Selasa, 26 Januari 21

Berburu Barang Antik di Pasar Klitikan

Berburu Barang Antik di Pasar Klitikan

Semarang, Obsessionnews – Hari Minggu serasa berbeda jika menilik kawasan Kota Lama di Kota Semarang, Jawa Tengah. Di salah satu sudut Taman Srigunting, tepatnya di Jl. Letjen Suprapto No. 32, sebelah timur Gereja Immanuel atau yang biasa disebut Gereja Blenduk, terlihat banyak pedagang berhamburan di sekitar jalan menjajakan dagangannya. Tentu saja mereka bukan sembarang pedagang kaki lima. Mereka adalah anggota Komunitas Klitikan Antik Kota Lama (Koka Kola) yang menjual berbagai barang antik nan menarik untuk disimak.

Nanang (28) salah seorang anggota Koka Kola mengungkapkan, Pasar Klitikan bertujuan sebagai tempat berkumpul para peminat barang antik dan ajang jual beli berbagai koleksi yang dimiliki kolektor. Kegiatan ini sudah berjalan selama setahun dan pasar ini hanya buka pada waktu-waktu tertentu saja. Pada mulanya pasar ini muncul karena keresahan komunitas sepeda kuno untuk mencari tempat nongkrong. Dari situlah muncul ide untuk melaksanakan kegiatan seperti ini.

Berbagai pernak-pernik benda antik dijual di pasar Klitikan
Berbagai pernak-pernik benda antik dijual di pasar Klitikan

7312382_20141214113953-1

“Pasar ini buka cuma sebulan sekali, pada minggu kedua, Jumat siang sampai Minggu sore. Selain hari itu pasar ini nggak ada,” ujar Nanang kepada obsessionnews.com, Minggu (8/2).

Di pasar ini banyak ditemukan beragam barang antik, mulai dari setrika antik, gilingan antik sampai sepeda motor klasik. Bahkan tak jarang pula ditemukan berbagai mainan antik tempo doeloe yang seakan memutar balik kenangan masa kecil para pengunjung.

Selain pedagang dari wilayah Semarang, ternyata banyak juga pedagang yang berasal dari luar daerah, seperti Jakarta, Solo, Pemalang dan lainnya. Pihak Koka Kola memfasilitasi tenda bagi para pedagang yang ingin membuka lapak di pasar ini.

“Untuk tenda bisa menyewa di sini. Satu tenda harganya Rp 150.000 untuk tiga hari berjualan,” tuturnya.

Pasar Klitikan selalu ramai pengunjung yang ingin berburu berbagai benda koleksi antik. Nanang menuturkan, biasanya para kolektor pemula datang terlebih dahulu ke lokasi untuk melihat-lihat barang antik yang ada sebelum memutuskan untuk membeli. Kebiasaan itu berbeda bagi para kolektor yang sudah lama menekuni bidang tersebut. Mereka biasanya sudah mencari barang tertentu untuk dibeli sebagai pelengkap koleksi ataupun dijual kembali.

Benda-benda antik yang dijual kebanyakan berbeda antara pedagang yang satu dengan yang lainnya. Penataan lapak dibuat sedemikian rupa sehingga mampu membuat kesan bagi pengunjung yang datang.

Bagi para pembeli yang ingin mencoba berburu barang antik, tak perlu risau mengenai keaslian barang yang dijual di pasar ini. Para pedagang di sini mempunyai aturan tentang penjualan barang dagangan yang wajib dipatuhi oleh mereka semua.

“Peraturan utama di sini pedagang harus jujur. Artinya, jika ada barang palsu tidak boleh dikatakan asli. Sedangkan kalau barang retro (barang baru tapi motif lama) harus dikatakan retro. Jika ada yang ketahuan menipu sanksinya harus ke luar dari sini dan tidak boleh lagi berjualan di kawasan Kota Lama,” ujar Nanang.

Sedangkan untuk pecinta fotografi, pasar ini rasanya wajib dijadikan objek sorotan kamera mengingat banyaknya benda-benda unik yang diperdagangkan. Belum lagi lokasinya yang berada di kawasan Kota Lama yang terdapat berbagai bangunan tua yang menarik untuk diabadikan.

Pecinta sepeda tua ikut meramaikan Pasar Klitikan
Pecinta sepeda tua ikut meramaikan Pasar Klitikan

Di sini juga ditemukan berbagai komunitas sepeda antik yang ikut berkumpul untuk sekadar nongkrong atau menunjukkan eksistensi mereka. Tak jarang mereka juga ikut menjual sepeda kuno miliknya. Mereknya beragam dari gazelle, releigh, hingga hartoog yang harganya cukup menguras dompet. Yang lebih unik, kadang-kadang para pecinta sepeda kuno berdandan ala meneer atau prajurit Jepang tempo dulu.

Pasar Klitikan tidak begitu luas, tetapi memberikan kesan unik yang mungkin tidak dapat ditemui di pasar antik yang lain. Kunjungan yang berbalut wisata sejarah ini dapat memberikan pengalaman berbeda bagi pengunjung.

Reporter: Yusuf Isyrin Hanggara

Editor: Arif Rahman Hakim

Related posts