Sabtu, 25 September 21

Belajar dari Cina Atau Dibodohi Cina?

Belajar dari Cina Atau Dibodohi Cina?

Oleh: Baher Nugroho, Presiden Gerakan Kebangkitan Pribumi Indonesia

 

SUDAH menjadi realitas tak terbantahkan, jika Indonesia di bawah kepemimpinan Rezim Jokowi-JK kini ‘berkiblat ke Cina’. Media massa baru-baru ini juga mem blow up kunjungan Jokowi menghadap Presiden Cina Xi Jinping. Ini juga yang membuat saya yang selama ini agak kurang sempat menulis panjang, mencoba meluangkan waktu dalam kondisi tubuh yang kurang fit.

Sebab, dalam banyak diskusi, ada yang masih “terpesona” dengan Cina tanpa mau sedikit menelisik apa sesunguhnya di balik itu semua.

Tentu jika benar-benar orientasinya ingin menjadikan Indonesia seperti Cina yang terus bertumbuh menjadi ‘Pesaing’ Amerika Serikat. Itu tentu positif-positif saja.

Cina memang diakui dunia hebat dalam meningkatkan kesejahteraan rakyatnya, setelah Deng Xiaoping masuk partai komunis dan mengadopsi system kapitalis. Tepatnya, apa yang disebut Robert Gilpin, sebagai transformasionalis, mainstream New Right. Bahwa globalisasi yang tengah berlangsung saat ini menyusun kembali kekuasaan, fungsi, dan otoritas pemerintahan nasional. Pemerintah nasional diperlukan namun hadir dalam bentuk yang berbeda.

Beberapa sumber mencatat, sejak Deng Berkuasa, pertumbuhan ekonomi Cina sekitar 9 persen per tahun. Bahkan, ktika Negara-negara Asia Timur mengalami krisis ekonomi dan moneter yang dahsyat (misal pada 1997), Cina tetap tumbuh dengan meyakinkan. Demikian juga ketika Negara dengan sumber ekonomi terbesar, seperti AS, mengalami kebangkrutan ekonomi Cina juga tetap mengalami pertumbuhan yang meyakinkan. Meskipun sempat mengalami penurunan, namun Cina mampu melakukan recovery dengan cepat. Pada tahun 2009, pertumbuhan tersebut terus berlanjut sebagaimana diprediksikan oleh ekonomi Martin Wolf.

Deng juga ketat dalam menjaga Stabilitas politik. Ia percaya, Stabilitas politik merupakan salah satu faktor penting keberhasilan pembangunan ekonomi. Setidaknya, inilah yang dikemukakan oleh banyak ahli dalam menganalisis akar penyebab keberhasilan pembangunan Cina. Pilihan-pilihan reformasi Cina adalah bidang ekonomi dan sosial, tetapi tidak dalam bidang politik.

Legitimasi pemerintah Cina dibangun melalui usaha bagaimana meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan rakyat.

Bagaimana dengan Jokowi JK? Mari kita coba lihat;

Pertama, soal pertumbuhan dan iklim ekonomi nasional. Pemerintah selalu ‘ngeles’ karena pengaruh ekonomi dunia. Ini berbeda sekali dengan Deng yang menyadari dengan Nasionalisme Cina namun mencoba merangkul semua kalangan yang sebelumnya ‘anti Mao’. Ia memberikan fasilitas untuk rakyatnya untuk bersatu, berinovasi agar mampu berdaya saing. Meski di sisi lain membuka lebar keran investasi asing, namun Negara berperan melakukan proteksi terhadap usaha rakyat. Sehingga meski ada investor (pemodal) asing, namun rakyat China tidak begitu saja dieksploitasi. Buktinya, China juga menjadi sumber-sumber pemasok besar bagi perusahaan-perusahaan besar semacam Wall-Mart.

Kalau Indonesia? Bukannya meningkatkan penghasilan rakyat malah memperburuk dengan inflasi dan daya beli rendah, diberlakukannya kapitalisasi sumber energy (Lpg, Lisrik, BBM mahal tanpa subsidi).

Rasionalisasi dari persaingan bisnis global direfleksikan dalam bentuk kemampuan hasil produksi untuk bersaing di dalam pasar global. Kemampuan bersaing tersebut dilihat dari kemampuan hasil produksi untuk menguasai pangsa pasar global secara proporsional sesuai dengan tingkat kemampuan rata-ratapesaing internasional. (Heflin Frinces P.Hd , 2011).

Nah bagaimana mungkin bisa produktif, diproteksi saja ngga, akses modal sulit, suku bunga tinggi, sementara pemodal asing diberi karper merah?

Keberhasilan kebijakan pembangunan Cina terwujud karena Negara mampu secara konsisten memberikan panduan selama proses reformasi dan sekaligus melakukan kontrol atas mayoritas insustri dan membongkar hambatan-hamabatan keuangan sektor-sektor publik yang tidak efisien secara bertahap.

Bandingkan dengan Jokowi JK ; Nggak Ada Stabilitas Politik, Ribut mulu, yang ngritik (kontra) malah dikriminalisasi (dengan tuduhan makar, tidak sesuai Pancasila, Tidak Berbhinneka, dsb). Rezim juga produktif sekali subsidi ‘kompor’ isu-isu dagelan ditengah inflasi, daya beli rendah. Dan yang paling parah, usaha rakyat ngga diproteksi. Seolah ngga ada masalah Kemiskinan dan pengangguran di Indonesia.

Di sisi lain, Cina yang kadung besar kepala’ menjadi kekuatan ekonomi dunia tentu butuh Indonesia bukan menjadi ‘pesaing’ yang ada justru menjadikannya sebagai penguat dengan dihisap segala sumber dayanya.

Wajar dong kalau kemudian ada pertanyaan Indonesia sebenarnya mau belajar dari Cina apa mau dibodohi Cina Asing-Aseng Neolib?

Salam Kebangkitan Pribumi !!! [*]

 

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.