Sabtu, 1 Oktober 22

Belajar dari Bengkulu, Tambak Udang di Kebumen Perlu Dikelola Secara Modern

Belajar dari Bengkulu, Tambak Udang di Kebumen Perlu Dikelola Secara Modern
* Dari Kiri Wakil Bupati Kebumen Arif Sugiyanto tengah meninjau lokasi tambak udang yang dikelola PT. Dua Putra Perkasa di desa Linau, Kecamatan Maje, Kabupaten Kaur, Provinsi Bengkulu, Sumatera. (Foto: Baruddin)

Kaur, Obsessionnews.com – Jajaran Pemerintah Kabupaten atau Pemkab Kebumen melakukan studi banding ke Bengkulu guna melihat langsung proses tata cara pengembangan tambak udang yang dikelola PT. Dua Putra Perkasa di desa Linau, Kecamatan Maje, Kabupaten Kaur, Provinsi Bengkulu, Sumatera.

Rombangan studi banding ini dipimpin langsung oleh Wakil Bupati Kebumen Arif Sugiyanto, dan turut didampingi Sekda Kebumen Ujang Sugiyono, dan Kepala Dinas Perkim LH Kebumen Edi Riyanto serta pihak terkait.

Arif menyatakan, studi banding ini dilakukan karena ia melihat Kebumen punya potensi sumber daya alam laut yang begitu luas. Potensi ini kata Arif, sayang jika tidak dimanfaatkan sebaaik mungkin untuk kemaslahatan masyarakat Kebumen, sehingga strategi pengembangan potensi laut ini perlu dipikirkan dan dikaji lagi.

“Kita telah menyelesaikan kegiatan kunjungan ke tempat pembudidayaan udang Vaname yang luasnya kurang lebih 60 hektar. Kita semua proses ini berjalan dengan profesional, dari 1 hektar kurang lebih bisa menghasilkan 40 ton udang tiap bulannya,” ujar Arif di lokasi tambak Udang, Sabtu (30/1).



Di pesisir selatan pantai Kebumen sebenarnya ada beberapa masyarakat yang sudah mengembangkan bisnis tambak udang. Namun hasilnya masih jauh dari yang diharapkan. Dalam 1 hektar produksi udang di Kebumen rata-raya hanya mampu mengasilkan 8 ton per panen. Menurut Arif ke depan perlu ada pembenahan sistem.

“Karena ini sangat jauh selisihnya, sehingga ada hal-hal yang perlu diperhatikan kembali,” ujar Arif.

Jika mengacu pada proses pemudiayaan udang di Bengkulu ini, maka ada banyak hal yang perlu diperhatikan. Misalnya mulai dari ukuran tambak dan jumlah bibit yang disebar, saluran oksigen, hingga pengecekan lab kandungan air dilakukan secara rutin setiap hari. Begitu juga proses pembuangan air limbah.

Arif menyatakan, proses pembuangan limbah ini juga harus dilakukan dengan benar. Sebab, budidaya udang ini sangat tergantung dengan lingkungan. Jika jika lingkungannya baik, maka hasil yang akan diperoleh juga baik. Limbah berupa kotoran udang tidak serta merta dibuang ke laut, melainkan ditampung dan disterilkan terlebih dahulu dalam sebuah wadah, setelah itu baru dibuang.



“Ke depan Kebumen arah pengelolaanya juga harus seperti itu. Selain profesional, budidaya udang juga dilakukan secara modern, agar hasilnya bisa jauh lebih maksimal. Ini yang penting,” ucap Arif yang sudah ditetapkan sebagai Bupati Kebumen terpilih pada Pilkada 2020 kemarin.

Baik Sekda Kebumen Ujang Sugiyono dan Kepala Dinas Perkim LH Kebumen Edi Riyanto, keduanya sama-sama sepakat bahwa pengelolaan tambak udang di Kebumen perlu dibenahi lagi secara profesional dan modern. Tentunya dengan memperhatikan semua proses tahapan budidaya dari awal sampai akhir pembuangan.

”Saya melihat keberhasilan dari segi pembuangan air limbah tidak langsung ke laut, dan ekosistem di sini betul betul diperhatikan. Jadi saya yakin jika di terapkan ke Kebumen pasti akan berhasil,” ujar Sekda.

”Saya juga melihat ini bisa ditularkan ke petani di Kebumen, Mindset lama harus kita rubah. Ini penting sekali agar hasil tambak bisa meningkat, target 30 sampai 40 hektar bisa tercapai,’’ ujar Edi Riyanto.



Sementara itu Direktur PT. Dua Putra Perkasa Risma Ardhi Chandra menyatakan, dirinya menyambut baik kunjungan dari Pemkab Kebumen tersebut. Pihaknya juga siap membantu dalam pengembangan tambak udang vaname di Kebumen sehingga hasilnya bisa jauh meningkat.

”Kami sangat antusias untuk sama sama membangun Kebumen, infrastruktur kami juga kami siapkan untuk membantu kota Kebumen agar menghasilkan tambak udang vaname minimal mirip seperti di Bengkulu ini,”ucapnya.

Menurut dia, kunci utama dari pengembangan budidaya udang ini adalah pengelolaan air. Sebab, air menjadi media utama dalam proses keberlangsungan tambak udang. Jika pengelolaan airnya bagus, maka hasilnya pun akan bagus. Jangan sampai air tercemar oleh limbah yang dihasilkan oleh para petani sendiri.

“Jadi konsen utama petani tambak adalah bagaimana bisa mementen air. Memuliakan air. Dari mulai air masuk sampai air kita buang. Intinya itu,” jelas Chandra yang sudah sukses mengelola bisnis ini dari tahun 2015 lalu. (Albar)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.