Rabu, 18 September 19

Bergejolak! Sukarno Suarakan Dakwah Islam di Penjara

Bergejolak! Sukarno Suarakan Dakwah Islam di Penjara
* Ruangan tahanan Sukarno di Banceuy. (Foto: Twitter Hanung Bramantyo)

Jakarta, Obsessionnews.com – Penjara tidak selalu dikonotasikan sebagai tempat angker atau menakutkan yang membuat orang takut dan tak nyaman. Namun bagi segelintir orang lainnya, penjara justru bisa menjadi tempat istimewa untuk memunculkan gagasan dan pengalaman segar tentang agama. Misalnya, terjadi pada Sukarno.

Dalam sejarahnya Sukarno termasuk salah satu tokoh yang kerap masuk penjara, satu kali dalam penjara tahanan Banceuy di Bandung, dua kali di penjara besar Sukamiskin. Satu kali lagi di penjara Mataram, dan juga di penjara Surabaya.

Berbeda dari pelaku kriminal umumnya, Sukarno masuk penjara karena dituduh menghasut orang untuk melawan pemerintah kolonial pada Desember 1929. Pemerintah kolonial menjebloskannya ke sel tunggal supaya tak mempengaruhi tahanan lain. Ini berarti pemerintah kolonial menilai Sukarno masuk kategori tahanan berbahaya atau khusus.

“Selnya, Nomor 5 di Blok F, begitu sempit. Lebarnya hanya satu setengah meter, dan separuhya untuk tempat tidur pelbet (lipat, red.) Gelap, lembap, dan melemaskan,” tutur Inggit Garnasih, istri Sukarno, kepada Ramadhan K.H. dalam Soekarno: Kuantar ke Gerbang.

Menyerukan Dakwah Islam di Penjara

Banceuy hanyalah penjara sementara Sukarno. Dia mendekam di sini sampai ada vonis pengadilan. Begitu vonis pengadilan jatuh, Sukarno pindah ke penjara Sukamiskin Bandung. Penjara ini dikenal untuk orang-orang Eropa dan intelektuil. Sukarno termasuk salah satunya.

Menurut Inggit Garnasih, penjara Sukamiskin lebih mendingan daripada di Banceuy. Meski akses informasi dan gerakan Sukarno tetap terbatas. “Sekalipun tentunya bukan kehidupan yang menyenangkan kalau segala perilaku harus menurut komando orang lain,” kata Inggit.

Menurut Inggit di Sukamiskin Sukarno lebih banyak menghabiskan hari dengan mempelajari kandungan Al-Quran. Kepada Cindy Adams dalam Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, dia mengatakan Al-Quran menjadi bacaan pertamanya ketika bangun tidur. Dia menjadi lebih percaya diri menghadapi hari-hari berat di penjara.

Tapi Sukarno tetap merasa ada yang kurang di penjara Sukamiskin. Tak ada pendakwah agama Islam di Sukamiskin. “Hanya pada hari Jumat datanglah ajengan yang bercelak mata buat memimpin sembahyang jamaah dari orang-orang hukuman Islam,” kenang Sukarno dalam Pedoman Masjarakat.

Ada sebuah masjid di Penjara Sukamiskin. Tapi tiap hari kosong melompong. “Seperti gudang belaka, zonder (tanpa, red.) roh di dalamnya,” catat Sukarno.

Buku agama Islam memang tersedia di perpustakaan penjara. Tapi jumlahnya bisa dihitung pakai jari. “Kalau tidak lupa hanyalah 14 buku Islam,” tulis Sukarno. Betapa gersangnya napi Sukamiskin dari siraman agama, pikir Sukarno.

Berbeda dengan ajaran Islam di Sukamiskin, Sukarno membandingkan dengan napi penganut Protestan dan Katolik Roma. Mereka kerap memperoleh ceramah agama dari para pendeta dan pastor.

“Di sinilah seringkali air mata menetes dari matanya orang-orang yang tadinya menganggap menyembelih leher manusia sama dengan memotong sayur. Di sinilah banyak orang hukuman yang tadinya verrek (masa bodo, red.) kepada agama, menjadi menyala rasa Ketuhanannya,” terang Sukarno.

Bahan bacaan yang berkualitas tentang agama Protestan dan Katolik Roma pun tersedia di perpustakaan. Jumlahnya ratusan. “Ada buku tentang tarikh Isa, ada buku tentang penggalan barang-barang kuno yang harus membuktikan bahwa injil-injil sekarang itu betullah injil asali, ada buku tentang jalan ke arah keselamatan,” kata Sukarno.

Sukarno berpendapat bahwa mubalig Islam terlalu malas dan pelit untuk masuk ke penjara. Padahal dengan meminta izin ke kepala penjara, mereka boleh saja masuk. Sekadar menyapa dan menjenguk para tahanan beragama Islam.

Sukarno menyebut orang-orang perampok, penyamun, penipu, pezina pemabok dan pembunuh juga butuh ajaran agama Islam. Begitu juga dirinya yang hanya bisa belajar dengan membaca isi kandungan Al-Quran.

Sukarno menyeru kepada para mubalig Islam Muhammadiyah agar mulai usaha dakwahnya di dalam penjara. “Silakan Muhammadiyah bergiat di lapangan ini,” tulis Sukarno pada bagian penutup artikelnya. (Albar)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.