Selasa, 30 November 21

Beredar Vaksin Palsu, Ini Antisipasi BPOM

Beredar Vaksin Palsu, Ini Antisipasi BPOM

Jakarta, Obsessopnnews – Plt Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Tengku Bahdar Johan mengatakan saat ini masih susah membedakan mana vaksin yang palsu atau asli. Sejak peredaran vaksin palsu beredar sejak 23 Juni 2016 lalu, BPOM telah melakukan beberapa tindakan.

“Saat ini Balai Besar/Balai POM di seluruh Indonesia telah diperintahkan untuk melakukan pemeriksaan dan penelusuran terhadap kemungkinan penyebaran vaksin palsu di daerah masing-masing,” ucap Tengku Bahdar dalam konferensi pers, di kantor BPOM, Jakarta Pusat, Selasa (28/6/2016).

BPOM memastikan, jika ditemukannya vaksin yang bukan dari distribusi resmi, atau diduga palsu, akan dilakukan pengamanan hingga pengujian apakah vaksin palsu atau asli.

Saat ini, lanjut tengku, telah diamankan sejumlah vaksin dari 28 sarana pelayanan kesehatan di 9 wilayah cakupan pengawasan Balai POM, yaitu, Pekanbaru, Serang, Bandung, Yogyakarta, Denpasar, Mataram, Palu, Surabaya dan Batam.

plt bpom

Tak hanya itu, hingga saat ini, pengawasan masih terus berlanjut di 32 provinsi di Indonesia sesuai cakupan Balai POM.

Selain itu, kepada Saranan Produksi dan Distribusi juga dilakukan evaluasi terhadap pendistribusian dan sumber produk yang disalurkannya.

Terkait hal tersebut, BPOM meminta kepada pihak sarana pelayanan kesehatan untuk memperhatikan sumber pengadaan produk vaksin, termasuk persediaan farmasi lainnya, dan menghindari sumber dari yang tidak resmi.

Dalam hal ini, Tengku juga mengaku telah terbentuk tim terpadu, yang terdiri dari Badan POM dan 3 perusahaan farmasi di Indonesia, yakni PT.Biofarma (persero), Giaxo Smith Kline, dan PT. Sanofi Aventis Indonesia untuk mengindefikasi keaslian produk vaksin di lapangan yang diduga palsu.

Selain itu, juga sudah mengadakan koordinasi yang kooperatif dengan Bareskrim Mabes Polri dan menyiapakan tenaga ahli, serta secara aktif berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan untuk meminimalisir dampak dari penyeberan dan peredaran vaksin palsu tersebut. (Popi Rahim)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.