Selasa, 11 Agustus 20

Beras Hitam, Beras Terlarang yang Penuh Khasiat

Beras Hitam, Beras Terlarang yang Penuh Khasiat

PekalonganForbidden rice atau beras terlarang, itulah ungkapan orang China untuk menjelaskan varietas beras yang satu ini. Konon, pada zaman dahulu beras tersebut merupakan beras terlarang bagi kaum biasa. Dinamakan beras terlarang karena hanya para kaisar di negeri China yang boleh mengonsumsi beras bernama latin Oryza Lativa ini, dan dilarang dibudidayakan di luar kalangan kerajaan. Saking istimewanya, dulu hanya petani pilihan di pulau Jawa yang diperbolehkan membudidayakan sebagai hidangan para raja.

Kandungan yang terdapat di dalam beras hitam dipercaya mampu mencegah berbagai macam penyakit
Kandungan yang terdapat di dalam beras hitam dipercaya mampu mencegah berbagai macam penyakit

Inilah beras hitam, salah satu jenis beras yang cukup langka ditemui di saat sekarang. Beras ini terkenal karena kandungan gizi serta oksidannya lebih tinggi dibanding beras merah ataupun beras putih, sedangkan karbohidratnya lebih rendah dari kedua jenis beras tadi. Beras hitam sangatlah cocok untuk digunakan sebagai menu diet dan kabarnya mampu mencegah berbagai macam penyakit.

Beras hitam sulit ditemukan karena masa tanamnya lebih lama, yaitu 5 bulan untuk sekali panen. Bentuknya sendiri sama seperti beras lain, tertutup oleh gabah berwarna coklat, namun mempunyai batang lebih tinggi serta tebal dan tentu saja biji padinya yang berwarna hitam pekat. Ukuran biji padi relatif lebih kecil. Ketika dimasak, beras hitam mempunyai tekstur tidak lengket dan berubah warna menjadi ungu tua.

Para petani di desa Tlogopakis sedang  menanam benih beras hitam
Para petani di desa Tlogopakis sedang menanam benih beras hitam

Beras hitam sudah lama dibudidayakan di Indonesia, tetapi hanya beberapa daerah saja yang berhasil mengembangkan beras jenis ini. Salah satunya adalah Desa Tlogopakis, Kecamatan Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah. Desa Tlogopakis mempunyai karateristik yang sesuai dengan persyaratan tanam beras hitam yang memerlukan hawa sejuk.

Berada di ketinggian 1.000 – 1.900 meter di atas permukaan laut, Petungkriyono menyimpan banyak plasma nuftah (organisme turunan) dari beras hitam dan beras merah. Masyarakat di sini sejak lama menggunakan beras hitam sebagai benih yang ditanam di areal persawahan mereka.

Hingga saat ini para petani masih konsisten menanam beras hitam meskipun masa tanamnya cukup lama. “Kami tetap menanam beras hitam walaupun panennya cukup lama, tapi harga jualnya lebih bagus dibanding beras lainnya,” ujar Abdullah, salah seorang petani beras hitam yang ditemui obsessionnews.com pekan lalu.

Harga beras hitam memang terbilang cukup tinggi. Satu kilo gram (kg) diberandol mencapai Rp 30.000. “Kalau orang beli di sini biasanya dipatok harga Rp 15.000/kg, tapi jika sudah sampai pasar bisa sampai Rp 30.000 – Rp 40.000/kg,”tuturnya.

Peluang budidaya beras hitam memang masih terbuka lebar. Apalagi masih jarang petani yang mau menanam beras yang mempunyai banyak khasiat ini. Proses penanaman padi beras hitam sama sekali tidak menggunakan pestisida ataupun pupuk buatan.

Masyarakat di Desa Tlogopakis masih secara tradisional dalam mengelola sawah mereka. Ketika pada awal persemaian, budidaya beras hitam sama dengan menanam beras putih. Sebelum persemaian, benih diuji terlebih dahulu dengan air garam. Apabila benih tenggelam ke dasar berarti benih tersebut layak untuk ditanam.

Kemudian untuk perawatan, alih-alih menggunakan pestisida, para petani masih menggunakan cara lama, yaitu menabur bunga dan daun keningkir. Ketika menjelang panen, padi dipisahkan dari gabah dengan cara diinjak menggunakan kaki.

Budidaya beras hitam juga dianggap sebagai salah satu wujud menghargai beras peninggalan leluhur. Hal itulah yang membuat beras hitam memiliki harga lebih mahal dari beras pada umumnya. Tentu saja dengan segala cara penanaman yang tradisional tersebut sebanding dengan kualitas beras yang dihasilkan. Selain itu berbagai kandungan gizi yang berlebih dari beras hitam menjadi poin lebih bagi beras tersebut untuk dikonsumsi. (Yusuf Isyrin Hanggara)

 

Related posts