Jumat, 17 September 21

Berat Balasan Tergantung Pengorbanan

Oleh: Ustadz Felix Siauw, Penulis dan Pengemban Dakwah

 

Kita tinggalkan nikmat makan dan minum sebab taat saat puasa. Karenanya Allah akan ganti dengan kenikmatan yang tiada banding saat kita berjumpa dengan-Nya.

Begitulah rumusnya, dalam tiap-tiap ketaatan ada pengorbanan, tiap pengorbanan ada balasan. Balasan ini bisa disegerakan di dunia, atau disempurnakan di akhirat.

Maka makin berat pengorbanan seorang hamba di jalan Allah, makin banyak pula balasan yang dia dapat. Simple math. Kita dapat sesuai dengan apa yang kita berikan.

Adakala satu hal sudah lama, mengakar, mengeras, mentradisi, menjadi kebiasaan baku, yang sangat susah dan sulit diubah, yang seolah kita tak bisa hidup tanpanya.

Tapi saat kita ingin hijrah dan menggapai kenikmatan Allah yang lain, harus kita tinggalkan. Maka ingatlah bahwa apa yang Allah ganti pasti akan lebih dari itu semuanya.

Karena kita tak bisa menggabungkan antara haq dan bathil, masih mau menikmati yang bathil, sementara kita menginginkan kenikmatan yang haq, itu tidak akan terjadi.

Maka kebahagiaan hidup tak dinikmati semua orang, karena tidak semua orang mau melihat hasil akhirnya. Mereka terpaku dengan kesulitan dan hambatan berhijrahnya.

Kabar baiknya, siapa yang berazzam pada Allah untuk berhijrah, maka makin sulit ia meninggalkan hal buruk ketika berhijrah, maka Allah akan lebih memudahkan jalannya.

Makin ektsrim kita meninggalkan kemaksiatan, makin ekstrim pula ketaatan yang terbuka bagi kita. Asal kita mau melakukan pengorbanan, asal kita mau serius di dalamnya.

Rasakan saja, puasa yang kita jalankan mungkin tak sampai 14 jam, tapi Allah balas tunai saat berbuka, dan malamnya, sampai subuhnya. Bagaimana yang lebih berat?

Maka bila hijrahmu terasa berat, bila apa yang engkau ingin tinggalkan begitu susah dan sulit, ingatlah akan balasan yang Allah sediakan, di akhirat juga di dunia. (*)

Related posts