Kamis, 21 Oktober 21

Belajar Fotografi Gratis di Kelas Pagi Yogyakarta

Belajar Fotografi Gratis di Kelas Pagi Yogyakarta
* Siapapun dapat menimba ilmu fotografi di komunitas Kelas Pagi Yogyakarta (KPY) tanpa dipungut biaya alias grartis. (Foto-foto: dokumentasi KPY)

Yogyakarta, ObsessionnewsBerawal dari seorang Anton Ismael yang merupakan fotografer profesional mencoba mengembangkan kemampuan dalam dunia fotografi. Pada tahun 2006, Anton membentuk sebuah komunitas belajar fotografi di Jakarta. Kemudian dikembangkannya di Yogyakarta.

Melihat segala aktivitas di Jakarta dimulai pagi hari. Terbiasa dengan kesibukan orang kebanyakan di pagi hari. Hingga terbentuklah komunitas fotografi ini menjadi Kelas Pagi Jakarta (KPJ). Filosofinya segala kegiatan apapun dan waktu apapun dimulai pagi hari. Di Jakarta, Anton memang membuka Kelas Pagi awalnya juga di pagi hari. Berlangsung pada pukul 06.00-10.00 WIB.

Murid-murid KPY antusias belajar fotografi
Murid-murid KPY antusias belajar fotografi

“Kemudian melihat Yogyakarta yang penuh dengan berbagai macam budayanya. Sepertinya akan mampu menggugah orang-orang yang niat belajar fotografi. Dari semua kalangan pun bisa masuk kemari. Tanpa ada batasan tertentu. Lantas Anton membuka cabang istilahnya menjadi KPY,” terang Kurniadi Widodo, pengurus KPY, kepada obsessionnews.com beberapa waktu lalu.

Komunitas KPY berdiri pada 2009 lalu. Tempat yang dijadikan ruang kelas untuk KPY ini dulunya merupakan rumah keluarga istri Anton. Dan hingga sekarang rumah tersebut menjadi kelas bagi para penyuka fotografi ini. Dimulai dari kelas dasar sampai intermedia. Bermula dari pengenalan kamera hingga tugas akhir yang berujung dengan sebuah pameran yang diluncurkan murid-murid KPY ini.

Seperti sekolah formal pada umumnya, KPY yang informal ini juga memiliki sebuah kurikulum yang harus dipatuhi oleh murid-muridnya. Namun atas dasar berbagi ilmu dan pengalaman. Belajar di KPY tidak dipungut biaya apapun alias gratis.

KPY merupakan kelas rakyat, siapa saja bisa bergabung. Tanpa syarat dan baju seragam, tanpa uang sekolah bulanan, uang pangkal atau uang gedung. Pengadaan kelasnya pun tidak setiap hari. Satu minggu sekali selalu ada kelas untuk belajar bersama mengenai fotografi. Biasanya pada akhir pekan, antara hari Jumat dan Sabtu.

“KPY juga tidak mengharuskan bagi murid-muridnya memiliki kamera sendiri. Namun bagi siapapun yang ingin dan berniat belajar fotografi bersama. Tentunya KPY terbuka lebar bagi siapa saja yang ingin belajar,” ujar Kurniadi.

Untuk setiap kelas seperti dasar atau kelas yang lebih spesifik lagi ada pengajarnya. Dan setiap satu kelas itu bisa mencapai 30-40 orang. Untuk bergabung dalam komunitas inipun tidak harus berasal dari bidang fotografi. Bahkan bisa dari berbagai disiplin ilmu.

Kurniadi menceritakan ada seorang ibu yang ingin belajar fotografi. Bagaimana ia bisa memotret anaknya dengan baik berdasarkan prinsip-prinsip fotografi yang ada. Akhirnya sang ibu itu ikut bergabung di KPY. Ini membuktikan bahwa KPY tidak memandang batasan usia atau apapun. Melainkan mau dan memiliki keinginan untuk belajar, seni fotografi khususnya.

“Saat ini murid-murid KPY mencapai ratusan anggota. Itupun juga tidak harus dari kelas dasar yang awalnya tiga bulan pertama masuk di sini. Jika ingin langsung mengenal beberapa jenis foto seperti fashion, jurnalistik, dan lainnya hingga adanya tugas akhir berupa pameran. Namun memang kebanyakan mahasiswa yang menjadi anggota. Tapi tak menutup kemungkinan di luar itu pun banyak sekali yang mengikuti,” imbuhnya.

Ke depannya, KPY tetap dengan program-program yang sudah dijalankan. Tapi juga akan dikembangkan lagi. Lebih fleksibel saja jika banyak orang. Tak sedikit orang bisa belajar dan berbagi pengalamannya dalam dunia fotografi di komunitas ini. (Nissa)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.