lantas diarak keliling desa sambil diiringi nyanyian Jawa, isinya doa kepada nenek moyang dan Tuhan untuk menolak bala dan memohon keselamatan.

Arak-arakan dimulai dari pusaran (gerbang masuk desa) menuju arah barat ke tempat mangku barong (pintu keluar desa) sejauh dua kilometer. Di sepanjang jalan, tokoh adat akan melakukan tradisi “Sembur Utik-utik”. Yakni kegiatan menebarkan uang logam, beras kuning, dan bunga sebagai simbol tolak bala.

Ketiga benda tersebut nantinya akan dibawa oleh rombongan tokoh adat dan para sesepuh. Yaitu dalam sebuah “Bokor”. Uang logam yang dibawa harus tepat bernilai Rp 99.900 dan bunga yang digunakan jumlahnya juga harus ada 9. Angka 9 ini merujuk pada 99 Nama Allah (Asmaul Husna).

“Waktu pelaksanaannya setiap 2 Syawal dan dimulai pada pukul 2 siang (14.00 WIB). Pemilihan waktu pelaksanaan tersebut berkaitan dengan simbol ciptaan Tuhan yang berpasang-pasangan,” tuturnya.

Begitu arak-arakan mencapai ujung desa, warga akan berebut memakan pisang yang dipajang. Konon siapa yang berhasil bakal diberi keselamatan dan kemudahan dalam hidup.

Tidak sampai disitu, ritual Barong Ider Bumi masih dilanjutkan kegiatan selamatan oleh warga setempat. Prosesi ini menggunakan Tumpeng Pecel Pitik, salah satu kuliner khas Banyuwangi.

Selamatan sendiri merupakan suatu bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas keberkahan yang telah didapat. (red/arh)

 

Baca Juga:

Penerbangan Garuda Indonesia ke Banyuwangi Tingkatkan Wisata

FOTO Menpar dan Bupati Banyuwangi Semarakkan ‘Tumpeng Pecel Pithik’

Wisata Pantai Banyuwangi Digemari Wisman

Kemeriahan Festival Patrol Banyuwangi Selama Ramadhan

Bupati Banyuwangi Rutin Gelar Safari Ramadhan

 

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.