Sabtu, 16 Oktober 21

Belajar Ikhlas dalam Hidup

Belajar Ikhlas dalam Hidup

Oleh: Ary Ginanjar Agustian, Motivator dan pendiri ESQ Leadership Center  

Sahabat, akan banyak hal yang akan kita bayangkan ketika mendengar kata “IKHLAS”. Sesuatu hal yang sangat mudah, namun terasa sulit untuk dilakukan. Bukan begitu?

Menanamkan sikap Ikhlas harus kita terapkan dalam hidup. Mengapa harus? Untuk mengerti, Anda bisa simak cerita saya berikut yang akan membuat Anda mengerti tentang pentingnya memiliki sikap Ikhlas. Saya akan bercerita kisah tentang ubi dan kambing. Penasaran kan? Begini ceritanya, simak ya…

Di sebuah kampung yang jauh dari keramaian, tinggallah seorang bapak tua dan istrinya. Bapak tua tersebut berprofesi sebagai seorang guru. Ia sudah berpuluh-puluh taun bekerja sebagai guru di sebuah sekolah yang tak jauh dari tempat tinggalnya. Sang bapak tua ini sangat dihormati oleh murid-muridnya.

Suatu ketika, ada salah satu murid yang datang berkunjung ke rumah sang guru. Sang murid membawa sekeranjang ubi sebagai oleh-oleh untuk gurunya. Sang murid berkata,“Pak, ini ada sekeranjang ubi dari orangtua saya untuk Bapak. Maaf ya pak, Saya hanya bisa membawa ubi saja.”
.
Sang guru pun merasa terenyuh dengan kebaikan hati muridnya. Sang guru kemudian berkata kepada anak muridnya,“Ya Allah, nak. Kenapa kamu repot-repot membawakan Bapak sekeranjang ubi. Rumahmu jauh lho. Sampaikan terima kasih Bapak kepada orangtuamu ya. Sekarang kamu silakan duduk, Bapak izin ke belakang ya.”
.
Sang guru yang sudah paru baya itu kemudian pergi ke dapur menemui istrinya, lalu bertanya.”Umi, di dapur ada apa ya? Ini muridku datang bawa ubi.

Lalu Sang istri menjawab. “Kita ngga punya apa-apa Bi. Abi tahu sendiri, kita cuma punya kambing peliharaan kan.”

Sang guru terdiam sambil mengangguk-anggukkan kepala, lalu.“Kalau begitu ini ubinya disimpan ya Mi. Abi minta tolong buatkan teh hangat untu muridku. Oh iya, sebagai balasannya, kita kasih kambing saja untuk muridku,”

Sang Istri mengiyakan sambil bergegas membuatkan minum untuk murid sang guru.

Sang guru kemudian mengambil kambing dan segera menemui Sang Murid. Ketika menemui muridnya ia berkata, “Nak,  Bapak ngga punya apa-apa. Ini bisa kamu bawa pulang. Sampaikan salam Bapak untuk orang tuamu ya. Bilang terima kasih banyak”.

Sang Murid sangat terkejut karena sang guru memberinya kambing. Sang murid mengucapkan berkali-kali terima kasih kepada sang guru. Setelah sore hari kemudian sang murid pulang ke rumah.

Ketika sang murid di jalan pulang ke rumah, ia bertemu dengan teman-temannya yang sedang bermain. Teman-temannya bertanya dari mana ia mendapatkan kambing. Ia pun kemudian menceritakan kalau ia membawa ubi untuk sang guru kemudian dibalas dengan seekor kambing. Murid itu pun bercerita kepada temannya. Karena cerita si murid itu sangat menarik, temannya lalu penasaran dan ingin melakukan hal yang sama. Temannya pun pulang dan menceritakan pengalaman temannya kepada ayahnya.

Setelah bercerita, sang ayah berkata,”Ehmm, Nak, kalau kamu memberikan kambing untuk gurumu, kemungkinan besar kamu akan diberi seekor sapi oleh gurumu. Temanmu saja membawa ubi, diberi kambing. Mungkin nanti kalau kamu bawa kambing, nanti dapat sapi.”

Sang anak dan sang ayah berpikir jika mereka memberi yang lebih, maka mereka akan menerima yang lebih banyak lagi.

Keesokan harinyam Murid yang satu itu datang ke rumah gurunya dengan membawa kambing ke rumah. Sang guru terkejut. Karena baru saja ia memberikan kambing untuk muridnya, sekarang ia mendapatkan kambing pengganti. Sang guru menemui Istrinya, sambil berkata,“Umi, alhamdulillah Abi dapat kambing lagi dari murid Abi. Kita hanya punya Ubi ya bu. Ubi yang kemarin kita kasih ke muridku saja ya”.

Sang guru pun keluar dari dapur sambil menenteng ubi untuk diberikan muridnya. Sang Murid terkejut karena apa yang diberikan sang guru tak sesuai ekspektasi. Ia pun menerima pemberian sang guru sambil tersenyum walaupun dalam hati kecewa . Ia kembali ke rumah dengan membawa ubi bukan seekor sapi seperti apa yang ia dan ayahnya harapkan.

Dari cerita di atas, apa yang dapat Sahabat ESQ simpulkan?

Anda harus tahu, perhitungan manusia itu tidak sama dengan perhitungan Allah. Sebuah perbuatan dapat dikatakan baik apabila kita menyertakan ikhlas di dalamnya. Jika Anda melakukan sesuatu namun mengharapkan balasan itu tandanya Anda belum ikhlas.

Ikhlas merupakan sebuah kunci penting yang harus Anda pegang untuk menjalani kehidupan. Sebuah hasil yang anda dapatkan adalah buah dari niat awal Anda. Jika Anda melakukan sesuatu karena Allah, Insya Allah, kita akan dapatkan rido Allah. Namun jika dibalik sikap baik kita, kita menyimpan sebuah maksud tertentu, bersiaplah karena kekecewaan yang akan menghampiri.

Ikhlas bisa kita terapkan dalam segala situasi. Ikhlas ketika gaji tidak sesuai, ikhlas ketika tidak masuk perguruan tinggi yang bonafit, ikhlas ketika teman tidak bisa membantu di kala kita sulit, ikhlas menerima cobaan ataupun ujian yang Allah berikan kepada kita. Jika kita ikhlas, Insya Allah, Allah akan membimbing kita untuk terus menjadi pribadi yang terus bersyukur. Dengan IKHLAS, kita akan belajar BERSYUKUR. Dengan BERSYUKUR, kita tak akan khawatir dengan hidup kita, karena Allah pasti akan memberikan yang terbaik untuk hambaNya.

Berbuat baiklah dengan ikhlas tanpa mengharapkan suatu imbalan. Tugas kita hanya berbuat baik, tak usah memikirkan balasannya. Balasannya seperti apa, biar Allah yang mengatur.

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.