Minggu, 3 Juli 22

Berhasil Curi Cetak Biru Produk Apple, REvil Minta Tebusan US$50

Berhasil Curi Cetak Biru Produk Apple, REvil Minta Tebusan US$50
* Pakar keamanan siber Pratama Persadha. (Foto: dok. pribadi)

Chairman lembaga riset siber CISSReC (Communication & Information System Security Research Center) ini menerangkan, pada 2020 juga banyak kasus serangan ransomware yang dialami perusahaan besar contohnya Garmin dan Honda.  Yang jelas adalah tidak ada sistem yang 100% aman, yang dapat menghalau semua serangan siber pada saat sekarang dan di masa depan. Cara terbaik ke depan adalah melalui mitigasi risiko. Nantinya, seluruh karyawan dan juga para pemain platform perlu diatur bahwa ada beberapa rules yang wajib diterapkan untuk memastikan keamanan siber yang lebih baik.

“Kasus ini sebenarnya menjadi sebuah pembelajaran bagi semua tim IT di dunia atas keamanan dari file-file sensitif dan dalam melindungi data perusahaan. Jika melihat dari perkembangan serangan yang semakin besar selama pandemi terutama karena WFH, perusahan-perusahaan besar terlihat meningkatkan anggaran belanja keamanan sibernya,” ujar Pratama.

Dia menjelaskan,  dari hasil survei microsoft yang telah menyurvei hampir 800 perusahaan di negara-negara maju, maka 58% telah meningkatkan budget keamanannya. Sebesar 82% perusahaan berencana untuk menambah staf keamanannya, dan 81% responden merasa tertekan untuk menurunkan biaya keamanan pada perusahaan. Maka tidak lupa untuk para perusahaan membekali pegawainya dengan aplikasi VPN untuk bekerja dari jarak jauh. Selain itu agar tak mengandalkan aplikasi VPN perlu juga diterapkan Zero Trust Network Access (ZTNA) dan Secure Access Service Edge (SASE) jika perusahaan mempunyai anggaran keamanan yang besar.

Halaman selanjutnya

Pages: 1 2 3

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.