Rabu, 20 Oktober 21

Beli Makan di Kantin Methan, Pembeli Bayar Pakai Plastik

Beli Makan di Kantin Methan, Pembeli Bayar Pakai Plastik
* Kantong plastik.

Semarang, Obsessionnews – Di tengah gencarnya perang pemerintah terhadap sampah plastik di minimarket, sebuah kantin makanan di kawasan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatibarang, Kota Semarang, Jawa Tengah, justru mewajibkan pembeli membayar makanan yang dijual menggunakan sampah plastik.

Kantin sampah bernama ‘Kantin Gas Methan’ adalah sebutan bagi tempat makan milik Suyatmi (42) dan Sarimin (54). Suyatmi beserta suami memanfaatkan warung kecil-kecilan tersebut untuk mengepul plastik.

Dibantu pengelola TPA Jatibarang, maka berdirilah kantin milik pasangan suami istri tersebut. Para pembeli makanan atau minuman di kantin itu wajib membawa sampah plastik untuk ditimbang dan dihargai kiloannya. Satu kilo plastik dihargai Rp 400. Meski begitu, pembeli wajib membawa minimal 20 kilogram plastik yang jika dinominalkan seharga Rp 8.000.

“Jadi to mas, kalau yang makan di kantin sini habisnya itu Rp 6.000 sampai Rp 8.000. Makanya mereka bawa plastik paling sedikit 20 kilogram,” ujar Sarimin, Senin (14/3/2016).

Suyatmi menerima sampah plastik dari pemulung
Suyatmi menerima sampah plastik dari pemulung

Sampah yang ditukar cukup beragam. Pihaknya menerima hampir seluruh jenis plastik yang laku untuk didaur ulang, antara lain plastik kresek dan botol-botol bekas minuman yang sudah tidak terpakai.

“Kalau plastik yang ditimbang harganya lebih tinggi dari makanannya. Para pemulung biasanya nabung di sini, ” ujar pria dua anak ini.

Inisiatif, kantin sampah bermula pada 1 Januari 2016 lalu. Awalnya, warga asal Rembang ini telah berjualan layaknya warung biasa selama satu tahun khusus bagi para pekerja di kawasan TPA Jatibarang. Para pemulung yang datang, kerap berhutang kepadanya lantaran tidak selalu mempunyai uang.

“Dari situ saya mikir, mereka sering hutang makan karena sampah yang dikumpulkan belum menghasilkan uang. Akhirnya saya minta mereka bayar pakai plastik saja, ” kata dia tersenyum.

Selain itu, pembayaran menggunakan plastik membawa berkah tersendiri bagi Sarimin dan keluarga. Setiap 1 kilogram plastik yang dibeli dengan harga Rp 400, dia menjual kembali ke pengepul sampah seharga Rp 500.

“Sehari bisa dapat 2 kwintal plastik yang dikumpulkan 20 pemulung. Biasanya kalau sudah saya dapat 1 sampai 2 ton lalu diangkut. Saya untung dari plastik dan  dagangan nasi, ” ujar Sarimin yang tinggal di warung tempatnya berjualan.

Penggunaan Gas Metana

Pemilihan kantin sampah di kawasan TPA ternyata tidak hanya menguntungkan dari  segi penjualan plastik saja. Mereka juga memanfaatkan gas metan atau biogas hasil produksi sampah-sampah di Jatibarang. Gas Metan tersebut atau CH4 timbunan sampah digunakan sebagai bahan bakar pengganti gas elpiji.

Gas Metana mampu ia oleh sehingga dapat dipakai gratis, baik untuk keperluan rumah tangga maupun memasak di warung.

“Kami bisa untuk lumayan karena gas metana ini gratis. Sebulan kantin sampah ini bisa untuk Rp1,5 juta, ” kata Suyatmi. (Yusuf IH)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.