Jumat, 14 Desember 18

Di Banggai Laut Susi Ajak Warga Jaga Mangrove dan Terumbu Karang

Di Banggai Laut Susi Ajak Warga Jaga Mangrove dan Terumbu Karang
* Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti melakukan kunjungan kerja di Kabupaten Banggai Laut, Sulawesi Tengah, Selasa (15/5/2018). (Foto-foto: Humas KKP)

Banggai Laut, Obsessionnews.com –  Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti melakukan kunjungan kerja di Kabupaten Banggai Laut, Sulawesi Tengah, Selasa (15/5/2018). Dalam kegiatan tersebut  Susi didampingi oleh Bupati Banggai Laut Wenny Bukamo, Wakil Bupati Banggai Laut Tuty Hamid, Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut (PRL) Brahmantya Satyamurti Poerwadi, dan Kepala Badan Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) Rina.

Dalam siaran pers  Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang diterima Obsessionnews.com, Rabu (16/5), dijelaskan kedatangan Susi di Pelabuhan Banggai Laut disambut dengan tarian Balatindak dari masyarakat sekitar. Selanjutnya di pelantaran Dermaga Susi dianugerahi gelar kehormatan adat Boine Doi Ndalangon Kapitan Laut (Wanita Tangguh Penguasa Laut).

Susi bersama rombongan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) juga menyambangi Balai Benih Ikan Payau (BBIP) Dusun Paisubatango milik Dinas Perikanan dan Kelautan Banggai Laut. Di sana dilakukan pendederan benih ikan kerapu macan dan kerapu tikus untuk dibudidayakan masyarakat.

Selanjutnya Susi berdialog dengan nelayan Desa Bone Baru yang dipandu langsung oleh Bupati Banggai Laut Wenny Bukamo. Susi berpesan agar masyarakat menjaga mangrove (pohon bakau) dengan tidak melakukan penebangan.

“Saya dengar suara kumbang yang menunjukkan Banggai ini masih asri, masih bagus daerahnya. Namun saya cari pohon besar kok berkurang, ke mana perginya? Nanti saya bilang kalau pohon besar habis, air banggai laut tidak ada lagi,” tutur Susi mengawali diskusi.

Susi mengungkapkan, penebangan pohon dapat mengakibatkan air laut menyusut dan air tawar kering. “Kalau pohon  ditebangi, bakau yang menjaga pulau tidak kena abrasi ditebang, nanti air akan kering. Nanti mau dapat air tawar dari mana? Mau minum air laut?” lanjutnya.

Menurutnya, punahnya mangrove dapat mengakibatkan banyak petaka. Salah satunya merebaknya penyakit malaria dan demam berdarah akibat nyamuk dan berbagai serangga lainnya kehilangan habitatnya. “Masyarakat di sini harusnya beruntung sudah ada gunung dari karang yang tumbuh subur,” tandasnya.

Selain itu, bakau juga dianggap sebagai  tempat bertelur ikan, udang, dan berbagai hewan laut lainnya yang aman dan terlindung.

Tak hanya melindungi pohon bakau, Susi juga meminta masyarakat melindungi terumbu karang dengan tidak melakukan pengeboman ikan dan pengambilan terumbu karang untuk diperjualbelikan.

“Tadi saya berenang di Pulau Bakakan Kecil saya lihat semua karangnya hancur, berantakan, tidak ada lagi karang hidup. Pulaunya begitu cantik, pasirnya begitu putih tapi karangnya sudah habis. Menangis saya. Apa kerja nelayan itu ngebom ikan atau nangkap ikan yang benar?” tegas Menteri Susi.

Susi menyebutkan kedaulatan negara dengan diusirnya kapal asing dari laut Indonesia sudah tercapai. Kini ikan sudah banyak,  tinggal bagaimana nelayan melindungi dengan berhenti melakukan penangkapan ikan  yang merusak (destructive fishing) menggunakan bom atau bahan kimia lainnya. Jika diperlukan, ia bahkan meminta agar masyarakat Banggai Laut membuat aturan adat istiadat sendiri untuk melindungi laut dan seisinya.

Hal ini mengingat karakteristik laut Banggai Laut yang terbuka dengan ikan residen dan menetap, sehingga jika habis dirusak, ikan baru tidak akan datang lagi dari pulau luar.

“Orang ke sini ngebom karena nyarinya (ikan) gampang, karangnya banyak, tertutup, tidak banyak ombak,” ucapnya.

Susi juga meminta nelayan untuk berjanji pada diri sendiri dan kepada Tuhan untuk tidak lagi melakukan tindakan yang dapat merusak laut, utamanya menggunakan bom ikan.

“Pemerintah bisa bantu dengan memberi kapal, jaring, pancing, perahu. Tapi kalau ikannya sudah tidak ada, mau tangkap apa dengan alat dan perahu itu?” ujarnya.

Susi juga mengajak masyarakat mensyukuri nikmat Tuhan dengan menjaga ciptaan-Nya yang begitu indahnya. Ia meminta BKIPM untuk mengawasi kegiatan pengambilan terumbu karang maupun bambu laut, termasuk penangkapan lobster,  kepiting, dan rajungan bertelur dan di bawah ukuran (undersize).

Agar laut sehat, ikan banyak dan lestari, Susi juga meminta masyarakat agar menyediakan satu hari libur menangkap ikan dalam seminggu. Hal ini untuk menyediakan waktu bagi hewan laut untuk bertelur dan berkembang biak. “Kita jangan serakah dan tamak, habis ikan kita,” tegasnya.

Dalam kesempatan tersebut  KKP menyerahkan bantuan berupa 150 kaca mata selam bagi siswa SD untuk  berenang melihat keindahan laut yang harus dijaga; 10 buku modul sekolah pantai; 100 kantong ramah lingkungan; dan 1 unit tv untuk balai bengong warga Bone Baru. Selain itu, KKP juga kembali mengimbau nelayan untuk segera mendaftar asuransi nelayan untuk mendapatkan perlindungan saat melaut.

Susi juga berjanji memberikan bantuan kapal kepada nelayan dengan syarat membentuk kelompok di bawah koperasi. “Saya ingin koperasi-koperasi setempat bangkit. Jangan hanya koperasi dari Jakarta saja. Mana yang dari daerah? Bapak-bapak ayo bikin koperasi. Ayo tumbuh, ayo bergerak,” imbaunya.

Sementara itu Bupati Banggai Laut Wenny Bukamo mengatakan, 94% wilayah Banggai Laut terdiri dari lautan, sehingga benar sekali bahwa laut adalah masa depan masyarakat sekitar. Untuk itu, Wenny mengungkapkan terima kasih atas bantuan KKP.

“Kita sudah mendapatkan beberapa bantuan dari KKP berupa alat tangkap, kapal, coldstorage, dan sebagainya. Ke depan, dengan bantuan ini (diharapkan) semua nelayan di Banggai Laut bisa terakomodasi. Saya berharap bantuan dari pemerintah pusat ini digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan kita semua. Sesuatu yang bermanfaat, terukur, dan dapat dinikmati bersama,” katanya.

Apresiasi juga disampaikan masyarakat nelayan. Ahmad Yusuf misalnya, ia mengucapkan terima kasih atas bantuan 2 coldstorage yang telah diberikan KKP sebelumnya. Menurutnya, berkat bantuan tersebut harga ikan di Banggai Laut sudah stabil karena tidak lagi dipermainkan oleh tengkulak.

“Sebelum ada bantuan kita punya harga ikan dipermainkan oleh tengkulak yang tidak bertanggung jawab. Sekarang harga ikan kami sudah harga nasional,” tuturnya. (arh)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.