Jumat, 25 September 20

Bercermin pada Integritas Bung Hatta

Bercermin pada Integritas Bung Hatta
* Bung Hatta.

Dalam sejarah Indonesia modern nama Soekarno – Hatta telah terpatri sebagai Proklamator Kemerdekaan Indonesia dan tercatat pula dalam sejarah sebagai founding fathers atau Pendiri Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kali ini kita kenang Dr. H. Mohammad Hatta atau lebih dikenal dengan Bung Hatta, salah seorang putra Indonesia yang terbesar dan terbaik yang wafat 14 Maret 1980.

Pemimpin berkarakter dan konsisten, Bapak Koperasi, pejuang dan pemikir bangsa yang perjalanan hidupnya dari muda sampai akhir hayatnya bersih. Kejujuran, kesederhanaan dan tanggung jawab seorang pemimpin sangat menonjol padanya. Bung Hatta muslim yang taat dan memiliki pandangan-pandangan cerdas tentang konsepsi masyarakat Islam.

Pahlawan Nasional Mohammad Hatta dilahirkan 12 Agustus 1902 di Bukittinggi, Sumatera Barat. Sejarah mencatat peran Bung Hatta sebagai Proklamator Kemerdekaan dan Wakil Presiden RI Pertama. Pernah menjabat Perdana Menteri, Menteri Pertahanan dan Menteri Luar Negeri. Tahun 1956 Bung Hatta meletakkan jabatan Wakil Presiden RI karena perbedaan prinsip dengan Presiden Soekarno. Tetapi walau tidak lagi menjabat Wakil Presiden, sedetikpun republik ini tidak ditinggalkannya. Ia selalu memikirkan nasib bangsa dan negara yang dicintainya. Roeslan Abdulgani menyebut Bung Hatta adalah pengawal dan penjaga hati nurani rakyat.

Selaku muslim Bung Hatta menunaikan ibadah yang menjadi rukun Islam dengan sempurna, seperti shalat, zakat, puasa dan beribadah haji ke tanah suci Mekkah. Dalam kehidupan sehari-hari Bung Hatta sangat teliti dan menepati janji sesuai ajaran Islam. Sampai menjelang akhir hayatnya Bung Hatta selalu menjaga shalat lima waktu.

Sebagai pribadi yang taat menjalankan syariat Islam, Bung Hatta membersihkan harta sejak dari sumber penerimaannya, yaitu menghindari harta yang tidak halal ataupun syubhat cara mendapatkannya. Bersih jiwa dan bersih harta baginya tak dapat dipisahkan. Bung Hatta sangat membenci korupsi, perbuatan curang, suap, pemberian uang komisi kepada penyelenggara negara, dan segala rupa penyalahgunaan kekuasaan dan ketidakadilan. Sejak 1970-an Bung Hatta mengingatkan bahaya yang mengancam bangsa ini.

”Korupsi sudah menjadi budaya di Indonesia.” ungkapnya.

Ia mendorong pemerintah Orde Baru supaya sungguh-sungguh memberantas praktik korupsi di semua lini.

Sahabat seperjuangannya, Mr. Mohamad Roem, menilai, ”Bung Hatta tidak meninggalkan gedung atau deposito. Yang ditinggalkannya pelajaran yang baik untuk rakyat dan negara. Cita-cita Bung Hatta adalah menghilangkan perbedaan kaya dan miskin. Yang kita lihat justru perkembangan sekarang ini malah memperbesar perbedaan itu. Orang kaya ingin jadi lebih kaya dan yang miskin terbatas terus pada kemiskinannya.”

Bung Hatta contoh pemimpin yang satu kata dengan perbuatan. Di usia lanjutnya ia mendapat fasilitas pengobatan ke luar negeri dengan biaya negara atas kebijakan Presiden Soeharto. Tetapi Bung Hatta tetap menghitung rincian pengeluaran pengobatan dan biaya perjalanan. Bila terdapat sisa lebihnya dikembalikan kepada Sekretariat Negara.

Dalam buku Mengenang Bung Hatta, mantan Sekretaris Pribadi Bung Hatta, I Wangsa Widjaja, menulissemasa Bung Hatta Wakil Presiden sering pada akhir bulan ada sisa anggaran rutin biaya rumah tangga wakil presiden dan sisa uang itu dikembalikan ke kas negara. Sejalan dengan prinsip hemat dan jujur Bung Hatta, tidak satu rupiah pun uang negara dihamburkan  untuk pengeluaran di luar kedinasan atau untuk kepentingan pribadi dan keluarga.

Pernah Bung Hatta menerima undangan napak tilas mengunjungi Banda Neira, tempat dia dan sejumlah perintis kemerdekaan diasingkan oleh pemerintah kolonial Belanda. Protokol gubernur menemui Bung Hatta di hotel tempat menginap dan menyerahkan amplop.

“Surat apa ini?” tanya Bung Hatta.

“Ini bukan surat, amplop ini berisi uang untuk Bapak”, jawab si protokol.

Bung Hatta menolak menerimanya, karena menurutnya seluruh biaya perjalanan dan penginapan telah ditanggung pemerintah. Pemberian hadiah-hadiah dianggapnya menghamburkan uang rakyat. Bandingkan dengan praktik gratifikasi yang berkembang belakangan ini sungguh mengerikan.

Ibu Rahmi Hatta mengungkapkan, sewaktu ditanya wartawan ketika Bung Hatta wafat, ”Bapak sama sekali tidak punya deposito di bank. Ia punya buku-buku sebanyak itu, namun tidak punya simpanan uang banyak. Yang ada hanya sejumlah kecil tabungan di Tabanas yang secara hati-hati dipakai dan disiapkan untuk si bungsu Halida bila nanti menikah.”

Bung Hatta benar-benar tokoh teladan anti-korupsi dalam seluruh dimensi kehidupannya.

Salah satu persoalan kebudayaan yang krusial dan sangat ditekankan oleh Bung Hatta adalah menentang munculnya kembali kultur feodalistis yang di masa perjuangan kemerdekaan telah berkurang.

”Mental feodal itu harus dienyahkan dari sikap jiwa generasi muda.” tegas Bung Hatta.

Negara yang dihuni penduduk muslim terbesar di dunia ini jangan dibiarkan karam dalam lautan korupsi yang tiada bertepi. Saatnya kita meneladani integritas moral Bung Hatta dan tokoh-tokoh bersih lainnya yang layak dibanggakan. Indonesia akan menjadi negara yang adil, makmur dan disegani dalam pergaulan dunia jika para pemimpinnya dan segenap aparatur penyelenggara negara memiliki integritas pribadi yang kokoh seperti dicontohkan almarhum Bung Hatta.

Tulisan mengenang Pahlawan Proklamator ini saya akhiri dengan petikan kalimat doa yang sangat menyentuh hati diucapkan Buya Hamka pada upacara pemakaman jenazah almarhum Bung Hatta di Pemakaman Umum Tanah Kusir Jakarta, Sabtu 15 Maret 1980, sebagai berikut; “Seluruh bangsa Indonesia berhutang pada Bung Hatta, hutang budi yang tidak dapat dibayar, hutang yang akan dibawa mati, yaitu jasa dan perjuangan Bung Hatta untuk Indonesia Merdeka….”. (M. Fuad Nasar, Konsultan The Fatwa Center )

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.