Jumat, 22 Oktober 21

Bentrok Transportasi Online vs Transportasi Konvensional

Bentrok Transportasi Online vs Transportasi Konvensional
* Unjuk rasa para sopir di Jakarta, Selasa (22/3/2016).

Jakarta, Obsessionnews – Teknologi informasi dari tahun ke tahun tak bisa dipungkiri mampu mengubah atmosfer ekonomi bisnis di Indonesia, seperti transportasi berbasis digital populer, yakni Uber, Go-jek dan Grabbike.

Namun siapa sangka keberadaan mereka yang dinilai masyarakat commuter memudahkan transportasi di kawasan DKI Jakarta dan sekitarnya, berpotensi kontra bagi para sopir konvensional. Seperti yang terjadi hari ini Selasa (22/3/2016), mereka yang tergabung dalam Persatuan Pengemudi Angkutan Darat (PPAD) yang didominasi para sopir taksi Blue Bird melakukan aksi unjuk rasa demi meminta aplikasi digital tersebut dihapus.

Kabar terakhir Blue Bird memutuskan memberikan pelayanan gratis 24 jam pada esok hari, Rabu (23/3/2016). Namun apakah dengan hal tersebut masyarakat lekas tertarik dengan penggunaan transportasi konvensional? Ataukah tetap memilih transportasi berbasis digital? Berikut informasi perkembangan tiga perusahaan transportasi digital populer di Jakarta dan sekitarnya.

Grab
Perkembangan Grab di Indonesia diluncurkan pada tahun 2012, yang tumbuh melebihi 50 persen pangsa pasar penyewaan kendaraan pribadi di Indonesia pada akhir tahun 2015. Seiring pertumbuhannya yang kuat pada bulan Februari 2016 lalu bertambah 30 persen dari bulan sebelumnya.

Menurut manajer public relations Grab, Dewi Nuraini, bisnis layanannya hingga Maret 2016 mampu melampaui seluruh target bahkan mencapai 50 persen pangsa pasar ojek di Indonesia.

“Tiga kwartal lebih awal dari yang ditargetkan untuk akhir tahun 2016, bisnis layanan GrabBike telah tumbuh sebesar 20 persen setiap minggunya,”jelasnya kepada Obsessionnews.com, Selasa (22/3).

Selain di Indonesia, Grab juga melayani beberapa negara lainnya, seperti Singapura, Filipina, Malaysia, Thailand, dan Vietman.

Go-Jek
Nama Go-Jek merupakan aplikasi digital awal di Indonesia. Didirikan pada tahun 2010 oleh Nadiem Makarim dengan pelayanan mencakup Jabodetabek, Bali, Bandung, Surabaya, Makassar, Medan, Palembang, Semarang, Yogyakarta dan Balikpapan.

Hingga kini aplikasi Go-Jek sudah diunduh hampir 10 juta kali di Google Play pada sistem Android, dan ada kini juga ada untuk iOS di App Store.

Menjamurnya penggunaan jasa Go-Jekmembuat adanya kecemburuan di antara tukang ojek pangkalan. Seperti pada tanggal 9 juni 2015, seseorang dalam akun path nya menuliskan insiden bahwa pengemudi Go-Jek yang dipesannya diusir tukang ojek pangkalan di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, yang tidak menerima rezekinya dirampas.

Nadiem Makarim sebagai pemilik Go-Jek sendiri tidak pernah menyangka usaha yang dirintis sejak Agustus 2010 dapat berkembang pesar. Awalnya hanya bermitra 1.000 pengemudi ojek, kini jumlah mitranya melebihi 10.000 orang.

“Jadi memang itulah kekuatan mobile app, membuat customer mudah mengakses kami. Total sudah 650 ribu pengunduh aplikasi Go-Jek ini sejak Januari,” kata Nadiem baru-baru ini.

Uber
Uber juga merupakan perusahaan rintisan, bergerak di bidang jaringan transportasi asal San Francisco, California, Amerika Serikat,  akhirnya bisa menembus Indonesia pada 2012 yang mencakup tumpangan berupa taksi. Hingga Juni 2014 Uber mengakhiri periode pendanaan yang menaikkan nilai perusahaan menjadi US$18,2 miliar. Saat ini Uber masih terlibat gugatan di beberapa wilayah hukum dengan tuduhan operasi taksi ilegal.

Namun Direktur Komunikasi Uber Kawasan Asia Selatan Karun Arya membantah tuduhan itu. Dia mengaku pihaknya selalu mematuhi segala peraturan perpajakan yang berlaku di seluruh kota tempat beroperasi. (Aprilia Rahapit)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.