Minggu, 28 Februari 21

Berburu Puluhan Triliun Uang Jarahan Mantan Kepala Negara

Berburu Puluhan Triliun Uang Jarahan Mantan Kepala Negara
* Sani Abacha. (Foto: T234P)

Seorang pria ungkapkan cara yang dilakukan untuk berburu puluhan triliun uang jarahan mantan pemimpin Nigeria, Sani Abacha.

Ketika Sani Abacha meninggal dunia, mantan kepala negara Nigeria itu meninggalkan uang jarahan sebanyak puluhan triliun rupiah di sejumlah wilayah.

Hal ini memicu perburuan harta selama dua dekade. Pria yang dipekerjakan untuk mengembalikan uang itu ke Nigeria bercerita kepada wartawan BBC, Clare Spencer, mengenai upayanya.

Pada September 1999, pengacara asal Swiss bernama Enrico Monfrini menjawab panggilan telepon yang akan mengubah perjalanan hidupnya selama 20 tahun ke depan.

“Dia menelepon saya tengah malam dan bertanya apakah saya bisa datang ke hotel tempatnya menginap. Dia mengatakan ada sesuatu yang penting. Saya berkata: ‘Ini sudah larut malam, tapi OK’.”

Lawan bicaranya ternyata adalah seorang petinggi pemerintah Nigeria.

Monfrini mengatakan pejabat tersebut sengaja dikirim ke Jenewa oleh presiden Nigeria saat itu, Olusegun Obasanjo, untuk merekrutnya. Obasanjo ingin agar Monfrini mendapatkan kembali uang yang dicuri Abacha, pemimpin Nigeria dari 1993 sampai tutup usia pada 1998.

Sebagai pengacara, Monfrini punya sejumlah klien di Nigeria sejak 1980-an. Klien-kliennya itu berbisnis kopi, kakao, dan komoditas lainnya.

Dia curiga klien-kliennya tersebut yang merekomendasikan namanya kepada pemerintah.

“Dia [pejabat Nigeria] bertanya: ‘Bisakah Anda menemukan uang itu dan bisakah Anda memblokir uang itu? Dapatkah Anda mengatur agar uang tersebut dikembalikan ke Nigeria?’

“Saya berkata: ‘Ya’. Padahal saya tidak tahu banyak soal tersebut pada saat itu. Saya harus belajar dengan cepat, dan saya melakukannya.”

Pada langkah awal, kepolisian Nigeria menyerahkan rincian beberapa rekening bank Swiss yang sudah ditutup. Rekening-rekening tersebut tampaknya menyimpan uang yang dicuri Abacha dan kroni-kroninya, tulis Monfrini dalam buku bertajuk Recovering Stolen Assets.

Menurutnya, investigasi awal yang dirilis kepolisian pada November 1998 menemukan bahwa lebih dari US$1,5 miliar (Rp21,2 triliun) dicuri Abacha dan kroni-kroninya.

Uang dollar satu truk
Salah satu metode yang digunakan untuk menimbun uang sedemikian banyak tergolong blak-blakan.

Abacha menyuruh seorang penasihat meminta uang untuk masalah keamanan yang tak jelas.

Dia kemudian menandatangani surat permintaan itu, yang kemudian dibawa penasihat tersebut ke bank sentral. Sang penasihat lantas membawa uang tersebut kepada Abacha, sering kali berbentuk tunai.

Oleh sang penasihat, sebagian besar uang diantarkan ke rumah Abacha.

Sebagian uang dalam wujud dollar dibawa sebanyak “satu truk penuh”, tulis Monfrini.

Ini hanyalah salah satu cara Abacha dan kroni-kroninya mencuri uang dalam jumlah banyak. Metode lainnya beragam, seperti memberi proyek negara kepada teman-temannya dengan nilai uang yang sudah dimark-up dan mengantongi selisihnya.

Ada pula metode meminta perusahaan-perusahaan asing membayar upeti untuk beroperasi di Nigeria.

Situasi ini berlangsung selama sekitar tiga tahun sampai semuanya berubah ketika Abacha tiba-tiba meninggal dalam usia 54 tahun, pada 8 Juni 1998.

Tidak jelas apakah dia mengalami serangan jantung atau diracuni karena tidak ada autopsi, kata dokter pribadinya kepada BBC.

Abacha meninggal sebelum menghabiskan uang triliunan yang dia curi. Sejumlah rincian dari beberapa bank belakangan menjadi petunjuk di mana uang tersebut disimpan.

“Dokumen-dokumen yang memperlihatkan riwayat beberapa rekening memberikan saya petunjuk ke rekening-rekening lain,” ujar Monfrini.

Berbekal informasi ini, Monfrini menghadap jaksa agung Swiss.

Monfrini berargumen bahwa keluarga Abacha dan kroni-kroninya telah membentuk organisasi kriminal.

Argumen ini ternyata menjadi kunci yang membuka beragam opsi bagi aparat untuk menangani rekening-rekening bank tersebut. (Red)

Sumber: BBC News

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.