Jumat, 24 September 21

Beras Analog, Beras Tiruan Sintetis yang Aman Dikonsumsi

Beras Analog, Beras Tiruan Sintetis yang Aman Dikonsumsi
* Prof Anang M Legowo menjelaskan bahwa beras analog layak konsumsi.

Semarang, Obsessionnews – Merebaknya peredaran beras yang berbahan dasar campuran plastik tentunya membuat resah kalangan masyarakat. Selain berbahaya, tentu beras plastik atau sintetis membuat banyak pedagang was-was apabila menerima stok beras dari petani. Namun dibalik hiruk pikuk beras sintetis berunsur plastik, ternyata ada pula beras sintetis yang aman untuk dikonsumsi. Penasaran? Ikuti penelusuran obsessionnews.com berikut ini!

Inilah beras analog atau beras sintetis alami. Beras analog memang berasal dari bahan-bahan alami yakni ketela pohon dan jagung. Menurut pakar pertanian asal Universitas Diponegoro, Prof. Anang M Legowo, beras analog sejatinya aman dikonsumsi manusia. Bahkan beras tiruan ini diklaim memiliki gizi setara beras asli.

“Jadi ada beras analog yang terbuat dari jagung dan tepung ketela pohon. Pada intinya gizinya hampir sama. Gizi beras asli bisa ditemukan dari unsur protein yang terkandung dalam jagung,” terangnya saat ditemui di kantornya, Senin (25/5/2015).

Rasa beras analog, lanjut Anang, hampir sama dengan beras pada umumnya. Bahkan dari segi warna juga memiliki kemiripan dengan beras asli. “Jadi agak sulit membedakan antara beras asli dengan beras analog. Paling mencolok tampilan beras analog agak kasar. Tekstur kasar ini karena campuran tepung jagung dan ketela,” ujar Anang.

Pemakaian beras analog sendiri diakui oleh pemerintah dalam hal ini BPPOM selaku penguji keamanan bahan pangan.Beras analog sudah dijadikan makanan sehari-hari di daerah Jawa Timur tepatnya Kota Jember. Sedangkan wilayah Jawa Tengah, produksi beras analog mulai dikembangkan di Kabupaten Purwodadi dan Kebumen.

Meski beras analog merupakan beras campuran, harga beras tersebut justru lebih mahal ketimbang aslinya. Hal ini disebabkan proses pembuatan beras analog terbilang rumit. Mulai dari proses pengolahan jagung menjadi tepung sampai pembuatan tepung fermentasi Modified Cassava Flour (Mocaf) yang membutuhkan biaya tidak sedikit.

“Nah setelah ditotal keluarlah jadi beras analog ternyata jatuhnya sedikit lebih tinggi,” jelas guru besar Fakultas Pertanian tersebut.

Di balik semua itu, ternyata beras analog diharapkan menjadi solusi pengganti beras di masa mendatang. Sebagaimana dapat dilihat, banyak negara-negara maju mulai meninggalkan makanan pokoknya agar tidak ketergantungan pada satu jenis bahan pangan. Terlebih saat ini pemerintah sedang mengupayakan melalui berbagai rekayasa ilmiah agar teknologi pembuatan beras analog lebih efisien.

Ia juga berharap pemerintah mau mendukung keberadaan beras analog dengan memberikan bantuan berupa alat processing. Melalui pengadaan alat pembuat beras, diharapkan harga beras analog dapat ditekan hingga dibawah harga beras asli. “Kita kan konsumsi berasnya tinggi ya. Diatas 100 kilo per kapita. Jadi kalau bisa sedikit diturunkan dibawah kapita, salah satunya dengan subtitusi (pengganti) beras analog,” tandasnya. (Yusuf IH)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.